
Satu bulan berlalu...
Zoya menatap kagum pada ballroom hotel. Ia di jemput oleh asisten suaminya datang kemari. Dan ia celingukan mencari keberadaan seseorang.
" Nona, ayo..."
Rey mengagetkan Zoya dari belakang. Tapi Zoya menarik tangan asisten Rey.
"Mas David di mana,?"
"Tuan ada di dalam nona," Zoya mengangguk mengiyakan. Tak lama kemudian ia mengikuti langkah Rey.
"Rey, kenapa kita lewat sini. Bukankah pestanya di sana.?"
"Nona, pesta itu terlalu mewah, jadi tuan sudah menyiapkan gaun untuk anda."
Zoya bingung, kenapa ada dua wanita cantik yang dulu pernah datang ke rumah David. Siapa mereka?
Zoya hanya mendesah lirih. Ia mengikuti langkah dua waria di depannya ini.
"Cin, eke dandanin dulu boleh," Zoya mengangguk mengiyakan.
"Duh Na, kalau gue dapet yang kayak gini. Hemat deh bedak eyke. Di poles dikit aja udah kinclong. Ga usah tebel tebel, nanti justru kayak dedemit."
"Em... Ka suami Zoya mana." Zoya gelisah di tempat nya duduk. Sudah satu jam lamanya ia duduk di kamar ini dan David belum juga kelihatan batang hidungnya.
"Kak, ko pakai gaunnya seperti ini. Ini terlalu mewah, takut rusak."
"Ga papa, kalau rusak suami ye nanti yang gantiin. Ayo pakai ini, nanti keburu tamunya pada pergi."
Zoya mengerutkan keningnya mendengar nya. Sebenarnya ini acara apa? Kenapa harus pakai gaun yang super mahal. Apalagi gaun ini banyak manik manik seperti kristal.
"Nona, tuan David menunggu anda."
Deg....
Rey menatap tak percaya pada wanita cantik di depannya ini. AZZOYA wanita tuannya ini sangat cantik. Dia seperti bidadari, apalagi saat ini dia memakai gaun berwarna putih.
"Asisten Rey, ini gaunnya sangat panjang, dan berat. Apa tuan bisa membantu ku."
Rey mengangguk dan membenarkan gaun panjang Zoya. Mereka berjalan dalam pesta. Tak lama kemudian mata Zoya memanas, melihat David sedang berdiri menunggunya. Dia juga memakai setelan jas senada dengan dirinya. Ia juga melihat putrinya memakai gaun yang sama persis seperti dirinya. David dan Almira bergandengan menatap ke arahnya.
",Rey."
"Ya nona ini adalah pesta pernikahan nona dan tuan."
Mata Zoya memerah, tak terasa bulir bening jatuh di pipinya.
Melihat Zoya yang berjalan ke arahnya. David tersenyum lebar, ia juga meneteskan air matanya. Melihat bidadari cantik berjalan kearah nya.
"Sayang nya Daddy tunggu di sini ya..."
Almira mengangguk dan David segera berjalan menghampiri Zoya.
"Jangan menangis sayang, nanti riasannya rusak."
David menghapus bulir bening di pipi istrinya. Ia lalu menggandeng tangan Zoya membawanya ke atas panggung. Dan Almira, menyambut mereka berdua dengan riang.
"Unda cantik..." Zoya tersenyum lebar.
Sedangkan dari sudut lainnya, wanita cantik menatap tajam pada Zoya. Ia lalu berjalan ke arah belakang.
"Pesta ini akan menjadi pesta yang paling indah untuk mu Zoya."
Ia menipiskan bibirnya, matanya tak lepas melihat Zoya yang tersenyum lebar pada tamu. Dia sudah dari tadi ada di sana.
Setengah jam kemudian, David merasa ada yang salah dengan dirinya. Ia menggelengkan kepalanya mengusir rasa pusing dan panas secara bersamaan.
"Mas David, kenapa?"
"Tidak sayang..."
"Apa ada yang salah dengan ku. Kenapa pusing, dan lagi pesta baru saja di mulai setengah jam lalu. Apa aku harus keluar dulu, meninggalkan Zoya."
David bergumam lirih, pandangannya semakin mengabur.
Ia baru sadar apa yang di alaminya saat ini. Matanya melirik ke sembarang arah. Ia tau ada yang ingin menghancurkan pesta pernikahan nya dengan Zoya.
