
Aaron berjalan sambil tersenyum lebar memasuki rumah David. Kedua tangan nya menenteng paperbag berisi baju dan boneka imut untuk istrinya. Setelah keluar dari restoran ia yang mengendarai mobil nya tak sengaja menatap boneka lucu berwarna pink yang di pajang di etalase. Tentu saja tanpa pikir panjang ia berhenti dan membelinya.
Sementara David yang keluar dari arah dapur dan mendapati Aaron berjalan sambil tersenyum menatap nya tajam. Ia berdecih melihat pria brengsek itu menenteng paperbag. Ia tau apa isinya, terlihat seperti boneka yang berwarna pink.
David juga berjalan menuju kamarnya, matanya melirik sinis pada Aaron. Sedangkan Aaron sendiri tak perduli ia melangkah bersama David ke lantai atas.
"Seharusnya kau memberikan boneka itu pada putrimu,"
David membuka pintu kamar nya, tak perduli dengan pelototan Aaron di sampingnya.
Aaron sendiri mendengus mendengar sindiran dari David. Papa mertuanya itu memang sama sekali tak menghargainya. Apa dia tak tau, bagaimana ia membuang malunya membeli boneka di tangan nya.
"Kau iri padaku,"
Aaron melanjutkan langkahnya membuka pintu kamar istrinya. Ia tersenyum saat melihat istrinya yang tidur meringkuk seperti bayi.
Aaron membuka lemari Almira dan menyimpan hadiahnya di sana. Ia akan memberikan kejutan besok pagi. Almira pasti akan berteriak kegirangan saat ia membawakan hadiah untuk nya.
Cup....
Aaron melangkah menuju kamar mandi, membersihkan dirinya yang lengket. Ia juga tersenyum tipis saat menyadari jika kamar mandi Almira pun banyak yang berwarna pink. Ia yakin besok Mension nya akan berubah warna jika ia membawanya pulang.
"Jangan kan berwarna pink, warna pelangi saja aku tak keberatan."
Aaron terkikik geli mengingat jika benar Mension mewah nya akan berubah menjadi warna pink. Tak lama ia menyambar handuk miliknya dan melingkarkan di pinggang nya yang kokoh. Keluar dari kamar mandi, mencari keberadaan boxer miliknya dan memakainya.
Perlahan ia masuk ke dalam selimut, memeluk tubuh kecil Almira. Almira sendiri hanya menggeliat kan tubuhnya.
Matanya tak berkedip menatap wajah Almira yang tidur memakai jilbab nya. Ia tersenyum, mungkin Almira masih malu dan belum sepenuhnya percaya padanya. Itu sebabnya istrinya tak melepaskan jilbab miliknya saat tidur. Tangan nya terulur menyentuh mata bundar yang di kelilingi bulu mata yang lentik dan panjang. Ia menekan hidung nya yang super mungil. Tangan nya turun ke bawah mengusap bibirnya yang sudah beberapa kali ia sesap. Bibir merah jambu yang membuatnya candu hanya dengan menyesap nya.
Cup..
Aaron ******* bibir Almira dan menyesapnya sangat pelan, tak ingin mengganggu tidur istrinya yang sudah terbang di alam mimpi. Hanya ini yang berani ia lakukan saat ini. Ia masih tetap akan menunggu Almira mau dan siap menyerahkan semuanya padanya. Aaron melepaskan ciumannya pada bibir Almira.
"Aku mencintai mu Almira,"
Memejamkan matanya, nafasnya masih memburu menahan hasrat yang tak terbendung. Pusat inti tubuhnya sudah mengeras, ia hanya bisa memeluk Almira guna mengurangi hasrat yang membuncah.
Almira sendiri tak terusik sedikit pun. Ia justru merapat kan tubuhnya pada Aaron.
Aaron mengerat pelukannya, matanya terpejam erat saat kaki Almira menyentuh milik nya. Dadanya naik turun mencoba menenangkan pusat inti tubuhnya yang berontak. Mencoba menyusul Almira ke dalam mimpi, meski hasratnya sendiri tak bisa menghilang. Ia bisa menahannya demi Almira, ia hanya akan menyentuh istrinya, bukan wanita lain di luar sana.
Di kamar David..
