
Qinan bingung menatap Bastian yang menjauh menuju motor milik nya. Bukankah mereka akan pergi ke rumah temannya bersama sama, merayakan perpisahan sekolah.
"Bastian kayaknya marah, pasti dia gak ikut merayakan perpisahan sekolah. Huhh, ada apa sih sebenarnya sama mereka berdua."
Sedangkan Qinan sendiri sudah pasti tau alasannya. Tentu saja Bastian tak akan ikut, Almira sendiri tak ada. Ia tau jika Bastian diam diam menaruh hati pada Almira.
"Kenapa jadi begini, terus siapa dong yang bawa Al tadi. Gak mungkin penculik lah, masa iya penculik yang di bawa cuma satu. Bastian juga cemberut mukanya, Ishhh tau ah..."
Bastian mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Ia tak bisa menerima jika Almira di cium oleh pria dewasa yang hampir menabrak Almira tempo hari. Ya ia ingat, jika dialah orang nya. Pria yang di katakan seram oleh Almira. Dan sekarang wajahnya tak seram seperti saat mereka bertemu. Siapa sebenarnya pria itu, apa hubungannya dengan Almira. Tak mungkin Om David mengijinkan Almira dekat dengan pria dewasa. Apalagi dia tadi mengatakan jika Almira milik nya.
"Bajingan..."
Cemburu yang menguasai Bastian melihat wanita yang diam diam di cintai nya di rebut oleh orang lain. Apalagi dia pria dewasa yang merebutnya. Pria itu tak pantas dengan Almira yang polos dan lugu. Ia yakin jika pria itu ingin memanfaatkan kepolosan Almira.
Sampai di rumah mewahnya Bastian berjalan menuju kamarnya. Ia tak menjawab ucapan ibunya yang menyapanya. Pikiran nya hanya tertuju oleh Almira.
Prang...
Bastian mengamuk di kamar nya, ia menendang Gucci yang diam di samping pintu. Dadanya naik turun mengingat bibir Almira di ***** oleh bibir pria dewasa itu.
*
Sementara di Restoran Jepang ...
Aaron merapatkan duduknya kembali pada Almira. Ia terus menggeser bokong besar nya pada tubuh Almira yang kecil. Padahal, Almira sendiri menggeser terus bokongnya, tapi Aaron justru memepetnya terus hingga di pojok dekat tembok baru Almira diam.
Aaron sendiri sengaja mencari restoran Jepang yang duduk lesehan seperti ini. Trik untuk mendekati sang pujaan hati. Ia yakin Almira akan terbiasa jika ia akan menempel terus seperti ini.
Tak lama kemudian seorang pelayan mengantarkan makanan yang Aaron pesan untuk mereka.
Aaron mendengus saat melihat mata pelayan menatap Almira di samping nya. Apa matanya tak melihat jika dia sudah menempel begini dan dia masih menatap Almira.
"Perhatikan matamu!!,"
Pelayan itu berjengit, tatapan matanya berpindah menatap pria yang melotot padanya. Menunduk, takut melihat wajah seram dengan mata yang hampir keluar. Kemudian ia mundur meninggalkan mereka berdua.
Aaron mendengus melihat pelayan tadi. Dia pikir ia duduk dengan putri nya apa, tersenyum menyebalkan dengan wanita pujaannya. Awas saja jika berani lagi ku penggal kepala nya. Apa dia tak melihat jika ia juga masih muda dan pantas mendapatkan Almira. Apalagi duduk berdempetan seperti ini. Dan dia masih menatap miliknya. Aaron menggerutu dalam hati. Gondok, jika pria tadi tak menghargai dirinya yang duduk menempel pada Almira.
"Sayang kau mau yang mana,?"
Almira menatap banyak nya hidangan Jepang di depannya. Salah satunya hanya sushi yang ia pernah makan.
"Yang ini.."
Almira menunjuk dengan jari mungilnya. Melihat itu Aaron langsung tersenyum dan mengambil sumpit mencapitnya dan menyodorkan pada bibir Almira.
