
Aaron masih termenung meratapi kebodohan nya. Ia sama sekali tak beranjak di samping istrinya, hanya pelayan yang datang saat Aaron membutuhkan sesuatu. Apalagi saat melihat milik Almira yang benar benar robek. Darah yang masih menetas bercampur dengan cairan kental miliknya terlihat sangat banyak. Ia membersihkan milik Almira, mengompresnya dengan air hangat, setelah itu ia mengoleskan salep pada kulit yang sangat tipis dan baru saja memberikan nya kepuasan yang luar biasa.
Aaron sangat menyesal telah menyakiti Almira sampai ia sendiri merasa takut. Milik Almira yang sempit dan kecil sangat bengkak.
Hingga dua jam lamanya Almira baru membuka matanya perlahan.
"Om... Sttt...."
Lirih nya dan tak lama kemudian, Almira menangis lagi saat rasa perih dan sakit itu masih terasa.
Aaron sendiri yang mendengar suara tangis Almira mendongak.
"Al..."
Cup.... Cup....
Aaron bernafas lega saat istri nya membuka matanya. Ia mengecup wajah Almira bertubi tubi. Tak lama kemudian ia mengusap pipi Almira yang basah. Merasa bersalah telah melakukan kebodohan pada istri kecilnya.
"Maafkan Om sayang."
Hibanya pada Almira yang menangis segukan.
" Sakit,... Om jahat.."
"Ya sayang Om jahat,"
Ia memeluk tubuh kecil Almira yang memukul dirinya. Mengusap wajah yang tak sepucat tadi, ia yakin jika Almira kapok melakukan nya lagi. Aaron tak perduli jika Almira tak ingin melakukan nya lagi. Ia tak akan menyakiti Almira kembali dengan milik nya yang terlalu besar. Apalagi pada Almira yang kecil dan baru merasakan nya. Tentu saja Almira akan merasakan sakit yang luar biasa, berbanding dengan dirinya yang merasakan nikmat dunia yang menerbangkannya. Hingga lupa menghujam Almira tanpa henti dengan ritme yang cepat dan liar. Tak sadar jika Almira baru pertama kali, akibat kenikmatan yang ia rasakan ia lupa dengan semua ini.
"Maaf, Om tidak akan menyakiti Al lagi, maafkan Om Al."
Almira masih menangis di pelukan Aaron, hingga ia lelah dan tertidur kembali. Aaron sendiri, membaringkan tubuh istrinya dan membenarkan infus di tangan nya.
Menatap tubuh kecil yang tiga kali lipat dari tubuhnya yang besar. Pantas saja milik Almira robek sangat lebar dan bengkak.
Aaron berjalan kekamar mandi mengguyur tubuh polosnya. Rasa perih di lengan dan punggung nya sama sekali tak ia rasakan. Mengingat percintaan panas nya dengan Almira yang berakhir pingsan, sungguh membuat Aaron terlihat sangat bodoh. Almira yang notabene adalah gadis belia dan ia yang sudah dewasa dan sering melakukan nya. Tentu saja Almira akan kaget dan kesakitan, mengingat tubuhnya yang kecil.
"Bodoh..."
Aaron menyudahi mandinya yang singkat, ia tak mau Almira bangun dan mencari nya.
Keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa, ia bernafas lega saat melihat Almira yang masih tertidur nyenyak.
Ia keluar memanggil pelayan nya.
"Bikinkan bubur untuk istri ku,"
" Ya tuan..."
Aaron kembali lagi ke kamar nya, berbaring di samping Almira dan membawa tubuh Almira ke dalam pelukan nya.
Mengusap kepalanya dan mengecup nya berkali kali.
*
Queen bernafas lega saat dirinya baru saja tiba. Beberapa jam di dalam pesawat terbang benar benar membuat tubuhnya kaku. Ia kembali ke apartemen miliknya yang tak jauh dari perusahaan Aaron. Matanya melirik ke arah jarum jam di ponsel nya. Aaron pasti tak ada di perusahaan miliknya. Apalagi hari sudah malam, ia yakin itu. Tapi Ia tak akan kembali ke apartemen nya, Ia akan mencari Aaron di mension mewahnya.
