
Zoya menatap tak percaya pada David. Pria itu dengan senang hati menyuapi putrinya makan.
"Zoy duduk lah"
Paman Ridwan mengagetkan nya, ia lalu menoleh ke arah David. Mengambil piring dan menuangkan nasi, makan dengan perasaan yang entah. Semenjak kedatangan David, putrinya benar benar menempel padanya.
"Nak David, maaf jika paman lancang. Paman dan bibi tak bisa tinggal di sini. Apa nak David benar benar menjual rumah kami."
"Ya..'"
Ridwan mendesah kecewa, ia tak mungkin tinggal bersama David di sini. Mereka berdua bukan siapa siapa bagi mereka. Lagi pula ia yakin, Zoya akan bahagia bersama nya. Meski David terlihat dingin dan cuek, tapi ia yakin David pria yang bertanggung jawab.
"Paman.."
"Nak David, apa uang itu masih ada,? Maaf jika paman lancang. Tapi paman ingin hidup mandiri. Kami tak biasa hidup menumpang."
"Paman.."
"Paman percaya kamu bisa menjaga Zoya dan putrinya."
Bibir Zoya tertutup rapat, ia menatap tak percaya pada pamannya yang tega meninggalkan nya bersama David.
"Paman akan tinggal tak jauh dari sini. Aku sudah membelinya untuk paman."
Ridwan dan istrinya terkesiap mendengar penuturan David. Mereka tau di sini tak ada rumah yang kecil. Ini adalah kompleks perumahan mewah.
"Tidak usah, nan_"
" Aku berangkat dulu.."
Tak ada yang berani bersuara, baik Zoya maupun Ridwan dan istrinya. Mereka tak ada yang berani membantah David.
*
David melangkahkan kakinya menuju ruangan CEO berada. Nancy, menyambutnya dengan senyum menawannya. Seperti biasa, Nancy memakai pakaian yang seksi. David muak melihat nya.
Ia melirik tajam pada Rey, asisten nya hanya menundukkan wajahnya. Rey tau apa yang tuannya maksud.
"Ganti dia..Aku sudah memperingatkan mu Rey. Jauhkan wanita itu dariku,?"
"Baik tuan, tapi siapa yang akan_"
"Zoya, yang akan mendampingiku."
Rey hanya mengangguk mengiyakan, ia hanya memikirkan bagaimana caranya mengatakan pada Nancy.
*
Nancy mengerutkan keningnya, mendapati ruangan CEO yang kosong. Ia juga tak melihat asisten Rey di ruangannya. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju ruang meeting.
Clek...
Nancy semakin bingung, mendapati ruang meeting. Sepertinya, mereka sedang membahas tentang perusahaan. Tapi kenapa ia tak di beri tau, dan lagi kenapa tuan David tak mencarinya.
Setengah hari lamanya ia di ruang pemasaran bersama teman yang lainnya. Rey, pagi tadi menyuruhnya untuk membantu rekan kerjanya di sana. Dan Nancy mengiyakan, lalu pergi ke sana. Hingga jam sebelas ia kembali lagi ke ruangan nya ternyata dia tak mendapati David di ruangan CEO.
Nancy mengerutkan keningnya mendapati Zoya di samping David. Untuk apa perempuan itu ada di sana. Dan lagi dia seperti mencatat sesuatu.
Sadar, Nancy mendelik kan matanya. Jika saat ini Zoya telah menggantikan posisi nya.
"Maaf nona, silahkan tunggu di luar. Tuan David sedang meeting."
Tanpa menunggu jawaban dari Nancy, Rey menutup pintu rapat. Lalu berjalan ke posisi semula.
Nancy sadar bahwa saat ini Zoya sedang menggantikan posisinya. Apa maksudnya ini?
David melangkahkan kakinya menuju ruangan CEO berada. Zoya yang berjalan di sampingnya sama sekali tak menoleh kiri kanan. Ia belum terbiasa dengan perubahan dalam hidupnya. Dari yang membuat kue mengantar dan mengurus anak. Tiba tiba saja berubah memegang pulpen notebook di tangannya.
Buk...
Zoya terhuyung kebelakang saat tubuh ringkih nya menabrak dada bidang David. Sedangkan David dengan sigap melingkarkan tangan kanannya pada pinggang ramping Zoya.