Zoya menautkan kedua alisnya melihat David yang masuk sambil menggerutu bibirnya. Pasti Aaron lagi, ia tau suaminya sedang mengumpat Aaron saat ini.
"Ada apa mas,?"
Zoya mengangguk mengiyakan, ia tau apa alasannya. Tentu saja karna adanya Aaron di rumah ini, suaminya mengajaknya ke perusahaan. Padahal hampir dua tahun ini Zoya tak pernah datang ke perusahaan. Semenjak suaminya sembuh dari lumpuhnya, ia jarang sekali datang. Ia hanya datang saat mengantar makan siang nya, itu pun hanya sebentar. Tapi sepertinya mulai sekarang David tak akan membiarkannya diam di rumah. Itu karena adanya Aaron di rumah.
David memang sudah jarang sekali mengeluh sakit di punggung nya. Beberapa kali operasi David sudah normal seperti orang pada umumnya. Tapi yang sebenarnya, kadang David suka mengeluh jika punggung nya sakit dan menjalar di kaki nya yang lumpuh.
"Jangan terlalu lelah mas,"
David mendarat kan bibirnya pada kening Zoya yang tak terbalut jilbab. Ia memeluk tubuh istrinya yang setia menemani nya sampai sekarang.
"Bukankah ada istri ku yang akan merawatku."
David terkekeh melihat mata Zoya yang melolot. Ia berbaring dan menyandarkan kepala istrinya di dadanya.
"Bagaimana jika Aaron membawa Almira pergi dari kita. Aaron pasti akan membawa Almira ke Venesia bersama nya."
Zoya menangis di pelukan suaminya. Ia tak menyangka jika Almira berjodoh dengan pria yang jauh dari negerinya. Perjuangan nya saat Almira bayi yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya, membawanya kesana kemari, di gendongan nya. Ternyata putri kecilnya itu akan di bawa seseorang lebih jauh lagi dari nya. Ia seperti tak rela jika Aaron akan membawa Almira jauh dari nya.
Dan David hanya menatap langit langit kamar. Ia sendiri juga masih berat mengikhlaskan putri nya pada Aaron. Ditambah lagi pria itu adalah pria brengsek dan gila ****. Tangan nya tak berhenti mengelus kepala istrinya.
Tapi mommy nya mengatakan, jika jodoh dan maut memang sudah di takdirkan. Dan Almira mungkin saja berjodoh sampai nanti dengan pria itu. Seperti ia dan Zoya saat ini, kecelakaan mobil tiga belas tahun silam membuatnya sadar jika semua itu sudah di takdirkan.
Tapi kenapa sekarang justru Zoya yang mengeluh. Ia tau Zoya masih tak ingin kehilangan Almira. Tangan nya tak berhenti mengelus kepala istrinya.
Dan mengeratkan pelukannya pada istrinya. Ia mengecup kepala istrinya bertubi-tubi. Ia tak boleh menambah kesedihan istrinya dengan cemburu buta nya pada Aaron. Ia juga akan berusaha untuk menerimanya meski berat.
"Bagaimana dengan Queen.."
Deg... David diam, tangan nya tak lagi mengelus kepala Zoya.
"Kau tau,?"
Zoya mengangguk mengiyakan, ia mengeratkan pelukannya pada David.
"Tidur lah, bukankah bunda bilang jika Almira akan dewasa bersama Aaron. Yakinlah jika putri kita bisa mengusir wanita yang mengusik rumah tangga nya. Aaron juga pasti tak akan membiarkan Almira menderita dan sakit hati."
Tanpa di sadari sendiri oleh David, kata kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Ia memang sedikit yakin jika Aaron akan membahagiakan putri nya. Sebagai sesama pria, ia juga bisa melihat cinta yang besar di mata Aaron untuk putrinya. Padahal sebelumnya bibir nya selalu mengumpat Aaron. Pria brengsek yang menjadi rival nya dulu. Dan malam ini, bibir ini juga yang mempercayai pria yang selalu di umpatnya.
.
.
Hai hai hai.. coba aja VOTE aku di penuhin genap seribu 🤧🤣
Jangan lupa bunda mampir ke karya aku yang lain ya, gak kalah seru juga di sana. Lop yu 😘