Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 33


Aaron membaringkan tubuh istrinya dan mencium keningnya. Nafasnya memburu menahan gejolak gairah yang membuncah. Mengingat jika gadis belia yang saat ini ada di pelukan nya menerimanya sebagai suami. Meski ada rasa kecewa, Aaron tak akan mengambil hati. Wajar saja jika Almira pun berpikir jika ia menikahi nya karna ibunya. Tapi yang sebenarnya ia menikahinya karna dia lah gadis yang membuatnya gila dengan mata bundar dan besarnya. Hatinya sudah terpaut jauh sebelum dia remaja.


"Maafkan Om.."


Almira tersenyum, ia mengangguk dan memeluk tubuh besar Aaron. Tentu saja Aaron balas memeluk tubuh mungil Almira. Ia menyembunyikan wajah Almira di dada bidangnya. Nafasnya masih memburu menahan hasrat yang terpendam untuk Almira. Delapan tahun, ia selalu menyalurkan gairah **** nya dengan wanita bayarannya dan juga Queen.


Wanita yang sejak lama mengejarnya sampai bertingkah gila di depannya.


Ia tak akan membiarkan wanita gila seperti Queen menghancurkan rumah tangga nya yang baru saja di mulai. Ia tak akan mudah percaya begitu saja jika dialah yang mengambil keperawanan Queen. Saat menyentuh Queen tak ada apapun yang menghalangi milik nya saat pertama kali mereka menyatu. Dan Queen mengatakan jika dialah yang telah mengambil nya.


"Aku tidak bodoh Queen,"


Aaron mengeratkan pelukannya pada Almira, ia tak ingin kehilangan gadis yang sudah lama ia inginkan. Gadis yang sudah mencuri hatinya delapan tahun lalu.


"Om sesak,"


Aaron kaget ia langsung melepaskan pelukannya pada istrinya dan menatap wajah nya. Tak lama ia terkekeh kecil saat melihat hidung kecil Almira kembang kempis menghirup udara.


"Maaf.." Cup....Tak ada yang paling membahagiakan bagi Aaron selain Almira. Gadis yang selalu menghantuinya dengan mata bundar dan besar milik nya.


Tok...Tok...


Aaron mendengus mendengar suara pintu di ketuk, inilah kenapa dia tak ingin tinggal dengan mertuanya. Apalagi mertuanya sangat membencinya, pasti mereka berdua tak akan membiarkan bermesraan dengan istrinya seperti ini.


"Awas saja,"


Gumamnya dalam hati. Sedangkan Almira bangun dan membuka pintu.


"Oma,"


Sinta tersenyum, ia melirik ke dalam, terlihat Aaron sedang menatap ponsel miliknya.


"Ayo makan siang sayang,"


Almira mengangguk, Sinta memang menyayangi Almira. Cucu sambungnya yang sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri. Gadis inilah yang ia rawat saat Zoya sakit dan David koma. Mengingat perjuangan keluarganya tak terasa jika Almira sudah menikah saat ini.


"Ayo turun sayang, tunggu Oma yah."


"Ya Oma."


Setelah Almira pergi, Sinta masuk ke dalam kamar nya. Ia menatap wajah Aaron yang memang sangat tampan. Pahatan sempurna bak dewa Yunani di wajah dan rahangnya. Ia tak menyangka pria ini dulu sempat ingin menghancurkan rumah tangga putranya dan sekarang menjadi cucu menantu nya.


Melihat wanita tua itu menghampirinya, Aaron berdiri. Ia menatap wajah tua yang masih terlihat cantik.


"Maafkan kelancangan saya nyonya."


Sinta mengangguk, ia duduk di kasur milik Almira. Ia tersenyum menatap tinggi Aaron yang jauh lebih besar dari Almira. Ia membayangkan bagaimana jika Almira.....


Sinta menggelengkan kepalanya mengusir pikiran kotornya terhadap cucunya sendiri.


Dan Aaron tersenyum tipis, ia tau apa yang ada di pikiran wanita tua yang duduk di depannya. Dia sendiri juga bingung bagaimana dengan malam pertama nya nanti dengan Almira. Jangan sampai gadis itu menangis dua hari dua malam dan mengadu pada David nantinya.


"Apa kau mencintai cucuku.?"