Melihat wajah David yang semakin dekat Zoya menegakkan tubuhnya sambil berkata bahwa ia harus menelpon putrinya.
"Maaf tuan, saya harus menelpon Al,"
David kecewa pada istrinya. Sebenarnya ia juga gugup setengah mati. Tapi mendengar penolakan Zoya secara halus menyadarkan nya. Jika Zoya belum bisa menerima dirinya sebagai suami.
Ia lalu membuka pintu dan masuk ke dalam. Sementara Zoya, pergi ke samping untuk menelpon putrinya. Tadi pagi ia tak pamit dengan Al. Itu sebabnya ia takut jika putrinya mencarinya.
Saat Zoya pergi, ke sini. Paman, bibi dan juga putrinya pergi melihat rumah baru pamannya. Ya david memaksa mereka menempati rumah barunya. Rumah berlantai dua yang David beli untuk pamannya. Sedangkan rumahnya yang lama David benar benar menjualnya. Rupanya pria itu tak main main dengan omongan nya.
Nancy menatap benci pada wanita berkerudung merah marun yang sedang menelpon seseorang. Ia mengikuti Zoya yang pergi ke arah toilet. Rasa cemburu dan benci terhadap Zoya yang beraninya menggantikan dia saat meeting. Ini pasti ulah Zoya. Wanita itu pasti menghasut David agar mengajaknya ke kantor. Dan pasti dia yang pergi ke ruang pemasaran juga pasti karna ulah Zoya.
Bukankah tadi saat pagi David hanya berdua dengan asisten nya Rey. Lalu kenapa tiba-tiba saja perempuan ini datang ke kantor.
Setthh...
Zoya membalikkan tubuhnya saat seseorang menyentak bahunya. Ia melihat wanita berpakaian seksi, menatapnya tajam. Ada apa, apa dia punya salah dengan nya.?
"Nona, maaf ada yang bisa saya bantu?"
Plakk...
Zoya menyentuh pipi kirinya yang terasa panas, akibat tamparan keras Nancy. Matanya terpejam dan bibirnya beristighfar.
Ada apa, kenapa wanita ini menamparnya, apa dia punya salah.?
"Nona,"
"Apa yang kau inginkan sebenarnya. Aku tau kau bukanlah wanita baik baik. Kau sudah menjebak tuan David agar menikahi mu bukan."
Zoya menggelengkan kepalanya mendengar tuduhan Nancy. Dia sama sekali tak pernah ingin menjebak David. Apalagi menjadi istri seorang David Aderson.
"Maaf anda salah faham,"
Cih...
Nancy berdecih mendengar pembelaan Zoya. Semalam ia mengetahui dari warga sekitar rumah Zoya. Jika David terpaksa menikah dengan Zoya. Rupanya Zoya yang telah menjebak David agar mau menikahinya.
Menurut warga sekitar almarhum suami Zoya meninggal karna Zoya yang selingkuh. Sehingga almarhum suaminya juga berselingkuh hingga meninggal dunia kecelakaan.
"Jangan sok polos nona Zoya. Kau wanita rendahan dan miskin, mencoba untuk mengikat seseorang yang sangat kaya, untuk mengubah hidupmu bukan."
"Tidak nona,"
"Jangan kau pikir, karna kau adalah istri tuan David, aku akan takut padamu. Aku akan menyingkirkan mu. Tuan David tak pantas mendapatkan wanita seperti mu,"
Nancy mencengkram dagu Zoya dan menghempaskan nya. Lalu berbalik dan melenggang pergi meninggalkan Zoya. Cemburu melihat wanita itu berada di samping David. Apalagi dia adalah istri David Aderson. Pria yang ia incar, semenjak David datang ke kota B.
Dan dengan tak tau malunya Zoya menjebak David agar menikahinya.
"Aku tak akan membiarkan kau merebut David dari ku, wanita sial.."
Tangannya terkepal erat, mengingat David yang sudah berstatus sebagai suami seseorang. Padahal sudah tiga minggu ini dirinya, mencoba untuk merayu pria itu. Entah kesialan apa ia tak tau jika David telah di jebak.
Andai dia tahu pasti David tak akan menikahi Zoya.
.
.
Bantu dukungannya bunda
vote dan hadiah 😌
.
.
.