
Aaron menatap istrinya yang tersenyum membawa eskrim di tangan nya. Ia pikir istrinya akan marah padanya hingga berlarut larut. Tapi hanya dengan satu eskrim di tangan nya Almira lupa dengan marah nya.
"Sayang kenapa belepotan makanan nya."
Aaron mengusap bibir Almira dengan jari jempolnya. Sedangkan Almira sendiri masih menyuapkan eskrim di tangan nya.
Ia membayangkan wanita cantik yang baru saja bertemu dengan nya. Dia mengaku sebagai kekasih suaminya dan calon istrinya. Lalu kenapa suaminya tak mengakuinya jika dia kekasihnya. Tak lama ia mendesah lirih, masih tak tau dengan orang dewasa. Ia masih asing dan shock dengan pernikahan nya, tapi tiba-tiba saja wanita lain mengatakan jika dia adalah kekasihnya.
Aaron menatap istrinya ia tau jika Almira memikirkan tentang hubungannya dengan Queen.
"Om mau,"
Almira menyodorkan sendok eskrim di tangan nya pada bibir Aaron. Aaron melahap sendok es di tangan Almira. Tapi matanya sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari wajah Almira. Almira tersenyum tipis, ia berjalan masuk ke dalam mobil Aaron, tapi sebelum nya ia menatap wajah Nathan yang menyeramkan. Almira tersenyum jika pria ini ternyata baik padanya dan tak terlihat seperti wajahnya yang seram.
Dari samping Aaron menatap tajam pada Nathan. Ia mendengus melihat istrinya tersenyum pada asisten nya. Tak lama kemudian ia membuka pintu mobil dan mendudukkan istrinya di dalam. Masih menatap tajam pada Nathan, Aaron berbalik ke kursi kemudi.
Nathan sendiri hanya menggelengkan kepalanya, melihat tuannya yang bertingkah seperti anak kecil.
Aaron mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sedangkan Almira sendiri yang duduk di samping kemudi, sama sekali tak membuka suaranya. Ia masih shock jika wanita itu adalah kekasih suaminya. Ia yakin dia tak berbohong tadi.
Dan Aaron yang menyadari Almira diam saja merasa bersalah. Ia mengutuk dirinya yang dulu tak bisa memendam hasrat nya.
Satu jam kemudian Aaron memarkirkan mobilnya di depan hotel. Menyadari jika Aaron membawanya kembali ke hotel, Almira menoleh menatap suaminya.
"Maaf sayang, Om akan mengambil pakaian Om lagi baru kita pulang, ayo turun Al."
Almira mengangguk mengiyakan, ia berjalan bersama dengan suaminya yang menggandeng tangan nya.
Di dalam lift Aaron melototkan matanya saat pria remaja menatap istrinya tak berkedip. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang Almira dan menatap tajam pada pria remaja di sampingnya.
"Om.."
Aaron mendelik saat Almira memanggil nya Om, apalagi melihat pria remaja itu tersenyum ke arah nya.
"Dia istriku.."
Sentak nya pada pria di sampingnya. Tak lama kemudian pintu lift terbuka dan Aaron langsung keluar dari lift, tangan nya masih melingkar di pinggang Almira. Ia menatap sinis pada pria remaja yang masih berdiri di dalam lift.
"Sayang bisakah jangan memanggil Om, mereka akan mengejekku dan tak percaya padaku."
Protesnya pada Almira, tangan kanannya membuka pintu kamar hotel.
Almira sendiri tak menjawabnya, ia masuk di kamar hotel tempatnya ia menginap dengan Aaron sebelum ia menikah. Di kamar ini Aaron menikahinya tanpa sepengetahuan dirinya dan keluarganya.
"Sayang,.."
Almira menoleh pada suaminya, ia menatap wajah Aaron yang baru di sadari jika wajah itu memang benar benar sangat tampan. Sedangkan Aaron sendiri yang melihat Almira menatap nya, memeluk tubuh Almira lagi.
"Ada apa sayang..?"