"Enak sayang,"
Almira mengangguk dengan bibir yang penuh. Aaron sendiri yang melihat bibir Almira yang monyong gatal, ingin menyesapnya kembali. Tak lama kemudian ia menggelengkan kepalanya,, mengusir pikiran kotornya pada Almira. Dia harus pelan pelan mendekati gadis polos ini. Zoya dan David tak pernah memperlakukan Almira sembarangan, itu sebabnya, gadis itu terlalu polos dan ia harus bisa menahan diri.
"Om Al kenyang.."
Hah...Baru dua sushi dan dia bilang kenyang.
"Sayang makan lagi Ok, masih banyak."
Almira mengangguk mengiyakan, dan Aaron menyuapinya dengan telaten, tak lupa ia juga akan makan di sendok dan sumpit yang sama.
Cup...
Tiba tiba Aaron tak bisa mengontrol dirinya. Ia menyambar bibir Almira yang terkena saos dengan bibirnya. Tangan besarnya menekan tengkuk Almira, memperdalam ciumannya.
Almira sendiri shock mendapatkan ciuman Aaron lagi. Apalagi ciuman kali ini terasa berbeda dengan yang tadi. Sedikit tergesa dan penuh semangat, di tambah lagi Aaron menyesap bibirnya lebih kuat.
Almira berjengit saat bibir bawahnya di gigit sedikit oleh Aaron. Ia refleks membuka mulutnya, dan saat itu juga lidah Aaron menerobos masuk kedalam. Mengabsen jejeran gigi putih Almira, membelitkan lidahnya masuk kedalam rongga mulut Almira lebih dalam lagi.
Almira gelagapan, ia memukul dada bidang Aaron saat ia hampir saja tersedak dan sesak bernafas.
Aaron melepaskan bibir Almira, ia mengusap bibirnya yang sedikit bengkak dengan jari jempolnya. Kemudian ia mengecup kening Almira lama. Nafasnya memburu menahan gejolak gairah yang membuncah. Aaron tak bisa lebih lama lagi menyembunyikan perasaannya terhadap Almira. Ia memeluk tubuh Almira ke dalam pelukan nya. Berharap Almira bisa mendengar detak jantung nya yang berdebar.
Sementara Almira sendiri masih belum mengerti. Apa yang baru saja terjadi dan apa yang ia rasakan. Ia juga merasakan sesuatu yang membuncah, rasa lain yang belum pernah ia rasakan. Tapi ia tak tau itu apa, yang jelas ia seperti melayang di diperlakukan seperti tadi.
*
Queen menatap keluar jendela kamarnya. Sudah empat hari ia berada di Indonesia dan dia belum mengetahui dimana Aaron berada. Sebelum nya ia sudah bertanya dengan Rosa, apa Aaron sedang bertemu dengan rekan bisnisnya. Dan Rosa mengatakan tidak. Tentu saja wanita itu tak akan berbohong, dia takut jika Queen mengatakan pada kekasihnya.
"Nona, bagaimana dengan persiapan anda.?"
Queen mendesah, ia melirik ke arah wanita yang menjadi asisten pribadi nya.
"Tentu saja aku akan mempersiapkan semua nya. Aku tak mungkin mengecewakan daddy."
Queen berjalan menuruni lantai bawah, sebelum fashion show di gelar. Tentu banyak yang akan ia kerjakan. Pikiran nya hanya tertuju pada Aaron yang tiba tiba saja menonaktifkan ponselnya.
Satu jam ia meneliti disain baju yang ingin ia pamerkan di panggung nanti. Tapi pikiran nya bercabang dan tak fokus. Ini tak bisa di biarkan. Apalagi semalam daddy nya baru saja menelpon.
"Aku akan keluar terlebih dahulu,"
Tanpa mendengar jawaban asistennya, Queen keluar dari rumah mewah peninggalan nenek nya. Mengendarai mobil sport nya dengan kecepatan tinggi. Bagaimana ia mencari keberadaan Aaron di kota besar seperti ini. Dan lagi Aaron belum tentu ada di kota ini. Tapi ia yakin Aaron ada di kota A, sebelum nya Aaron memang menjalin hubungan kerja sama dengan