
David mengeraskan rahangnya, melihat pria penghianat datang ke perusahaan miliknya. Reza, entah ada angin apa pria itu datang ke perusahaan milik David. Semenjak David mengetahui jika dia berhianat, dia tak pernah menginjakkan kakinya di perusahaan David. Padahal sebelumnya, Reza akan seminggu tiga kali datang ke perusahaan nya bersama Raka. tapi kali ini Reza baru datang lagi ke mari.
David sendiri tak merasa kehilangan, ia tak perduli sedikit pun dengan Reza.
"Masih berani datang kemari..,"
David tersenyum sinis, melihat wajah Reza yang menunduk. Reza sendiri, mengepalkan tangannya mendengar sambutan yang tak bersahabat. Memang ini salahnya, yang pada dasarnya David bermulut pedas. Ia sudah tau dari dulu, tapi entah kenapa saat ini David menatapnya sengit, bahkan dia seperti hendak membunuhnya. Ya itu wajar, karna ia yang memulai.
"Maaf..."
Satu kata yang keluar dari Reza. Ya Reza baru sadar, ia tak bisa menyaingi David Aderson. Selain kaya, dia juga impian semua wanita. Mungkin saja wajar jika Kartika mengejarnya dan memutuskan dirinya. Tapi sebagai pria ia sangat iri dan tersaingi oleh David.
"Maafkan aku Dav,"
Reza menatap wajah David yang menatapnya datar.
"Bisakah kau kembalikan saham milikmu ke perusahaan ku lagi. Jangan menariknya Dav, aku_"
"Apa imbalannya..?" Reza bingung, ia sendiri tak tau imbalan apa yang di maksud David. Bukankah pria itu tau, dari dulu. Lalu kenapa sekarang bertanya lagi.
"Kau bisa_"
"Jauhkan istri mu dariku, aku muak melihat wajahnya, keluar dari sini.."
Reza menatap tak percaya pada David. Apa David sama sekali tak ingat persahabatan mereka.
"Dav..."
"Keluar..." Reza menghembuskan nafasnya perlahan. Dari dulu juga ia tau, David orang yang keras kepala. Dan tak pernah memberikan ampun pada penghianat. Seketika ia menyesal telah melakukan curang padanya.
Zoya menguap berkali-kali, tak biasa nya ia akan tidur di pagi hari. Ia mengusap matanya yang sangat berat. Saat ini ia sedang bersama putrinya dan guru privat Almira. Tapi entah kenapa belakangan ia sering tidur di pagi hari.
Lala datang bersama jus di tangannya. Ia juga heran melihat nonanya tidur di karpet dan kepala yang bersandar di sofa.
Dert...Dert...
Ponsel Zoya bergetar, Almira menoleh ke sumber suara. Bundanya tidur, sementara ponselnya bergetar. Lala sendiri tak berani mengangkat ponsel nonanya. Tentu saja itu tak sopan.
"Halo,... "
Pria di sebrang telpon mengerutkan keningnya mendengar suara yang bukan pemilik ponsel.
"Al, bunda mana sayang..?"
"Unda atit..."
David yang mendengar penuturan putrinya jika Zoya sakit, langsung mematikan ponselnya. Ia berdiri dan berlalu begitu saja.
"Tuan..."
"Gantikan aku, istriku sakit aku akan pulang."
Rey mengangguk mengiyakan, tak lama kemudian David berlari kecil menuju lobi. Perasaan nya tak enak mendengar Zoya sakit.
Sementara di rumah, Almira menatap ponsel di tangannya.
"Nona kecil kenapa bilang sama tuan, bundanya nona sakit?, Dia tidak sakit nona, bunda nya nona kecil sedang tidur."
Almira mengangguk, tak lama kemudian ia mendekati pria yang sedari tadi mengajarkan menggambar. Satria, guru privat Almira, pria yang sesekali akan mencuri pandang ke arah wanita berhijab tak jauh dari tempatnya duduk.
Satria kagum pada ibu gadis kecil yang menjadi murid nya. Wanita itu sangat cantik, di mata Satria. Apalagi Zoya sedari tadi duduk tak jauh darinya. Melihat putrinya belajar dengannya. Dan saat ini dia tertidur, ia bisa bebas memandang wajah cantik nya.
