
Zoya melangkah lesu menuju ruangan CEO berada. Ia akan mengambil tas dan pergi dari sini. Memang benar kata wanita tadi, jika dia tak pantas bekerja di perusahaan ini. Meski dia lulusan terbaik, tapi dia sama sekali tak punya pengalaman kerja sebagai sekertaris.
Clek...
"Dari mana sayang, apa Al menangis.? Kenapa lama sekali."
David memberondong Zoya dengan pertanyaan nya. Karna Zoya tadi pergi nya lama. Mungkin saja putrinya rewel.
Dan Zoya menggelengkan kepalanya. Ia meremas gaun bingung bagaimana ia mengatakan agar David mengizinkan nya pulang.
"Ada apa?"
"Bolehkah saya pulang tuan, saya tidak pantas be_"
"Siapa yang mengatakan kau tak pantas,?"
"Tidak ada,"
Clek...
"Selamat siang tuan David,"
David hanya melirik kearah pria paruh baya. Semalam David mencari dokter spesialis. Ia ingin Zoya sembuh dari bayang bayang masa lalunya.
"Nona Zoya.."
Merasa namanya di panggil Zoya mendongak melihat pria paruh baya. Tak lupa ia tersenyum manis dan mengucap salam.
"Sini sayang..."
David menggandeng tangan Zoya dan menyuruh nya duduk di sampingnya. Sementara Zoya sendiri tak tahu menau. Untuk apa pria ini datang kemari. Dan memanggil namanya.
Setelah memperkenalkan diri, dokter langsung menanyakan tujuannya. Ia ingin mendengar langsung bagaimana reaksi wanita cantik di depannya ini.
"Boleh nona mengatakan mimpi anda selama ini.?"
Deg...
Jantung Zoya seketika berdetak kencang mendengar pertanyaan dari pria itu. Apa dia tau jika dirinya memiliki trauma.
Zoya melirik ke arah David, mungkin saja pria itu sudah memberi tahukan pada orang lain.
" Maaf apa maksud anda, saya tidak mengerti?"
"Zoya...Apa kau tidak ingin sembuh, hmm. Aku ingin kau sembuh, kau tidak bisa membiarkan trauma itu menguasai mu."
David mencoba untuk membuat Zoya terbuka dengan masalahnya. Ia tak mungkin melihat Zoya berlarut larut dalam trauma yang selama ini membuatnya tersiksa. Meski ia sadar jika sebagian besar adalah ulahnya sendiri.
" Baiklah nona, jika anda tidak mau mengatakan nya. Tapi setidaknya beri tau saya sedikit saja secara garis besarnya."
Tanpa sadar Zoya meremas lengan David. Sedangkan David yang merasa lengannya sakit akibat kuku Zoya hanya diam. Ia merasa iba sekaligus bersalah. Gara gara dirinya Zoya mengalami trauma yang berat.
"Vidio.."
David memejamkan matanya mendengar kata Zoya. Sudah jelas ia sangat menyesal telah menyebarkan video itu. Hingga tak sadar Zoya yang telah menderita.
Dokter melirik ke arah David dan tak lama ia mengangguk mengerti.
"Baiklah, tidak perlu anda memikirkan sesuatu yang membuat anda takut. Nona pelan pelan saja. Bagaimana dengan pertemuan selanjutnya. Apa anda ingin berbagi dengan saya.?"
"Apa dokter bisa membantu saya lepas dari bayang-bayang mimpi itu."
"Jika anda bisa melepaskan dengan berbagi dengan saya. Saya mungkin bisa membantu anda, nona."
" Tapi saya tidak mau berbagi, ini adalah aib.."
Di akhir kalimat Zoya berkata lirih. Ia tak mungkin mengumbar masa lalu nya dengan orang lain. Tak mungkin juga ia menjelekkan almarhum suaminya Rangga.
Meski Zoya berkata lirih, David dan dokter masih bisa mendengar kata Zoya. Apalagi tangan Zoya semakin berkeringat dingin.
"Tidak apa-apa, pelan pelan saja. Kalau begitu saya permisi dulu."
David berdiri mengikuti langkah dokter.