Gigi David gemerutuk menahan emosi dan rasa panas yang semakin menjalar.
"Sayang...."
David menyeret Zoya meninggalkan pesta. Sementara Zoya yang tak siap terseok seok, mengikuti langkah David. Sementara di atas panggung, Sinta menatap heran pada David. Tak lama kemudian ia melotot kan matanya.
"Apa kalian tak bisa menunggu sampai selesai."
Sinta mendengus, ia menyalami tamu yang hadir. Malu, jelas saja wanita paruh baya itu malu dengan tingkah sang anak. Tapi mau di apa, tak mungkin juga ia akan menyerat David kembali lagi kemari.
"Mas, kita mau kemana? pestanya baru di mulai."
Ting....
David mendorong Zoya kedalam. Ia sama sekali tak mendengarkan ucapan Zoya. Nafasnya semakin memburu, hasrat dalam dirinya naik drastis.
"Mas...."
Zoya bingung dengan David, kenapa ia kasar sekali. Tak lama kemudian pintu lift terbuka. David juga menyeret Zoya masuk ke dalam kamar. Zoya sendiri meringis merasakan sakit di lengannya.
"Mas...."
Brakk..
Zoya berjengit mendengar pintu yang di tutup kasar. Pandangan David semakin mengabur. Ia sama sekali tak dengar dengar ucapan Zoya. Hasratnya memuncak seketika, itu sebabnya ia menyeret Zoya pergi dari pesta.
Tak....
Bug....
Seketika lampu padam dan Zoya merasakan sakit di belakang kepala nya.
Sementara David, tubuhnya terhuyung ke belakang. Saat seseorang mendorongnya ke arah ranjang.
Tanpa menunggu lagi David menyambar bibir di depannya. Rasa panas yang menguasainya, seketika melambung. Saat tubuhnya bergesekan dengan lawan jenis yang sudah polos. Apalagi hanya ada sedikit cahaya yang masuk. Menjadi kesan tersendiri untuk menjamah tubuh di sampingnya.
Uh....
David melenguh panjang saat tangan itu menekan miliknya. Tangannya sendiri melepaskan pakaian yang di kenakan nya dengan terburu buru. Apalagi tangan sang wanita tambah meremas miliknya, dan memainkannya membuat David semakin melenguh. Bibir nya kesana kemari membuat tanda merah di seluruh tubuh sang wanita. Mata yang berkabut dan lampu yang remang, bertambah rasa yang panas di dalam tubuhnya semakin membuat David menggila.
Ah....
Tanpa aba aba David menyatukan milik mereka dan menekan lebih dalam lagi miliknya. Ia bergerak naik turun dengan ritme cepat. Rasa panas yang semakin meningkat membuat ia dengan kasar dan brutal bergerak naik turun.
Ah....
Suara ******* keduanya, memenuhi ruang kamar yang cukup luas. Sementara di lantai dingin. Zoya meneteskan air matanya. Mendengar sendiri suaminya bercinta dengan wanita lainnya. Bibirnya kelu yang hanya sekedar memanggil nama suaminya. Antara rasa sakit di kepalanya dan telinga yang mendengar ******* semakin kencang.
"Mas...."
Zoya menutup matanya perlahan, kesadaran nya menghilang akibat hantaman keras di belakang kepala nya.
Sementara David, ia tak mendengar suara Zoya yang memanggil nya. Rasa panas yang menguasainya, menulikan pendengaran seorang David. Apalagi ia tak memberikan sang wanita melawan. Dengan liar ia bergerak naik turun di atas sang wanita. Apalagi bibir itu juga sesekali akan menyesap dua gunung kembar secara bergantian. Memberikan tanda merah di seluruh tubuh polos di bawahnya.
Uh....Ah...
Mendengar suara desah sang wanita semakin membuatnya terbakar. Ia mempercepat gerakannya semakin liar memompa sang wanita di bawah kungkungan nya.
Hingga suara erangan panjang David menggema si seluruh penjuru kamar.
Ah.....
Bruk...
David ambruk di atas tubuh polos sang wanita. Tak sampai di situ, sepuluh menit kemudian David menyerang lagi sang wanita. Hingga berkali kali, David mengerang diatas tubuh polos sang wanita.
Ah.....
Nafas David memburu, ia langsung memejamkan matanya. Akibat lelah yang mendera, kesadaran menghilang. Apalagi hasrat yang memuncak telah tersalurkan bahkan berkali kali.
.