
Nathan menghembuskan nafasnya perlahan di dalam mobil saat melihat tubuh Rodric yang terkapar di aspal begitu saja. Tuannya sama sekali tak memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengusik hidup nya bersama gadis impiannya. Padahal Aaron tak sesadis ini jika lawannya tak berdaya seperti ini. Dan karna gadis belia bernama Almira Putri Yudistira ia bahkan tak memberikan perlawanan terlebih dahulu.
Tak lama kemudian Nathan menelpon anak buahnya untuk mengurus dua mayat yang tergeletak di pinggir jalan.
"Kita pulang," Titah Aaron pada Nathan.
"Bagaimana dengan luka anda tuan.?"
"Aku akan baik-baik saja, dan jangan beritahu istriku."
Nathan mengangguk mengiyakan ucapan tuannya. Tak lama ia melihat tuannya yang akan berbuat gila.
"Tuan kita ke rumah sakit."
Aaron tak menggubris ucapan Nathan, ia mengambil pisau nya dan menyiram lukanya dengan wine yang tersimpan di dalam mobil. Nathan menghembuskan nafasnya perlahan, melihat aksi tuannya, ia turun dari kursi kemudi dan beralih ke belakang. Ia membantu tuannya mengeluarkan peluru di lengan nya.
Srakk..
Nathan merobek kemeja tuannya dan menyiram lagi luka tuannya dengan wine.
Aaron sendiri memejamkan matanya saat merasakan ujung pisau lipat nya masuk ke dalam dagingnya.
"Ini terlalu dalam tuan."
Aaron menatap tajam pada Nathan di depannya, tak lama kemudian Nathan memasukan ujung pisau nya lebih dalam. Ia melirik ke arah tuannya yang tak merasa kan sakit sedikit pun.
Ia bernafas lega saat berhasil mengeluarkan peluru yang tuannya terima dari tangan kanan Rodric.
"Bagaimana dengan lukanya tuan,?"
Nathan bingung, di dalam mobil sama sekali tak ada apapun untuk membalut luka tuannya. Apalagi saat melihat darahnya yang keluar semakin banyak.
"Kita ke apotik,"
Nathan mengangguk dan beralih ke kursi kemudi. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apotik terdekat. Matanya melirik ke belakang melihat luka tuannya yang semakin banyak mengeluarkan darah. Terlihat mata tuannya yang terpejam. Untung saja peluru itu mengenai lengannya.
Nathan memarkirkan kendaraan nya di depan apotik dan turun dari mobil. Aaron sendiri menatap jauh ke depan. Ia masih memikirkan Almira yang marah padanya. Bagaimana merayu istri nya yang sedang marah padanya.
Tak lama kemudian Nathan mengagetkan nya.
"Apa kita tak ke rumah sakit saja tuan.? luka anda cukup dalam kali ini."
Nathan menghembuskan nafasnya perlahan, percuma saja berbicara dengan orang yang sedang melamun.
Ia fokus membersihkan luka tuannya dan menutup lukanya dengan perban.
"Kita pulang..."
Nathan mengangguk lagi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sedangkan Aaron membuka dan membuang pakaian milik nya dan menggantinya di dalam mobil. Ia tak mau istrinya khawatir padanya.
"Nona Queen ada di depan mension tuan."
Nathan menatap reaksi tuannya terhadap wanita yang mengaku sebagai kekasih nya. Wanita itu memang tak kapok dan kekeh menginginkan tuannya. Padahal Aaron sudah memperingatkan dan mengusir nya dari dalam mension. Tapi wanita itu tetap saja datang mencari tuannya.
Aaron sendiri tak menjawab, ia tak akan membiarkan wanita seperti Queen menghancurkan rumah tangga nya.
"Sudah ku bilang Queen, aku bukan pria yang bodoh."
"Percepat mobil nya."
*
Queen berjalan keluar dari butik miliknya, ia akan pergi ke mension Aaron lagi. Ya ia tak boleh menyerah untuk mendapatkan Aaron, apalagi jika harus bersaing dengan gadis belia seperti putri Zoya. Jelas saja tubuhnya jauh lebih bagus di banding dengan gadis belia itu.
