
Orang tua Rania terduduk lemas setelah mendengar penjelasan putrinya. Ia tak menyangka Rania akan berbuat nekat, dan akhirnya seperti ini.
"Mommy sudah mengatakan jangan sampai kau berbuat ulah lagi Rania. Sekarang sudah seperti ini, kau tak bisa memiliki keturunan Rania."
Rania tak menjawab, ia hanya menatap kosong jauh ke depan. David benar benar tak pernah main main dengan ini. Malam kemarin ia bercinta dengannya. David menyentuh nya sampai ia kesakitan. Tentu saja David akan kehilangan kendali, dia yang sudah memberinya obat perangsang. Dia juga yang melemparkan tubuhnya. Rania sangat menyukai David saat memasuki nya. Milik David benar benar berbeda dari Rangga. Apalagi di tambah dengan obat laknat itu, David tak membiarkan ia istirahat barang sedetikpun.
Tak di sangka percintaan panas mereka membuat nya menyesali seumur hidupnya. Tak hanya pincang dia juga tak bisa melahirkan seorang anak.
"Tidak mungkin..."
Rania mengalihkan pandangannya pada ayahnya. Ia meneteskan air matanya, melihat ayahnya bicara di telepon genggam miliknya.
"Kumohon Dav, jangan lagi,"
Rania tak sanggup lagi mendengar jika terjadi sesuatu di perusahaan milik ayahnya. David tak boleh melakukan hal kejam ini padanya.
"Investor menarik paksa saham yang mereka miliki di perusahaan kita."
Baik Rania maupun istrinya hanya bisa menangis mendengar nya. Tapi tidak dengan Erick, di berbalik dan pergi meninggalkan mereka.
Di sinilah Erick berada, di depan pintu rumah mewah David. Bersamaan dengan Sinta yang baru keluar dari mobilnya. Sinta mengerutkan keningnya mendapati mantan calon besannya. Untuk apa Erick datang kerumahnya.
"Di mana putramu Sinta?" Sinta kaget mendengar bentakan Erick untuk nya.
"Erick ada apa,?"
"Katakan saja padaku, David, David keluar kau brengsek."
Sinta bertambah bingung, Erick berteriak keras memanggil putranya. Apalagi mereka masih diluar. Dan David yang baru saja keluar dari kamar putrinya, mengerutkan keningnya mendapati pembantu yang berdiri di depan pintu.
"Ada apa?"
"Di depan ada seseorang yang mencari tuan." David melangkah keluar, ia tau siapa dia.
Clek...
David tersenyum miring melihat kedatangan Erick di rumahnya. Sementara Sinta sendiri masih berdiri di sana. Ia tak mengerti, apa ada yang ia lewatkan. Bukankah hubungan di antara mereka baik baik saja.
"Kau pria biadap, kau sudah menghancurkan putri ku."
David mengibaskan tangannya saat Erick menyentuhnya. Tubuh Erick terhempas dan terhuyung ke belakang begitu saja. Sementara Sinta sendiri shock melihat pertengkaran mereka berdua. Ia tak mengerti dengan semua ini. Sudah tiga tahun lalu mereka, tak pernah bertemu. Itu juga, setau dirinya, dan tiba tiba saja mereka bertengkar.
"David ada apa.?"
"Putra mu brengsek, dia menghancurkan putri ku, Sinta."
"Putrimu memang pantas mendapatkan nya." David menatap tajam wajah Erick. Ia sama sekali tak merasa bersalah sedikitpun. Rania memang pantas mendapatkan nya.
"Kau pikir aku akan membiarkan benihku tumbuh di rahim putrimu yang murahan itu. Jangan bermimpi Erick, wanita ****** seperti putri mu tak pantas mengandung anakku." Wajah Erick merah padam, ia mengeratkan giginya emosi, mendengar putrinya di hina oleh David.
"Brengsek...."
Krek...Ark...
David memutar tangan Erick, yang mencoba menyentuh wajahnya.
Sinta masih berdiri di tempatnya, ia shock melihat Erick hendak melayangkan tinjunya pada putranya.
