
"Kau, gadis sialan, kau sudah merebut Aaron dariku, brengsek."
Almira menatap wajah wanita cantik yang berteriak padanya. Tak lama kemudian ia menghembuskan nafasnya perlahan. Wanita ini ternyata tau tempat tinggal suaminya. Itu artinya suaminya sering mengajak nya kemari.
"Apa aunty mau bertemu dengan Om,?"
"Kau.."
Gigi Queen gemerutuk mendengarnya, gadis sialan di depannya ini berani memanggil nya aunty padanya.
Sedangkan pelayan yang berada tak jauh dari sana hanya menunduk. Mereka binggun dengan situasi seperti ini. Memang yang mereka tau wanita yang berprofesi sebagai Disainer itu adalah kekasih tuannya. Tapi mereka tak ada yang suka dengan nya.
"Kau gadis tak tau diri, kau tau akulah calon nyonya yang sebenarnya di mension Galaxy. Aaron hanya penasaran dengan mu saja, tapi aku yakin dia akan membuang mu suatu saat nanti."
Almira masih tak bergeming, ia menatap wajah cantik Queen yang memerah.
"Jika aunty kekasih Om, lalu kenapa Om menikahi Al. Mungkin Om yang sudah bosan dengan aunty."
Mata Queen terbelalak mendengar perkataan Almira, Begitupun dengan Aaron yang baru saja datang. Tak lama kemudian Aaron tersenyum lebar, mendekati Almira yang duduk tenang di kursi nya dengan segelas susu di tangan nya.
"Sayang,"
Almira dan Queen menoleh bersamaan mendengar suara Aaron di belakangnya. Aaron tersenyum melihat Almira tersenyum padanya. Begitupun dengan Queen, tapi tak lama kemudian senyum di bibir Queen menghilang saat Aaron melewati nya.
"Om pikir Al kemana,? Kenapa gak bangunkan Om sayang.?"
Aaron mendekat dan mencium pipi Almira. Tak lama kemudian ia mengangkat tubuh Almira di pangkuannya.
Dan Queen tak percaya dengan apa yang ia lihat pagi ini. Aaron memperlakukan gadis beliau ini sangat lembut dan penuh kasih sayang. Berbanding dengan dirinya yang tak pernah di perlakukan Aaron seperti itu. Meski saat bercinta pun Aaron tak selembut itu padanya.
"Apa masih sakit sayang."
"Sedikit,"
Bisik Almira saat Aaron memangkunya. Sedangkan Queen sendiri dadanya bergemuruh hebat melihat kemesraan mereka berdua, telinga seperti nya tak salah mendengar. Tentu saja Queen meradang mendengar nya. Apalagi saat Aaron memangku tubuh gadis belia ini.
"Sayang, kenapa kau melakukan ini padaku. Kau mencampakkan aku, demi gadis belia ini Aaron. Ku mohon jangan seperti ini, aku merindukanmu."
Aaron mengeraskan rahangnya mendengar penuturan Queen. Sedangkan Almira sendiri menatap mereka bergantian. Wanita itu memang sangat cantik dan anggun, dia juga sudah dewasa.
"Kau sudah mengambil semua yang ku punya Aaron. Bagaimana bisa kau mencampakkan aku begitu saja. Bagaimana jika aku hamil,?"
Deg...
Almira menatap Queen dengan mata besarnya. Entah apa yang ia rasakan saat wanita itu mengatakan jika dirinya hamil. Seperti ada yang menusuk di dadanya.
Sedangkan Aaron menatap tajam pada Queen. Tangan nya terkepal erat saat Queen mengatakan semua itu di hadapan Almira. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Almira. Takut jika Almira akan pergi seperti waktu di mall.
"Om sesak."
Aaron tak mengindahkan perkataan Almira, ia masih mengeratkan tangan nya.
"Keluar dari sini Queen, kita tak punya hubungan apapun lagi."
Nafas Queen memburu mendengar penuturan Aaron Dan lagi gadis yang berada dalam pelukan Aaron sama sekali tak terpengaruh dengan apa yang ia katakan.
