Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2.87


Aaron bersungut-sungut keluar dari ruang Nathan. Asisten nya itu benar benar membuatnya nya berang.


"Nathan bodoh, dia memang ingin namaku tercoreng di hadapan papa mertua ku. Apa dia sengaja dan senang mendengar pria tua itu mengoceh padaku terus, awas saja.."


Nathan sendiri mengusap dadanya. Ia pikir tuan Aaron akan menendangnya dari gedung ini, ternyata tuannya itu banyak berubah.


"Huh, mereka berdua benar benar membuatku jantungan. Suka sekali mereka menyiksaku, menantu dan mertua itu ingin membunuhku perlahan, sial..."


*


Nicholas menatap wajah cantik Almira yang tak jauh darinya. Istri Aaron itu memang sangat cantik, wanita itu memang racun bagi setiap pria. Gadis yang masih belia dengan perut buncitnya, sedang memilih pakaian bayi.


Nicholas memang sengaja mengikuti Almira. Ia tadi tak sengaja melihat nya berdua di dalam mobil bersama pengawalnya.


"Ternyata kau sangat menjaga wanita itu tuan Aaron." Ucap Nicholas menatap Almira dan kaki nya melangkah mendekati Almira.


Sedangkan Helena yang melihat Bos nya mendekati istri Aaron tersenyum tipis.


"Wanita itu sangat beruntung, kenapa aku tak seberuntung dirinya."


Gumamnya lirih, ia sangat menyesali telah melepaskan Aaron dan menikah dengan pria lain.


Almira tersenyum lebar saat melihat sepatu kecil dan sangat imut. Saat ini kandungan nya sudah memasuki bulan ke sembilan. Dokter sudah memprediksi jika ia akan melahirkan beberapa hari lagi. Dan Almira sudah tak sabar ingin bertemu dengan buah hatinya.


Nicholas menghampiri Almira dan membantunya mengambil sepatu mungil berwarna pink.


"Terima kasih tuan,"


Ucap Almira mendongak menatap wajah pria yang membantunya. Ia melebarkan matanya saat mendapati rekan bisnis suaminya yang membantu nya.


Dan itu terlihat sangat menggemaskan di mata Nicholas. Mata bundar dan besar milik Almira terlihat seperti boneka di matanya.


"Apa kau sendiri nona,?' di mana tuan Aaron.?"


"Anda mencari ku tuan Nicho.?"


Aaron datang dari arah belakang mengagetkan mereka berdua.


Cup...


"Maaf sayang aku terlambat."


Ucap Aaron penuh penyesalan. Ia tadi terjebak macet di jalan, hingga Almira datang lebih dulu di butik baby shop.


"Hubby aku sudah lama menunggu mu, ku pikir kamu lupa. Lihat lah sepatu nya sangat unik dan aku akan membelinya, apa boleh by."


Aaron tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Almira langsung tersenyum lebar mendapatkan persetujuan dari suaminya.


"Hubby mau lihat aku juga sudah memilih baju hangat juga. Baju panjang celana panjang, ada topi rajut juga by, terus aku juga sudah memilih sepatu juga by. Ini sangat imut by. Aku memilih warna yang pink by, Al yakin dia cewek dan cantik seperti Al nanti, ya kan by."


Cup...


"Istri siapa ini yang pintar,?"


Aaron gemas mendengar celotehan istrinya. Baru kali ini ia mendengar Almira bicara panjang lebar padanya, apalagi meminta sesuatu darinya. Mana mungkin ia akan melarang Almira berbelanja. Jika Almira mau ia bahkan bisa membeli tokonya sekaligus.


"Sayang, yang ini juga lucu Al,"


Aaron mengajak Almira mencari baju untuk buah hatinya. Aaron bahkan lupa dengan rekan bisnisnya yang dari tadi melihat nya dan Almira.


Nicholas berdiri mematung melihat senyum lebar Almira pada Aaron. Dia juga menatap Aaron yang sangat antusias memilih pakaian bayi untuk anak mereka.


"Tuan.."