Queen mengumpat pria yang ia sewa untuk memata matai Almira di rumah Aaron. Dan ia juga menyuruh nya agar menculik atau menakuti istri Aaron. Ia yakin jika gadis belia itu akan memberikan Aaron padanya dan menjauh dari kehidupan Aaron.
"Brengsek.."
Berkali kali Queen menghubungi pria itu tapi tak satupun panggilan nya di jawab. Apalagi nomor ponsel nya sekarang justru tak aktif.
"Kemana dia, apa dia melarikan diri,....Sialan aku sudah membayar nya sangat mahal dan dia pergi begitu saja."
Umpat Queen berkali kali, ia lalu melajukan mobilnya menuju mension Aaron. Queen tak kapok pergi ke mension Aaron, baginya Aaron tak boleh meninggalkan nya begitu saja. Meski Aaron sudah mengancamnya dan melukainya tapi ia tak mungkin menyerah begitu saja.
"Aku merindukanmu Aaron, kenapa kau melakukan ini padaku. Kau melukaiku dan menyakitiku aku diam saja. Tapi kenapa kau harus melupakan aku demi gadis belia itu. Apa hebatnya dia dengan tubuh yang kecil dan sangat kurus.,"
Queen menangis segukan di dalam mobil, bahkan gadis belia itu sama sekali tak terpengaruh dengan ucapan nya saat ia mengatakan jika Aaron sering membawanya ke mension dan bercinta dengan nya. Ia tak tau harus apa untuk merebut Aaron dari gadis sialan itu. Semua usaha nya justru membuat Aaron semakin jauh darinya.
"Apa kau sangat mencintai gadis itu Aaron."
Queen menangis di dalam mobil, andai saja ia memiliki anak dari Aaron, mungkin saat ini hidupnya sangat bahagia. Tapi Aaron selalu memakai pengaman saat bercinta dengan nya.
*
Sementara Almira yang bangun dari tidur nya, menghembuskan nafasnya perlahan. Bukankah ia tadi di ruang kerja milik suaminya. Dan ia sekarang sudah berada di dalam kamarnya. Itu artinya suaminya memindahkannya kemari. Tentu saja pria itu bisa masuk ke mana saja, bukankah ini mension milik nya. Ia mengusap pipi nya yang basah. Kemudian berjalan ke kamar mandi mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajiban nya.
Lima belas menit kemudian ia masih tak mendapati keberadaan suami nya masuk ke dalam kamar. Ia berjalan ke arah balkon, matanya menyipit melihat seorang sedang berdebat dengan penjaga.
Tak lama kemudian ia keluar dari kamar nya.
"Nyonya, anda tak boleh keluar dari mension."
Mic mengagetkan Almira dan sudah berdiri di depannya tiba-tiba.
"Itu seperti nya ada orang,"
Ucap Almira pada penjaga. Sedangkan Mic hanya melirik sekilas, ia tak berani menatap wajah cantik Nyonya nya.
"Bukan apa apa nyonya."
Almira mengerutkan keningnya mendengar jawaban pengawalnya, tak lama kemudian ia mengangguk mengiyakan.
Almira turun dari kamar nya dan ia heran menatap pria yang berdiri di depan pintu kamarnya tadi mengikutinya dari belakang.
"Maaf kenapa tuan mengikuti ku,?"
"Maaf nyonya,"
Almira menghembuskan nafas nya perlahan. Ia menatap di sekeliling nya, dan tak melihat keberadaan suaminya.
"Tuan pergi keluar sebentar nyonya,"
Ucap Mic yang tau jika nyonya nya mencari keberadaan tuannya. Almira mengangguk mengiyakan, dalam hati kecilnya masih merasa sakit jika Aaron tak menginginkan anak darinya. Apalagi saat mengingat jika suami nya meminta nya meminum obat pencegah kehamilan dan dia mengatakan jika itu adalah vitamin.