Aaron menatap Almira, wanita yang membuatnya tergila gila padanya sejak dia masih duduk di sekolah dasar.
"Apa yang di katakan wanita itu benar Om. Lalu kenapa Om menikahi Al jika punya keka_."
Aaron membungkam bibir Almira dengan bibir nya. Ia tak ingin Almira membicarakan tentang wanita lain selain dirinya. Aaron ******* bibir mungil Almira yang membuatnya candu. Menggigit bibir bawah Almira dan masuk ke dalam mengabsen deretan giginya yang putih dengan lidahnya.. Sedangkan Almira yang baru saja merasakan sensasi seperti ini, melenguh dalam ciumannya. Mendapat sambutan hangat dari Almira, Aaron mengangkat tubuh Almira. Memperdalam ciuman nya pada istrinya.
"Maaf..."
Nafas Aaron memburu menahan hasrat yang melambung tinggi. Ia memeluk Almira guna mengurangi hasrat yang membuncah di dalam tubuhnya. Masih menetralkan nafasnya yang memburu menahan gejolak gairah nya. Aaron berpikir jika Almira harus tau jika dia bukan lah pria yang baik. Dia pria brengsek yang membiarkan tubuhnya di sentuh banyak wanita.
"Maafkan Om, maaf jika Om bukan pria yang baik Al. Wanita itu bernama Queen, dia_"
Aaron diam, ia tak tau harus bilang bagaimana dengan Almira. Menjelaskan masa lalu nya yang menjadi pria brengsek, dan menjajakan tubuh nya di sembarang wanita. Dan tentunya Aaron sendiri, tak tau sudah berapa wanita yang pernah ia tiduri selain Queen tentunya.
Almira mendongak menatap wajah Aaron yang menatap nya.
"Om... Al hanya ingin mendengar apa alasannya Om menikahi Al. Om sendiri punya kekasih dan dia bilang dia juga calon istri Om."
Aaron menatap mata bundar Almira yang bening dan jernih. Sungguh Aaron ingin Almira mencintai nya seperti ia mencintai nya. Apa pantas ia mendapat cinta Almira, gadis yang tak pernah tersentuh oleh pria, sedangkan dirinya mungkin sudah ratusan wanita yang menemaninya dan menghangatkan ranjang nya.
"Dia teman tidur Om.."
Aaron memejamkan matanya mengucapkan kebrengsekan nya pada Almira. Ia tak ingin melihat reaksi kecewa istrinya.
Deg...
Dada Almira seketika merasa sangat sakit. Ia sendiri tak tau apa yang ia rasakan saat mendengar jika wanita cantik itu adalah teman tidur suaminya. Itu artinya mereka sering tidur berdua. Meski ia tak tau dan masih asing tentang pernikahan tapi Almira tau jika pria dan wanita dewasa, itu tak boleh tidur berdua jika bukan suami istri. Dan Almira juga tau apa yang akan mereka lakukan jika tidur berdua.
"Al..."
Aaron membuka matanya perlahan, menatap Almira yang tak menyahut sedikit pun.
Deg...
Dada Aaron seketika bergemuruh, merasa bersalah pada istrinya. Entah kenapa ia tak rela melihat Almira yang terluka karena dirinya. Hatinya sakit melihat mata bundar itu berkaca kaca menatap nya.
"Bukan hanya Queen, tapi masih banyak la_"
"Al mau pulang,"
Almira memotong perkataan Aaron, nafasnya memburu merasakan sakit mendengar dengan telinganya sendiri jika Aaron bukanlah pria yang ia pikirkan.
"Maaf kan om Al.."
Almira berbalik keluar dengan mata yang berkaca kaca. Sedangkan Aaron yang melihat Almira keluar dari kamar miliknya, mengejarnya dan memeluk nya dari belakang.
Almira tak boleh seperti ini, ia tak bisa kehilangan istri nya.
Aaron mengencangkan pelukannya pada istrinya.
Sedangkan Almira sendiri melepaskan tangan Aaron dari pinggang nya. Dan melangkah pergi meninggalkan Aaron.
"Al..."
.
.