Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode.89


David mencari keberadaan istri nya, entah siapa yang seharusnya marah, dirinya atau Zoya. Wanita memang benar benar menyebalkan.


Sementara Zoya sendiri berada di dapur.


" Nona, biar saya saja yang memasak. Nona tunggu saja di kursi."


Pelayan mewah milik David meremas tangannya. Ia takut jika sang tuan melihat istrinya berada di dapur dan memasak. Ia takut tuannya menuduhnya tak mau memasakkan nonanya.


" Tidak apa apa, aku ingin masak sendiri kali ini. Aku sudah lama tak membuat kue, aku rindu membuatnya."


Zoya tersenyum tipis, membayangkan bagaimana keadaan toko miliknya sekarang. apakah Rina masih bekerja di sana. Apa Rina menutup toko nya.


Ya Zoya meninggalkan toko kuenya begitu saja. Bibinya sendiri dulu yang meminta ia yang akan meneruskan tokonya. Tapi sekarang bibinya juga punya toko pecah belah yang David berikan pada pamannya.


David mengerutkan kening nya tak mendapati istrinya di kamar Almira. Putrinya juga tak ada di kamar, kemana mereka. Tak lama kemudian Almira datang bersama Lala.


"Sayang di mana bunda..?"


Almira menggelengkan kepalanya, ia lalu bergelayut manja di leher David. Dia sudah lupa tadi David membuatnya takut dan menangis. Alhasil Lala mengajaknya main di taman belakang.


"Unda, gak tau.."


Cup..."Putri Daddy sudah bobo siang apa belum," Almira menggeleng kan kepalanya.


"Sama mbak Lala ok, tidur siang..!"


Setelah mencium pipi bakpao Almira, David pergi mencari istri nya kembali. Ia bingung, kemana istrinya pergi. David mencari kemana mana tak ada, ia bingung kemana dia. Kakinya melangkah menuju dapur, di sana ia melihat dua pelayan sedang berdiri menunduk.


Tak lama kemudian David memintanya pergi. Ia mendekati Zoya dan memeluknya dari belakang.


"Bikin apa sayang...?"


Zoya sendiri kaget, ada tangan besar melingkar di pinggang ramping nya.


"Mas aku kangen bikin kue, nanti mas harus makan kue buatan Zoya."


David mengikuti langkah sang istri, ia bergelayut manja di punggung kecil Zoya.


"Mas ih, ga kembali lagi ke kantor?"


" Ga, istri ku marah, mana mungkin aku mau pergi."


Zoya menghembuskan nafasnya perlahan. Ia melirik ke arah di nama tadi ada dua orang pembantu. Mereka sudah tak ada di tempatnya tadi. Pantas saja suaminya menempel, mereka semua tak ada di sini.


"Mas, aku ga marah sama mas David. Hanya sebal aja, kenapa mas David mengusir guru privat nya Al. Bagaimana jika dia tak mau lagi kembali kesini.?"


"Kalau pun dia mau, aku yang akan memecatnya. Enak saja, aku tidak akan membiarkan pria itu datang kemari dan mencuri curi pandang denganmu."


Zoya mendengus ia lalu berbalik melanjutkan membuat kue.


Setengah jam kemudian Zoya tersenyum melihat hasil karya nya. Ia lalu membawanya ke hadapan suaminya.


"Sudah masak sayang..?"


" Tadinya Zoya ragu gak mau ngembang. Tapi ngembang juga, itu artinya, masih bagus bahan nya mas."


Zoya memotong kue untuk David, dan memberikannya pada suaminya.


Hap....


David menatap kue di atas meja. Ia mengerutkan keningnya, merasakan rasa asing di mulutnya.


"Sayang, ini kamu yang bikin?"


Zoya mengangguk mengiyakan, ia melahap dengan rakus kue buatan nya. Sementara David sendiri bingung. Bagaimana Zoya bisa selahap itu. Dan lagi istrinya apa tak salah memasukkan bahan. Kenapa rasa kuenya seperti asam.


"Sayang, kau tak salah membuatnya?"


"Aku hanya menambahkan tomat di dalamnya mas."


