Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode. 64


Luna melirik sinis ke arah pria yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi. Ia tau apa yang pria itu lakukan di luar sana.


"Brengsek... Kenapa dia tak mau melepaskan aku. Pria gila ****, lihat saja aku akan mencari tau siapa dirimu."


Luna mengumpat dalam hati, ia muak dengan pria itu.


Sedangkan Dewa tak menghiraukan tatapan mata Luna. Ia masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuh nya yang lengket. Akibat pergulatan nya dengan wanita malam.


"Bisa kau lepaskan aku Om? Aku janji tak akan berbuat ulah lagi. Kau bisa memanggilku kapan saja. Apa kau tidak bosan, setiap hari melihatku.?"


Setelah melihat pria itu keluar dari kamar mandi. Luna mengatakan niatnya, ia yakin pria itu tak juga sudah mulai bosan dengan nya.


Ya Luna tau pria ini gampang sekali bosan dengan wanita. Ia sudah hapal dengan Sugar Daddy nya yang ini. Pria ini akan berganti wanita setiap minggunya. Dan dia sudah tiga minggu terkurung di apartemen ini. Lagi pula biasanya pria ini akan sering pergi. Tapi tidak dengan ini, entah apa yang pria ini lakukan di kota ini.


"Kenapa,?"


Dewa menatap tajam wajah wanita di depannya. Sebenarnya ia juga sudah bosan dengan nya.


"Pergilah, tapi ingat aku akan memanggil mu jika aku membutuhkan mu. Dan jangan sekali kali kau menolaknya. Aku bisa mencarimu di mana saja, ingat itu.!"


Luna tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Ia lalu pergi ke kamar dan mengambil koper kecil milik nya.


"Ambil ini,"


Tanpa basa basi Luna mengambil kartu di tangan Dewa. Ia segera menggeret koper kecilnya dan keluar dari apartemen. Dewa mendesah lirih, ia akan menemui David kembali. Pertemuannya terakhir kali tak membuahkan hasil. Sebenarnya bukan karna ia ingin menjodohkan kan David. Ia datang ke perusahaan David karna ingin mengambil hati putranya, agar mau membantunya.


Perusahaan nya di kota X, sedang krisis. Itu sebabnya ia ingin David membantunya. Pasti dia tak akan membiarkan ayahnya sendiri


jatuh bangkrut.


*


Zoya mengalihkan pandangannya mencari keberadaan seseorang. Sudah dua jam ia siuman dan suaminya sama sekali tak terlihat.


"David di kantor Zoy,"


Hati Zoya seperti di remas, mendengar penuturan wanita yang menjadi mertuanya. Ia terbaring di rumah sakit dan suaminya sama sekali tak perduli dengan nya.


"Zoya, maafkan bunda. Bukan maksud bunda membela David. David memang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya saat ini."


Zoya tersenyum lebar, ia mengerti kenapa mertuanya mengatakan itu. Ia juga sudah berprasangka buruk pada suaminya. David memang tak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Meski rasa kecewa itu ada, ia mencoba mengerti suaminya.


"Zoya, maafkan putra bunda."


"Tidak apa bunda, ini salah Zoya yang tak bisa menjaganya."


Lagi lagi Sinta meneteskan air matanya. Wanita seperti Zoya, kenapa harus mengalami nasib buruk karna putranya.


"David mencintaimu Zoya..? Percayalah pada bunda. Dia tak pernah mencintai wanita lain, sebesar dia mencintai mu."


Zoya hanya mengangguk mengiyakan. Matanya juga memanas, karna keserakahannya mengharapkan David mengakuinya. Dia sudah mencelakai buah hatinya. Menyesal...Satu kata yang baru saja Zoya rasakan.


"David tidak akan pernah bertunangan dengan wanita lainnya. Bunda tau David, dia tak akan pernah bermain main dengan ucapannya. David tidak mencintai Kartika."


Sinta menatap lekat wajah pucat Zoya. Ia iba dengan wanita yang menjadi menantunya ini.


"Bunda, apa Zoya bisa mengimbangi mas David. Zoya rasa, wanita itu lebih pantas mendampingi mas David."


