
"Unda..."
Melihat putrinya yang takut, David mengeraskan rahangnya. Menatap tajam pada Kartika.
"Keluar..."
"Dav...."
Jika tak ada putrinya, ingin sekali David membentak wanita tak tau malu ini. Apalagi Almira sudah takut saat ini.
Zoya menyembunyikan wajah putrinya. Ia mengusap punggung gadis kecil yang berada di pelukannya.
"Keluar..."
"Kau tak bisa seperti ini padaku Dav."
Kartika menatap Zoya, mendekat dan mengulurkan tangannya menyentuh tangan Zoya.
"Kumohon, jangan mempermalukan aku di depan banyak orang. Ayah ku sakit karna memikirkan pertunangan kami yang gagal."
David berang melihat Kartika justru meminta Zoya agar meninggalkan nya. Ia lalu mendekati dia dan menarik tangan nya.
"Dav...."
Pelukan Almira pada ibunya semakin erat. Mendengar Kartika yang berteriak karna David menyeret nya.
"Tidak apa sayang, tante tadi hanya tak tau jika Al sakit. Tapi jika dia tau Al sakit pasti akan pelan pelan bicara nya sayang."
Almira mengangguk dan melonggarkan pelukannya pada ibunya.
Di luar, David menghempaskan tangan Kartika. Sementara Kartika meringis merasakan panas tangannya yang di cekal David dan di hempaskan begitu saja.
"Tika, David.."
Ibu Tika mendekati anak dan David. Ia melihat wajah tak bersahabat David pada putrinya.
"David ada apa?"
"Dengar nyonya, aku tak pernah mengiyakan pertunangan ini. Jadi jangan sekali kali putri anda mengancam ku atau istri ku. Lagi pula, anda sendiri yang selalu menanyakan nya pada ibuku......
Apa putri anda tak laku hingga kau menawarkan pada pria beristri?."
Wajah Kartika memerah, apalagi ibunya. Tentu saja, mereka tak menyangka David akan menghinanya sekejam ini.
"Dav..."
Ibu Kartika membentuk David, tentu saja ia tak terima putrinya di hina.
"Ingat David, ibumu yang mengatakan sendiri, jika kau akan menikahi Kartika."
"Bukan ibuku, tapi kalianlah mengharapkan ibuku mengatakannya."
Wajah ibu Kartika semakin merah, ia tak menyangka tebakan David benar adanya.
"Kenapa, benar bukan? Kalianlah yang selalu mendatangi ibuku dan merayunya agar dia menyetujui niat kalian."
"Dav...."
"Ingat Kartika, aku sama sekali tak mengenalmu. Dan aku juga tak ingin mengenal wanita seperti mu. Apalagi untuk menjadikan kau sebagai istri ku. Sama sekali tak ada niat bagi ku."
Kartika semakin menunduk, ia tak menyangka David akan bersikap kasar juga padanya. Ternyata isu jika David akan menjatuhkan harga diri orang yang mengusiknya benar adanya.
Brukk...Prang...
Mereka bertiga mengalihkan pandangannya. Apalagi Kartika dan ibunya langsung masuk kedalam.
"Dad..."
Kartika dan ibunya berteriak bersamaan melihat tubuh tua itu sudah berada di lantai. David hanya menatapnya dari luar. Ia sama sekali tak ingin membantu mereka. Tak lama kemudian dokter dan suster datang memeriksa pria paruh baya itu. Ia lalu pergi dari sana, tak ingin mereka semua mengharapkan dirinya. Bukan ia tega, tapi David memang benar benar tak ingin menyakiti Zoya dengan memberi mereka harapan. Apalagi dokter juga sudah ada.
*
"Mas, maaf sebelumnya. Apa maksud wanita tadi?"
Zoya menunduk, takut jika pertanyaan nya akan membuat David marah. Sementara David menghembuskan nafasnya perlahan. Zoya juga harus tau,!
"Sebulan yang lalu mommy menyetujui pertunangan ku dan Kartika. Saat itu mommy tak tau jika kita sudah menikah. Maafkan mommy, dia sama sekali tak tau."
Zoya mengangguk mengerti, ia juga tak bertanya banyak. Meski hatinya ingin menanyakan apakah David mencintai wanita itu atau tidak. Jika dia mencintai nya, lalu kenapa dia selalu bilang jika dia mencintai nya, dan menikahinya.