Sampai di apartemen, Queen membanting tubuhnya di ranjang miliknya. Ia menatap langit langit kamar nya. Ia sudah tak mengikuti fashion show dan sudah kehilangan kesempatan besar di tangan nya. Dan dia tak mau jika ia harus kehilangan Aaron lagi. Cukup karirnya yang tak bisa ia genggam kali ini. Aaron harus bisa ia genggam dan menjadikan dirinya sebagai ratu di mension mewahnya.
"Aku akan menyingkirkan putrimu Zoya."
Tak lama kemudian Queen tertidur dengan sendirinya.
*
Almira menoleh pada suaminya, ia meringis merasakan ngilu dan sakit. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana.
"Om Al lapar,"
Aaron mengangguk dan Keluar memanggil pelayan. Tak lama kemudian pelayan mengantarkan satu mangkuk bubuk dan susu untuk nyonya nya.
Aaron menyuapi Almira dengan hati hati. Ia tak ingin menyakiti istrinya lagi. Almira adalah berlian nya, ia akan menunggu Almira dewasa terlebih dahulu. Ia yakin bisa menahan nya, demi wanita yang ia cintai ia bisa menahannya, apalagi ia sudah merasakan nya sendiri bagaimana milik istri nya.
"Om udah,"
Aaron mengangguk mengiyakan, ia menyodorkan gelas pada Almira dan membaringkan nya lagi.
Cup...
"Apa Al ingin sesuatu,?"
Almira menggeleng, ia melingkarkan tangannya pada lengan Aaron.
"Milik Al sakit,"
Bisiknya pelan, tapi Aaron bisa mendengar nya. Aaron mengecup kening Almira kembali. Dan tak lama kemudian, ia membuka selimut yang menutupi tubuh Almira. Ia melebarkan kaki Almira dan melihat milik istri nya yang masih bengkak.
Almira sendiri mengerutkan keningnya saat Aaron membuka kedua kakinya. Ia justru memejamkan mata nya saat sesuatu yang dingin di bawah sana. Dan itu karna Aaron yang memberinya salep pada lukanya.
"Om, apa itu dingin,?"
"Salep sayang,"
Almira mengangguk mengiyakan. Tak lama Aaron memperbaiki kaki istrinya kembali.
*
Almira mengerjapkan matanya, ia melepaskan tangan suaminya dari pinggang nya. Ia beringsut bangun dan berjalan tertatih ke kamar mandi . Kemudian ia keluar dari kamar nya, menuruni anak tangga dengan kaki kecil nya. Milik nya sudah tak terlalu sakit, ia bisa berjalan meski tertatih.
"Nyonya.."
Seorang pelayan kaget melihat nyonya nya berjalan ke luar dari kamar, bukankah kemarin sore dia sakit.
"Nyonya ada perlu apa biar saya bantu.?"
"Al mau bikin susu, bibi"
Pelayan mengangguk dan mengiyakan, tak lama kemudian ia membuatkan susu nyonya mudanya. Dalam hati bertanya, bagaimana mungkin tuannya menikahi gadis belia seperti nya, ia pikir kemarin dia adalah keponakan istri tuannya ternyata justru dialah nyonya mudanya.
"Dimana Aaron..?"
Queen pagi buta sudah berada di mension Aaron dan mengagetkan Almira dan pelayan. Almira menoleh pada wanita yang pernah ia lihat bersama suaminya. Ia Ingat jika wanita cantik ini adalah teman tidur suaminya.
Sedangkan Queen yang melihat Almira duduk manis di meja makan mengepalkan tangannya. Nafasnya memburu saat melihat dia lah putri Zoya. Gadis belia yang merebut Aaron darinya. Dan dia yang sudah merebut posisi nya.
Sementara Aaron yang merasa Almira tak ada di samping nya, matanya terbuka lebar dan langsung mendudukan dirinya.
Ia langsung beranjak turun dan melangkah lebar ke kamar mandi.
"Al,...."
.
.