Bibir nya bergetar, mengatakan nya. Ia sungguh tak ingin mereka menghawatirkan dirinya. Zoya tak ingin David dan bunda terkena dampak buruk, akibat keegoisan nya. Wanita itu pasti tak terima, jika David membatalkan pertunangan mereka. Lagi pula ia tak ingin bundanya merasa bersalah.


"Apa yang membuatmu mengatakan ini Zoya.?"


Sinta menatap lekat wajah Zoya, entah kenapa bukan hanya itu yang membuat Zoya berkata demikian. Ada hal yang lain yang mengganjal.


Di tatap seperti itu, Zoya hanya menggelengkan kepalanya.


*


Rey menelponnya saat ia akan masuk ke dalam ruang kamar rawat istrinya. Itu karna ulah pria brengsek di depannya. Pria tua itu pagi pagi datang dan membuat kacau.


"Keluar,..."


Gigi David gemerutuk menahan emosi yang siap meledak. Pikiran nya masih memikirkan istrinya. Dan pria ini membuat kacau di perusahaan miliknya.


"Daddy tak akan pergi, jika _"


Cih...


Dewa mengepalkan tangannya melihat David berdecih ke padanya..


"Jangan kurang ajar denganku David. Biar bagaimanapun aku adalah ayahmu."


" Itulah yang ku sesalkan brengsek. Kenapa Kau pikir aku perduli dengan mu?, Kau mau jatuh miskin sekalipun, bukan urusan ku. Kau mau mati sekalipun, aku tidak akan menangisi pria brengsek seperti mu. Keluar...."


David menunjuk pintu, agar pria itu tau diri, dan pergi dari perusahaan nya.


"Dav..."


Brakk...


"Keluar brengsek.."


Nafas David memburu menahan emosi. Ia sungguh ingin membunuh pria di depannya ini.


Dewa pergi begitu saja tanpa ada nya hasil yang di bawanya. David benar benar, anak tak tau di untung. Dia bisa sukses karna dia. Jika tak ada dia mana mungkin dia lahir ke dunia ini.


Brakk...


David menyapu berkas dan laptop di mejanya. Bukan karna pria tadi, lebih tepatnya. Karna ia yang tak bisa menjaga Zoya. Dia sama seperti ayahnya, brengsek. Lagi lagi ia hanya bisa menyakiti wanita nya. Ia terduduk di kursi kebesaran nya, menangkup wajah nya dengan kedua tangannya.


Sementara dari depan pintu, Rey menatap iba pada tuannya. Pria itu jatuh lagi, demi cinta. Semoga tuannya dan nona Zoya bahagia ke depannya.


Tak lama kemudian David bangkit, meninggalkan perusahaan nya. Ia akan pulang menjemput Almira. Dan membawanya ke rumah sakit menemui Zoya. Ya hanya itu mungkin yang bisa menghibur, Zoya saat ini.


Sampai di rumah besar nya, David mendengar putrinya yang menangis. Ia mendekat ke sumber suara.


"Al..."


"Addy..."


Almira turun dari ranjang dan berlari ke arah David. Mendekap erat tubuh besar nya.


"Al ingin bunda, mbak Lala bilang bunda atit. Al ingin bunda...."


David mengusap pipinya yang basah, ia mengecup kepala putri sambungnya. Mana mungkin ia bisa kehilangan Zoya dan putrinya. Ia sangat menyayangi mereka berdua. Almira sudah David anggap sebagai putri nya sendiri. Ia menyayangi gadis kecil ini. Apalagi saat ini ia kehilangan darah dagingnya sendiri.


" Al mau bertemu bunda?"


Almira langsung mengangguk mengiyakan. David mengusap pipi cabinya yang basah, mencium nya sayang.


"Kita akan bertemu bunda, tapi Al tidak boleh menangis Ok."


David membopong putri kecilnya, ke kamarnya. Ia akan mandi terlebih dahulu sebelum menemui Zoya.


.


Maaf Mak ada bab yang tertinggal lagi🤣


maklum ada anu anu jadi banyak revisi lagi.


maaf ye karna otor nulisnya pake hp jadul dan gak simpan bab jadi banyak di luar perkiraan.


Gini aja ga ada yang mau kasih aq VOTE dan hadiah. Padahal anu anu sudah anu. Bete🙄🙄