"Tapi kau tak harus membuat dia cacat. Dia tak akan menjadi wanita normal, gara gara kau. Kau sangat keterlaluan pada kami, tak bisakah hanya menggugurkan saja. Lagi pula belum tentu Rania akan hamil. Kau juga sangat keterlaluan, kau yang membuat semua investor agar menarik saham mereka padaku, brengsek."
"Itu akibat nya sudah mengusik hidup ku. Pergi dari sini.." David melepaskan cengkraman tangannya.
Sinta menatap David, meminta penjelasan dari nya. Tak lama kemudian Erick di geret paksa oleh penjaga rumah David. Dan Erick meronta di tarik paksa oleh mereka.
"Brengsek, David sialan, putri ku kau hancurkan."
Erick berteriak kencang meluapkan emosi nya. Ia seperti ingin membunuh David yang sudah membuat putrinya hancur. Sedangkan David menulikan pendengaran nya. Tak perduli dengan Erick yang berteriak.
"Apa maksudnya David.?"
"Seperti yang mommy dengar, di pesta pernikahan kami. Rania menjebak ku mom. Dia memberikan obat perangsang padaku. Dan aku bercinta dengan nya, aku tak ingin anakku tumbuh di rahim wanita seperti_"
"Dan kau mengangkat rahim Rania."
"Maaf," David berbalik, ia tak ingin berdebat dengan mommy nya. Apalagi tentang wanita murahan bernama Rania. Sementara Sinta sendiri menatap nanar punggung David. Apa Zoya mengetahuinya,?
Sinta menatap cucu sambungnya, Almira. Ya ia tau jika gadis kecil ini adalah korban dari keegoisan ayahnya. Dan David baru saja menyatakan jika dia juga melakukan kesalahan.
"Kasihan sekali kau dan ibumu, Oma menyayangi kalian."
"Bunda.."
Sinta berjengit kaget, ia menghapus pipinya yang basah. Lalu menoleh ke arah wanita cantik yang menjadi menantunya. Ia menatap wajah Zoya, mata sayu miliknya seolah menghisap seseorang yang memandangnya. Zoya adalah cerminan hidupnya, di hianati sang suami akibat keserakahan nafsu bejatnya. Lalu bagaimana dengan David, putranya.
"Bunda ada apa..?"
"David menyakiti mu Zoy, jika kau tak bahagia bersama putra bunda. Bunda ikhlas, bunda tak ingin kau dan putrimu menderita. Bunda baru tau, saat pesta pernikahan, David melakukan kesalahan."
"Bunda, mas David tak sengaja melakukannya. Zoya mencintai mas David, Zoya yakin mas David tak akan menyakiti Zoya dengan keadaan sadar. Bukankah feeling istri selalu benar. Aku memaafkan mas David dengan segenap hati dan cinta Zoya. Lagi pula, Zoya bukanlah gadis yang akan menuntut mas David sempurna."
Sinta memeluk menantunya ia menangis mendengar penuturan Zoya. Ya Zoya wanita yang kuat, tak seperti dirinya dulu. Di perlakukan kasar oleh Dewa hanya diam saja. Hingga David sendiri yang membawanya pergi.
David mengusap pipinya yang basah, ia tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Ya Zoya, wanita cantik berhati mulia. Ia dengan mudah memaafkan kesalahannya. Mana mungkin ia akan melepaskan bidadari seperti Zoya. Sampai matipun David tak akan melepaskan Zoya.
*
"Nia,"
"Maafkan Nia mom,"
Rania segukan di ranjang pesakitan, ia menyesal telah melakukan hal gila. Dan semua itu tak bisa kembali, ia tak bisa merasakan bagaimana mengandung.
Argkkk...
"Rania... Sayang... Dokter..."
Ibu Rania berteriak keras memanggil dokter, melihat Rania yang menjambak rambutnya sendiri dan memukul perut yang di perban. Ia menangis melihat keadaan putri nya yang hancur. Ia juga tak menyangka akibat perjodohan sepihak membuat mereka jatuh terpuruk dan Rania hancur, putrinya tak lagi bisa menjadi wanita normal.
Hai Mak Plis mohon bantuannya. beri dukungan otor di sini, dengan cara beri VOTE dan hadiah.