Lima belas menit kemudian David datang dengan tergesa.
"Tuan..."
"Di ruang belajar tuan." Tak menunggu lama, David segera melangkahkan kakinya menuju ruang belajar putrinya. Matanya menyalak tajam melihat pria yang mencium istrinya. David melangkah lebar, dan menarik pria brengsek yang menyentuh istrinya.
Bug...Bug..
Satria tersungkur di karpet merah, Almira yang melihat Daddy nya memukul pria yang dari tadi bersamanya menangis. Ia kaget, lalu menangis kencang. Saat itu juga Zoya berjengit dan bangun.
Bug...."Tuan..."
" Mas.." Zoya melerai suami dan Satria. Ia menatap pria itu bersalah, lalu melirik ke arah suaminya.
"Keluar..."
"Tapi tuan.."
"Mas ada apa?" Zoya bingung, ia tak mengerti tiba tiba saja suaminya datang dan memukul Satria, dan mengusirnya keluar.
"Maaf tuan, saya tidak bermaksud lancang. Nona tadi tidur dan kepala nya bersandar di kursi."
"Dan kau ingin mencium nya?"
"Tidak tuan. .." Zoya menghembuskan nafasnya perlahan. Ia baru saja paham, jika suami nya salah paham dengan Satria.
"Unda.." Zoya melangkah menghampiri Almira. Lalu menggendong dan membawanya pergi. Pasti putrinya kaget, dan takut.
" Sebelum aku membunuh mu, sebaiknya kau pergi dari sini."
Tak banyak bicara, Satria mengambil tas miliknya. Ia berlalu pergi meninggalkan rumah mewah David. Ia tak menyangka, niat hati ingin membantu justru menjadi bumerang bagi nya. Terlepas dari itu semua, ia juga ingin menyentuh wajah cantik Zoya.
David menendang sofa di ruangan itu. Nafasnya memburu menahan emosi yang menguasainya. Bisa bisa nya pria itu mencium Zoya dan istrinya diam saja.
*
Reza melangkah lesu masuk ke dalam perusahaan nya. David benar benar sudah membencinya.
"Brengsek.."
Reza menyugar rambutnya sendiri, ia bingung harus mencari investor untuk menanamkan saham untuk nya. Ia sudah mendatangi semuanya dan tak ada yang seperti David. Memberikan investasi yang sangat besar. Tapi karna kesalahannya, David menarik saham itu.
"Bagaimana ini, pasti Kartika kecewa jika aku jatuh miskin."
"Tuan..." Reza tak mendengarnya, ia bingung dan putus asa. Di mana lagi ia akan mencari. Kartika sudah menerimanya dengan sepenuh hati. Dan dia justru jatuh miskin, bagaimana jika istrinya meninggalkan nya jika sudah miskin.
" Tuan David mengembalikan sahamnya lagi tuan."
David terkesiap mendengar nya, ia membuka laptop miliknya dan melihat saham milik nya. Seketika ia bernafas lega, David masih menganggapnya sahabat. Tak lama kemudian ia meraih ponsel miliknya. Dan mengetik pesan singkat pada David. Ia tau meski itu hal yang tak di butuhkan David. Tapi ia tetap harus berterimakasih kepada nya.
*
Zoya menatap sengit pada suaminya, Almira menangis karna dirinya. Dan David sendiri, yang di tatap seperti menghembuskan nafasnya perlahan. Harusnya ia yang marah bukan Zoya.
"Sayang...."
"Mas ini kenapa, Al menangis gara gara mas David."
"Maaf sayang, dan tadi kenapa kau diam saja, saat pria itu akan mencium mu."
Di akhir kalimat David bicara ngegas. Dadanya naik turun mengingat Zoya yang diam saja saat pria itu ingin menciumnya.
"Mana ku tau, jika dia mau mencium ku. Kau ini kenapa, datang marah marah."
Brakk...
David berjengit mendengar pintu di tutup kencang. Ia bingung, kenapa jadi seperti ini.