Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 86


Nicholas salah tingkah saat mendapati Aaron tiba-tiba datang mengagetkan nya. Ia pikir wanita ini tak datang bersama Aaron mengingat jika dia sendiri tadi.


"Maaf saya pikir istri anda sendiri tadi tuan." Ucapnya.


"Ada perlu apa anda pagi pagi datang ke perusahaan saya tuan Nicho. Bukankah kita sudah menandatangani kontrak kerjasama kita. Apa anda ingin membatalkan nya, saya tidak keberatan dan saya tak akan rugi."


Ucap nya datar, Aaron sudah gerah dengan rekan bisnisnya ini. Ia tak akan pernah membiarkan wanita nya di lirik oleh siapapun apalagi dengan nya. Aaron menyesal telah bekerja sama dengan nya. Jika pria ini tak terlalu penting dalam urusan bisnis nya ia yakin akan menembaknya mati kali ini. Tapi sayang nya, Nicholas juga pebisnis yang tidak di ragukan lagi.


"Maaf tuan, saya hanya mampir kebetulan saya lewat dan saya mampir ingin bertemu dengan anda tuan. Ku pikir kita bisa berbincang ."


Ucap nya, melirik ke arah wanita di samping Aaron.


Aaron sendiri tersenyum tipis, ia melepaskan tangannya dari pinggang Almira.


"Sayang kau ke atas dulu ya.?"


Almira mengangguk mengiyakan dan pergi meninggalkan suami dan rekan bisnisnya.


Setelah melihat istrinya masuk kedalam lift. Aaron menatap datar pada Nicholas.


"Apa anda memerlukan bantuan pada ku tuan, atau ada beberapa yang belum Anda mengerti dan tak setujui. Kita bisa membahas nya lagi, atau anda ingin membatalkan nya, saya tidak keberatan."


Ucap Aaron menatap datar pada Nicholas. dan Nicholas sendiri menggelengkan kepalanya.


"Sama sekali tak ada yang salah tuan Aaron. Seperti yang saya bilang tadi, saya tak sengaja' lewat kemari dan mampir."


"Tapi tidak perlu, mengincar sesuatu yang bukan milik anda bukan. Jika anda berpendidikan tinggi, anda tak akan berbuat lancang. Maaf jika anda tersinggung, saya hanya tak suka milik ku dekat dengan siapapun."


Nicholas tersenyum kecut, ia menatap Aaron di depannya. Rupanya Aaron tau jika ia menginginkan istrinya.


"Jika ada kesempatan kenapa tidak, permisi."


Nicholas pergi meninggalkan Aaron yang menatapnya tajam. Ia tak perduli jika wanita cantik itu adalah milik Aaron. Jika ada kesempatan kenapa tidak.


Sedangkan Aaron sendiri mengeraskan rahangnya mendengar ucapan rekan bisnisnya.


"Aku tak akan pernah membiarkan wanita ku di miliki oleh orang lain. Jika aku tak membutuhkan mu, aku akan menembakmu sekarang juga, lihat saja jika kau berani macam-macam denganku. Aku tak perduli siapa kau."


Aaron berbalik dan menyusul istrinya yang lebih dulu ke ruangan nya. Ia mengumpat dirinya sendiri yang melakukan hal bodoh dengan bekerja sama dengan Nicholas. Anak seorang jendral di kota ini, jika dia bukan putra seorang jenderal, ia yakin akan menembaknya. Tapi sayang nya, dia juga bukan pria biasa yang bisa ia remehkan. Apalagi saat ini Almira sedang mengandung, ia harus bisa memperhitungkan nya lagi.


Sampai di ruangan nya Aaron tak mendapati istrinya di ruangan nya. Ia berjalan ke kamar pribadi nya, sama tak ada Almira di dalam.


Aaron berjalan keluar dari ruang pribadi nya.


"Di mana istri ku sialan,"


"Di sini Hubby?"


Aaron melangkah lebar mendekati Almira dan langsung memeluk nya. Hampir saja ia menggila tak menemukan istrinya di ruangan nya.


"Dari mana,?"