Zoya berjengit saat David memeluknya dari belakang dan berbisik di telinganya. Tak lama David membalikan tubuh Zoya.
"Katakan, apa yang mengganjal di hati mu?"
Zoya menggigit bibir bawahnya gugup. Apa ia berhak menanyakannya.
David menangkup wajah Zoya dengan kedua telapak tangannya. Matanya menatap dalam mata sayu Zoya. Mata inilah yang selalu membuat ia merasa bersalah. Pandangannya yang selalu saja kosong dan hampa.
"Katakan saja, aku suami mu. Kau harus bersandar di bahu ku, apapun yang ada di pikiran mu, berbagilah padaku?."
Cup....
David melabuhkan bibirnya pada bibir Zoya. Ia ingin istrinya terbuka padanya. Ia ingin Zoya nyaman dan tidak sungkan terhadap nya.
"Apa mas mencintai nya,?....Aku_"
David justru membungkam lagi bibir Zoya, setelah ia tadi melepaskannya sebentar.
"Unda.."
David dan Zoya berjengit kaget, mereka benar benar melupakan gadis kecilnya. Sedangkan Zoya langsung pergi ke kamar mandi. Malu, ia kepergok mesum dengan putrinya sendiri. Bukankah dari tadi Almira tidak tidur, dan dia hanya makan buah tadi.
"Addy dan unda ngapain?"
David tersenyum lebar, ia mengambil buah di tangan Almira lalu menggigit nya.
"Gak ada sayang..."
Setelah kejadian kemarin, Zoya seperti nya menghindari David. Malu dengan kejadian kemarin. Sedangkan David sendiri tak ambil pusing. Meski tindakannya kemarin mencemari mata putrinya. Ia sama sekali tak merasa bersalah. Dari kantor ia langsung kemari. Hari ini putrinya di perbolehkan pulang.
"Unda, Al mau es klim."
"Kan Al baru sembuh, belum boleh makan eskrim. Nanti kalau Al sudah sembuh Ok."
Almira mengangguk di gendongan David. Mereka bertiga keluar dari rumah sakit,
dan Lala yang mengikuti nya.
"Kak Reza..."
Reza kaget, mendapati David dan Zoya di sini. Ia mengepalkan tangannya melihat David. Ingin sekali ia mengatakan jika Kartika adalah kekasih nya. Tapi apa daya, ia tau perangai seorang David.
"Zoya kamu disini, bersama David."
David menatap datar sahabatnya ini. Sementara Reza pura pura tak tau tentang mereka berdua. Tangan yang terkepal perlahan mengendur.
"Dav, ada yang bisa jelaskan?"
Cih..
David berdecih melihat wajah Reza. Tak mungkin temannya ini tak tau.
"Sayang, ayo..."
"Eh, eh tunggu. Kau bahkan tak memberitahukan pernikahan mu pada kami Dav." Reza menggaruk pelipisnya, ia tak menyangka David tau, jika dirinya hanya berpura pura.
"Kenapa aku harus memberitahukan pada kalian. Kami menikah di kota B, ayo sayang."
"Kak Reza, mau apa datang kesini. Apa ada saudara yang sakit.?"
David mengalihkan pandangannya lagi pada sahabatnya. Benar kata istri nya, mau apa Reza kemari.
"Ada ayah temanku yang sakit, aku berencana menjenguk nya. Dan kalian?"
"Al sakit kak, demam.."
Reza mengangguk mengerti. Dan David menarik tangan Zoya berlalu pergi, meninggalkan nya.
Zoya mengangguk mengiyakan, ia lalu mengikuti langkah David. Tapi pikiran nya masih tertuju pada Reza. Pria itu tak seperti biasanya, tak seperti dulu jika bertemu dengannya. Apa Reza tak suka dia menikah dengan David.
Sementara Reza mengepalkan tangannya. Ia tak menyangka akan bertemu dengan David. Setelah ia mengetahui jika Kartika lebih memilih David. Dan memutuskan hubungan mereka. Reza tak pernah ingin bertemu dengan sahabatnya itu, tentu saja ia marah dan kecewa.
.
.