Lamunan Aaron buyar dengan pertanyaan wanita paruh baya di depannya.


"Almira adalah anak yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya sendiri, dia juga tak di inginkan."


Deg... Aaron baru mengetahuinya tentang Almira yang ini, yang ia tau Almira bukan anak kandung David, dan ayah kandungnya sudah meninggal, hanya itu. Ia menatap wajah tua yang mengusap air matanya.


" Kami tak pernah memperlakukan Almira kasar dan keras. Mungkin karna ini dia terlalu percaya begitu saja pada orang asing seperti mu." Sinta tersenyum dan melirik ke arah Aaron yang menjulang tinggi. Sedangkan Aaron, dia tak sakit hati atau pun marah. Pada kenyataannya memang dia lah yang brengsek.


"Jika kau benar benar mencintai cucuku, jangan sakiti dia, kembalikan dia ke tempat asalnya jika kau tak mencin_"


"Sampai matipun aku tak akan mengembalikan Almira, dia istriku, Almira adalah istri ku nyonya. Aku memang bukan pria baik baik nyonya. Aku pria yang bebas, sebagai pria yang normal aku juga tak menampik jika aku melepaskan hasrat ku pada banyak wanita. Tapi percayalah, semenjak aku ingin menikahi Almira aku tak pernah menyalurkan gairah ku lagi. Hanya Almira yang ku inginkan, dan hanya dia yang kucintai,, hanya dia yang akan menjadi ibu dari anak anakku nyonya. Maaf jika semua tak seperti yang kalian harapkan, bukankah jodoh bukan kita yang mengaturnya."


Sinta lagi lagi mengangguk, ia percaya pada pria di depannya ini. Aaron benar jodoh dan maut sudah di takdirkan.


Sementara Zoya yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka hanya meneteskan air matanya. Mungkin dialah pria yang akan menjadikan Almira sebagai wanita dewasa. Aaron, pria yang sudah berselisih paham dengan suaminya itu ternyata jodoh putri nya.


" Maaf jika David tak menyukaimu, apa kau menikahi Almira secara sah, atau kau hanya menipu kami. Sepertinya kau bu_"


"Aku muslim"


Aaron lebih dulu memotong perkataan wanita tua yang berada di depannya ini.


Dan Sinta bernafas lega begitupun dengan Zoya.


"Ayo, turun kebawah ini sudah jam makan siang, Al pasti sudah menunggu mu."


Aaron mengangguk mengiyakan, tak lama kemudian ia berbalik, mata tajam nya bertabrakan dengan mata Zoya yang berdiri di depan pintu. Mata wanita itu juga sembab, mungkin saja kedua wanita itu menghawatirkan Almira. Tentu saja, Almira memang gadis yang baik. Mengingat itu ia merasa bersalah dan tak pantas mendapatkan Almira. Tapi ia tak bisa hidup tanpa Almira, ia akan berjuang lebih baik lagi agar kedua wanita ini menerimanya sebagai menantu.


Aaron berjalan melangkah keluar, tapi ia menghentikan langkahnya di samping Zoya.


"Maaf aku memang bukan pria baik, tapi aku mencintai putri mu, aku akan membahagiakan putri mu sampai kau dan suamimu pun akan iri dengan nya suatu saat nanti."


Aaron melangkah keluar dengan langkah yang sedikit ringan. Setidaknya ia sudah mengatakan yang sejujurnya jika ia sangat mencintai Almira.


Sedangkan Zoya menangis segukan, ia memeluk tubuh wanita tua yang menjadi ibu mertuanya.


"Sudah jangan menangis, bunda yakin Almira sudah berada di tangan yang tepat. Restui putri mu, berikan dia doa yang terbaik. Jangan tinggikan ego kalian, Almira akan dewasa dengan suaminya."


Zoya mengangguk mengiyakan ucapan ibunya. Tak jauh dari sana David juga bisa mendengar pembicaraan mereka. Bukan niat menguping, tapi dia berniat memanggil istrinya agar turun ke bawah dan mengajaknya makan. Memang ia tak terlalu jelas mendengar pembicaraan Aaron dan ibunya, tapi ia bisa mendengar dengan jelas jika Aaron benar benar mencintai putri nya.


.


.


Sertakan like komen bunda, beri dukungan VOTE dan hadiah juga ❤️❤️