"Nyonya salah masuk tuan,"


Almira nyengir kuda, melihat tatapan Aaron padanya.


"Al lupa Hubby lantai nya ada berapa dan di mana."


Aaron menghembuskan nafasnya perlahan, ia pikir Almira tau di mana ruangannya berada. Rupanya istrinya sama sekali tak mengingat nya dan tak tau di mana ruangan nya.


"Maaf sayang."


Cup....


Aaron menggandeng tangan Almira masuk ke dalam ruang CEO miliknya. Bodoh nya ia membiarkan Almira pergi sendiri tadi. Aaron berkali-kali mengumpat kebodohan nya.


"Hubby, bukankah tadi pria itu yang semalam.?"


"Sayang,"


"Al hanya bertanya Hubby, Al pikir Al salah ternyata benar dia pria yang semalam kita datang ke pestanya. Dia memang masih muda dan_"


Cup....


Aaron membungkam bibir istri nya, panas dadanya mendengar Almira selalu membahas Nicholas. Cemburu jika Almira memperhatikan pria lain selain dia.


"Hubby,"


"Jangan membahas nya lagi sayang, aku tak suka mendengar nya."


Ucapnya


mendudukkan Almira di pangkuannya dan membuka laptop nya.


"Sialan aku menyesal bekerja sama dengan nya,"


Umpat nya dalam hati. Dadanya masih bergemuruh hebat menahan emosi dan cemburu. Tapi istrinya sama sekali tak merasa bersalah dan tak peka.


Almira mencebikkan bibirnya mendengar penuturan Aaron padanya. Padahal ia hanya bertanya.


"Hubby Al mau turun,"


"Jangan kemana-mana sayang,"


"Ya,"


Almira berjalan pada rak buku milik Aaron, Aaron sendiri tak keberatan Almira mau berbuat apa, yang penting masih dalam pengawasannya. Tak lama kemudian ponselnya berdering menampilkan nomor David. Aaron mengerutkan keningnya tak biasa nya David menelponya lebih dulu.


"Ya.."


"Awas saja jika kau berani macam macam dengan putri ku, aku tau mantan kekasihmu datang lagi dan ingin kembali lagi padamu kan. Jika kau macam macam aku akan mengambil Almira, ingat itu."


Aaron mengeraskan rahangnya mendengar penuturan David. Itu artinya ada yang melapor pada papa mertua nya.


"Awas kau."


"Apa brengsek." Sembur David mendengar suara Aaron.


"Tidak papa mertua, aku tidak berselera dengan yang sudah tua."


Tut.. Tut....


"Nathan brengsek, pantas saja pria tua itu selalu mengoceh padaku, ternyata Nathan mata matanya. Nathan sialan, dia pasti sengaja menjelekkan nama ku di depan papa mertua."


Aaron bangkit dari kursi nya dan keluar dari ruang nya mendatangi ruang Nathan di sampingnya. Sedangkan Almira sendiri menautkan kedua alisnya melihat suaminya pergi meninggalkan nya.


Brakkk...


Nathan berjengit mendengar suara pintu di dobrak dari luar.


"Mati aku.."


Nathan menunduk saat melihat mata tajam tuannya mengarah padanya. Ia mengusap kening nya yang berkeringat, gugup setengah mati melihat tuannya seperti ingin memakannya.


"Jadi kau yang selalu menjelekkan aku di hadapan papa mertua ku. Apa kau senang pria tua itu selalu mengoceh padaku hah...."


"Tidak tuan, tuan David mengancam ku akan membunuhku jika aku tak mematai anda tuan."


Aaron mengeraskan rahangnya mendengar jawaban Nathan padanya yang bodoh.


" Sebenarnya aku atau papa mertua ku tuan mu bodoh. Kurang ajar, awas saja kau."


Aaron mendengus dan pergi meninggalkan Nathan. Asisten nya itu entah bodoh atau pintar. Menjelekkan dirinya di depan mertuanya. Dia pikir ia juga mau apa dengan wanita lain. Almira lebih cantik dan menggairahkan, mana mungkin ia akan melirik wanita lain selain Almira.


"Awas saja jika pria tua itu mengoceh padaku."