Helena datang dari arah belakang mengagetkan Nicholas.


Nicholas tak menjawab sapaan Helena, ia pergi keluar dari toko Baby shop, ia pikir gadis belia itu tak mencintai Aaron. Ternyata gadis itu juga sangat mencintai suaminya.


*


David melirik tajam pada pria yang berguling di atas ranjang pesakitan.


"Apa kau bisa diam.? Telingaku sakit mendengar rintihan mu sialan."


Aaron tak menggubris umpatan David. Bibir tebalnya merintih kesakitan dan tangannya memegang perutnya sendiri.


"Papa mertua gosok punggung ku, perut ku juga sakit."


Cih....


"Kau menyusahkan ku, sialan."


Tak ayal tangan nya menggosok punggung Aaron naik turun. David duduk di samping Aaron yang baring meringkuk.


"Andai saja bukan kau menantuku, aku sudah menginjak punggung mu. Kau durhaka pada ku, itu sebabnya kau yang menerima akibatnya. Aku senang melihat mu sekarat seperti ini, semoga saja kau merasakan nya berjam jam. Biar kau tau rasa bagaimana rasanya durhaka terhadap mertua. Aku yakin cucuku yang membalasmu karna dia sayang padaku."


Bibir David tak berhenti mengoceh menyumpahi Aaron.


Sudah lebih dari lima jam Aaron menderita sakit perut dan panas di punggung nya.


"Apa aku mau mati,?"


"Ya matilah,"


Aaron melirik sengit ke arah David, yang duduk di belakang nya.


"Apa papa mertua tak bisa lebih keras lagi menggosok nya, coba saja papa mertua yang merasakan nya, punggung ku rasanya mau patah."


Semburnya pada David. David tak merasakan bagaimana sakit dan panas punggung nya saat ini.


"Kau akan semakin bertambah sakit, jika berteriak padaku bodoh."


Balasnya menatap tajam pada Aaron yang berbaring. Saat ini Aaron hanya memakai celana pendek seperti boxer. Aaron berbaring di ranjang pesakitan sejak siang tadi. Tiba tiba saja perutnya melilit merasakan sakit yang luar biasa. Di tambah lagi punggung nya panas seperti terbakar.


"Kenapa dia senang menyiksaku, padahal aku lah yang membuat nya."


"Kau pikir dia tepung.."


"Gosok lagi papa mertua, sakit sekali, rasanya mau patah."


David menghembuskan nafasnya perlahan, ia menatap wajah Aaron yang banyak mengeluarkan keringat di dahinya.


"Apa sakit sekali.?"


Aaron mengangguk mengiyakan ucapan David. Sedangkan David sendiri menggelengkan kepalanya lalu mengambil tisu mengelap keringat di kening Aaron. Tangan nya yang lain mengusap punggung Aaron, pria kekar seperti nya bisa juga merasakan sakit.


Sedangkan di ruang bersalin, Zoya menemani Almira di ruang bersalin. Dokter tak membiarkan Almira melahirkan normal, itu sebabnya Almira menjalani operasi sesar.


"Apa tidak sakit sayang."


Almira menggelengkan kepalanya. Zoya tersenyum tipis, ia tak menyangka jika Almira tak merasakan sakit sama sekali, apalagi putri nya sudah pembukaan jalan lahir. Tapi Almira tak merasakan apa-apa selain hanya lendir yang keluar. Saat di bawa ke dokter jalan lahir sudah pembukaan tiga. Tapi dokter tak menyarankan Almira bersalin normal.


Agrhh...


"Diamlah sebentar lagi sakit nya akan hilang. Kau memang benar-benar menyusahkan ku Aaron. Ingat jika kau sudah sembuh menurut lah padaku. Jadi jika putri ku hamil lagi kau tak akan merasakan sakit seperti ini."


Ocehnya pada Aaron. Aaron sendiri tak menggubris ucapan David padanya.


"Aku dari tadi sudah menurut padamu dan sakit nya tak hilang. Papa mertua kurang keras gosok nya,"


"Ya akan aku gosok lagi, diamlah."