David hanya mengangguk, ia juga memakan lagi kue itu, takut jika istri nya tersinggung dan marah lagi. Padahal kue itu, sangat aneh rasanya. Sejak kapan brownis di campur dengan tomat, baru kali ini ia mendengarnya.


" Siapa yang membuat kue, kau Zoy..?"


"Iya bunda"


"Kau memang berbakat, pantas saja kuemu dulu laris. Ini pasti sangat enak."


Sinta mengerutkan keningnya merasakan rasa aneh di dalam mulutnya. Apa ini yang biasa Zoya buat lalu di jual. Sementara David sendiri melirik ke arah wanita cantik yang sudah melahirkan nya.


"Apa yang kau masukan bahannya Zoy, aneh gini. Kamu yakin waktu bikin kue kamu yang bikin, ko mau pelanggan mu."


David meringis mendengar ibunya berkomentar. Secara tidak langsung juga, ibunya mewakilinya. Tapi ini ia juga pernah memakan kue Zoya, dan jauh berbeda dengan yang ini.


"Bunda kenapa meragukan Zoya, aku sudah lama membuat kue Bun. Bunda saja yang tak pernah membelinya. Tadi memang Zoya menambahkan tomat ke dalamnya."


Zoya berdiri dan melangkah menuju kamar nya. David sendiri bingung, sejak kapan istrinya memarahi ibunya. Lain dengan Sinta, ia justru tersenyum lebar. Semoga saja kali ini benar dugaannya. Tak terasa ia meneteskan air matanya.


David yang melihatnya merasa bersalah.


"Mom, maafkan Zoya. Mungkin Zoya masih marah dengan David. Jadi dia melampiaskannya pada mommy."


"Kita harus ke rumah sakit Dav. Bunda ingin memastikan sesuatu. Ayo panggil Zoya, kita pergi.?"


David mengerutkan keningnya mendengar penuturan ibunya. Tak ayal ia mengikuti saran ibunya.


Di sinilah mereka berempat. Zoya menatap kosong jauh ke depan. Ia tau apa yang di inginkan Bundanya. Ia juga menginginkan juga, tapi bagaimana jika tebakan bunda meleset. Pasti wanita itu akan kecewa.


Tak lama kemudian Zoya masuk ke dalam. Ia meremas gaun panjang nya. Dadanya berdebar kencang, begitu pun dengan David. Sepertinya ia sedikit tau maksud ibunya.


Zoya meneteskan air matanya. Ia meremas tangan David, mendengar suara di layar monitor.


"Seperti nya, kantungnya lebih dari satu nyonya."


Zoya menangis segukan mendengat nya. Itu artinya ia mengandung bayi kembar.


Cup..."Terima kasih sayang,"


Dokter tersenyum melihat pasangan suami istri itu. Dia tau pria yang bersama, pasien nya. Siapa yang tidak mengenal David Aderson. Semua orang tau siapa dia, pria ini terkenal dengan sebutan pebisnis handal dan perselingkuhan mantan tunangannya.


Clek...


"Sayang bagaimana..?"


Zoya menubruk wanita yang menyayangi nya sepenuh hati. Sinta lebih dari ibu mertua bagi Zoya. Dia menyayangi dirinya dan putrinya. Mungkin ini adalah doa ibu, yang menginginkan seorang cucu.


"Zoya hamil bunda,"


Sinta mengeratkan pelukannya pada Zoya. Ia tak bisa membendung air matanya. Akhirnya, Tuhan menitipkan kembali bayi di rahim menantunya.


"Bunda tau, di dalam perut Zoya tak hanya satu, mereka kembar."


Sinta tak bisa menyembunyikan bahagianya. Semoga saja, ini menjadi rejeki untuk David dan dirinya.


Almira menangis di pelukan David. Ya melihat Oma dan bundanya menangis, ia juga ikut menangis.


"Ey sayang, Al akan punya adik bayi nanti."


Almira menghentikan tangisnya, ia menatap wajah David.


"Ya Al akan menjadi kakak sekarang, Al senang?"


Tak lama mereka semua pulang ke rumah. Tak ada yang paling membahagiakan bagi David dan ibunya. Semoga saja, kali ini ia mereka bisa menjaga titipan yang di berikan untuk nya.