"Apa istri saya bisa sembuh.?"
Setelah kepulangan dokter Zoya tambah berkeringat dingin. Nafasnya perlahan memburu, sesak dan perutnya seketika mual.
Tak lama kemudian ia berdiri dan berlari ke kamar mandi di dalam ruangan CEO. Ia memuntahkan isi perutnya kembali dan menggigil.
"Zoya..."
David merengkuh tubuh ringkih Zoya. Ia tak tega melihat Zoya yang rapuh. Harusnya dia tak pernah menyerang mental nya. Ia sangat menyesali perbuatannya dulu.
"Maaf..."
" Tuan, apa tuan menikahi saya untuk merendahkan saya lagi. Kumohon jangan lakukan itu lagi. Saya hanya ingin hidup saya dan putri saya tenang."
"Zoya... Aku tidak akan melakukannya lagi. Maafkan aku.?"
"Apa anda tak jijik menikahi wanita seperti saya. Karna almarhum suami saya jijik dengan saya, yang tak bisa merawat diri. Dia sama sekali tak pernah menyentuh saya semenjak kehamilan saya besar. Dia bilang itu sangat mengerikan dan menjijikan."
Deg...
David mengepalkan tangannya mendengar penuturan Zoya. Jadi Zoya ketakutan dan minder dengan dirinya sendiri, karena dia merasa dirinya sangat menjijikan.
Seketika dadanya sesak, mengingat ia dengan teganya menambah hinaan untuk nya.
"Maaf... Maaf...."
Mungkin saja beribu kata maaf tak bisa menghapus rasa sakit yang Zoya alami. Tapi sebisa mungkin David akan membahagiakan Zoya. Hanya Zoya wanita yang bisa membuat nya jatuh cinta.
Dert...Dert....
Mendengar nada dering telpon David, Zoya menghentikan tangisnya. Ia terlena dengan pundak David. Sehingga ia menumpahkan segala sesak yang selama ini menghimpitnya. Dan tak sadar sedikit telah membuka aib rumah tangganya yang dulu. Bagaimana perlakuan Rangga terhadapnya.
"Ya mom.."
Zoya kembali menegang mendengar David bicara di telepon. Ya Zoya baru ingat, pernikahan nya dengan David sangat mendadak. Dan mungkin saja orang tuanya tak mengetahui pernikahan mereka.
Bagaimana jika mereka tak menyetujui, pernikahan mereka.? Sudah jelas, tak ada yang mau. Sebagai orang tua tentu ingin anaknya mendapatkan wanita yang baik dan sempurna. Sementara dia adalah janda punya anak. Apalagi dia adalah David Aderson, pria terkaya di kota A.
"Zoya.."
Zoya berjengit kaget saat David menyentuh pundaknya.
"Ya..."
"Kita makan, ini sudah siang."
"Tapi tuan, Al.."
"Dia ada bersama bibi dan juga Lala."
Zoya pasrah, ia mengikuti langkah panjang David keluar dari ruangan CEO. Sedangkan David langsung mengandeng tangan Zoya. Ia ingin mengikis jarak di antara mereka.
"Tuan,"
David memandang datar Zoya, ia tau hanya dengan ini Zoya bisa menurut.
"Kau istri ku, apa salahnya jika aku menggandeng tangan istriku sendiri."
Zoya menggigit bibir bawahnya, terlalu takut ia melihat wajah datar David. Meski tak setakut dulu, ia masih saja merasa jika David akan melakukannya lagi. Menghinanya lagi seperti yang pernah dia terima dulu.
Nancy yang melihat David dan Zoya berjalan sambil bergandengan, mengepalkan tangannya. Kenapa harus Zoya? Apa kurang nya dirinya, yang sama sekali tak dilirik oleh David.
"Apa Rey berbohong jika tuan David pria introvert.?" Nancy bergumam lirih. Dari sekian banyak wanita kenapa wanita seperti Zoya.
Sementara Queen, juga tak jauh dari Nancy. Ia tak suka melihat wanita itu menjadi istri David.
.
.
Bantu vote dan hadiah ya mom😌
.
.