"Apa kalian menempati kamar yang sama saat bercinta dengan ku,?"
Suara Aaron menggelegar di penjuru mension, Queen benar benar mengujinya. Sedangkan Almira yang shock mendengar penuturan Queen menatap tak percaya pada Aaron. Benarkah kah kamar yang di tempati nya adalah kamar suaminya saat tidur dengan wanita ini.
"Tidak Al, Om bersumpah bukan kamar yang itu sayang."
Bibir Aaron tercekat saat menyadari sesuatu, ia menatap bersalah pada Almira. Dan Almira sendiri melepaskan tangan Aaron dari pinggang nya.
"Bibi Al mau makan, tapi antar ke kamar ya."
Almira turun dari pangkuan Aaron, dan melangkah perlahan menaiki anak tangga, milik nya masih terasa perih dan mengganjal. Tak menunggu jawaban dari pelayan Mension Almira meninggalkan mereka di meja makan. Hatinya sakit saat mendengar jika wanita itu bisa saja hamil. Apalagi mendengar jika suami dan wanita itu tidur di kamar yang ia tempati.
"Al..."
"Al mau kekamar Om,"
Jawab Almira tanpa menoleh ke arah suaminya. Sedangkan Aaron menatap nanar istrinya yang meninggal kan dirinya. Ia tau Almira marah padanya, tapi memang bukan kamar yang mereka tempati.
Aaron menatap Queen tajam, gara gara wanita ini istrinya marah padanya.
"Aku tau kau tak akan bisa meninggalkan aku, aku akan memaafkan mu Aaron. Kita sudah sering melakukan nya. Bagaimana jika aku hamil, bisa saja itu terjadi kan."
"Jangan menguji kesabaran ku Queen, aku bisa saja membunuhmu saat ini, keluar dari sini."
Aaron melangkah lebar menyusul istrinya di kamar nya. Tapi sepertinya Queen benar benar mengujinya.
"Aaron, kau tak bisa membuangku begitu saja, kau yang sudah mengambil semua nya dariku."
Jerit Queen, dan Aaron berbalik mendekati Queen yang selalu menjadikan alasan konyol dan tak masuk akal padanya. Mencengkeram erat dagunya, dan berbisik pada telinga Queen.
"Berhenti menyalahkan ku Queen, aku tau bagaimana rasanya yang benar benar perawan, dan itu adalah istri ku."
Mata Queen terbelalak mendengar penuturan Aaron padanya. Aaron menyadari jika dia tak perawan, tidak, itu hanya sebuah benda yang ia pergunakan untuk memuaskan hasrat birahinya. Dia wanita yang normal dan sudah dewasa. Itu tak masalah menurut nya, selama ia tak pernah bersama dengan orang lain dan hanya dengan nya saja, kenapa Aaron harus seperti ini padanya, mencampakkan dirinya.
"Kau egois Aaron."
Queen menatap nanar pada Aaron, matanya berkaca-kaca jika Aaron benar benar mencampakkan dirinya. Tak lama Queen meringis merasakan sakit di rahangnya.
"Jangan menguji ku, pergi dari sini."
Aaron menghempaskan wajah Queen begitu saja, dan melangkah lebar menuju kamar nya berada.
*
Almira menatap nanar pada ranjang besar di depannya. Ia mengusap pipinya yang basah.
"Kenapa Om jahat padaku,"
Almira berjalan menuju balkon kamar Aaron. Ia menatap jauh kedepan.
"Apa ini yang di bilang bunda, jika Al harus menerima Om baik dan buruknya. Kenapa Al merasa Om sangat jahat pada Al."
Tak lama kemudian, Almira berjangit saat merasakan tangan besar berada di pinggangnya.
"Maaf kan Om,"
Almira diam saja, ia masih menikmati sentuhan sinar matahari pagi yang menerpanya. Baru empat hari berada di mension milik Aaron, ia sudah merindukan ibunya. Ia ingin memeluk bundanya saat ini. Hati nya sakit saat mendengar jika suami nya menempatkan dirinya di kamar yang sama dengan bekas wanita lain.