Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 29


David menatap Zoya yang memeluk Almira. Ia menghembuskan nafasnya perlahan mengingat jika Aaron menginginkan istri dan putrinya. Pria brengsek seperti Aaron tak pantas mendapatkan putrinya. Ia tau jika Aaron tak bercinta dengan wanita itu. Tapi ia membenci Aaron yang selalu ingin merebut milik nya.


"Mas,.."


Almira diam, ia langsung menghentikan tangisnya saat bunda nya memanggil daddy nya. Ia berbalik dan menatap David penuh rasa bersalah.


"Daddy maafkan Al.."


David berjalan mendekat dan memeluk tubuh mungil putrinya. Mana mungkin ia membenci putri satu-satunya. Gadis inilah yang dulu di perjuangkan. Entah kenapa tiba tiba saja Aaron datang dan menginginkan putrinya. Gadis polos dan ceria ini sudah di cemari dengan pria dewasa seperti Aaron. Dan pria itu juga yang menginginkan istrinya dulu.


"Jangan menangis, Daddy tak marah pada Al. Asal Al tidak boleh melakukan kesalahan lagi Ok."


Almira mengangguk dan memeluk David kembali. Tak lama kemudian ia mendongak menatap wajah David.


"Daddy, apa daddy membunuh Om itu.?"


David menatap datar wajah Almira. Sedangkan Almira yang di tatap oleh David langsung menundukkan wajahnya.


"Apa yang Al ingin kan,?"


Almira menggelengkan kepalanya, ia tak ingin David marah kembali padanya. Tapi ia juga ingin mengetahui apa yang David lakukan pada pria itu.


"Dad.."


David tak bisa berkata apa apa, ia marah dengan semua yang terjadi. Aaron brengsek, telah mencemari putrinya yang masih belia. Apa yang pria itu lakukan hingga Almira mencemaskan nya.


*


Queen tak percaya dengan apa yang di dengar nya. Aaron benar benar menikah dengan wanita lain dan dia hanya menganggap nya partner ranjangnya saja. Memuaskan hasrat birahinya agar tersalurkan, dan dia yang menjadi boneka **** nya.


"Pakai lah pakai mu Queen, dan pergi dari sini. Kita sudah tak memiliki hubungan apapun. Aku sudah menikah, ku harap kau menerima keputusan ku."


Queen mengeratkan giginya emosi mendengar perkataan Aaron yang membuangnya. Tak lama kemudian Queen terkekeh, mengingat jika ia hanya di jadikan boneka **** Aaron.


"Aaron sudah sejauh ini aku menunggumu dan kau membuangku begitu saja. Aku sudah memberikan semua nya padamu, apa kau sama sekali tak merasa puas dengan tubuhku dan wanita lainnya."


Aaron menatap tajam pada wanita polos di depannya.


"Pergilah Queen, aku tau bukan aku yang menembus keperawanan mu. Kalau pun aku yang mengambilnya, aku sama sekali tak mencintai mu. Kau yang membuat ku melakukan nya padamu, aku tak memaksanya, dan kau yang melemparkan tubuhmu pada ku."


Queen melangkah dan mengambil baju nya yang berserakan di lantai, lalu memakainya cepat. Air matanya tak berhenti mengalir deras. Aaron sudah membuangnya, ia hanya di jadikan sebagai boneka **** Aaron.


Setelah berpakaian ia menoleh pada Aaron yang duduk di ranjang hotel. Ia mengusap pipinya dengan tangan nya dan menatap Aaron datar.


"Apa wanita itu jauh lebih baik dari ku, apa dia lebih bisa memuaskan gairah birahi mu."


"Queen.."


Mata Aaron menyalak tajam pada wanita yang merendahkan Almira. Secepat kilat ia sudah mencengkram dagu Queen. Queen sendiri meringis merasakan panas dan sakit di dagunya.


"Pergi dari sini Queen, selagi aku masih memberimu kesempatan. Jangan samakan istri ku dengan mu yang murahan itu."


Aaron menghempaskan dagu Queen hingga tubuhnya terhuyung ke samping. Tak lama kemudian Nathan masuk dan menyeret Queen keluar dari kamar Aaron. Jangan sampai tuannya melampiaskan amarahnya pada Queen.


Almira duduk termenung di kamarnya, ia masih memikirkan pria yang bersamanya tiga hari yang lalu. Ia masih memikirkan jika daddy nya benar benar membunuh pria itu. Entah kenapa ia tak ingin jika daddy nya membunuhnya.


"Kak..."


Almira berjengit saat adiknya memanggilnya, ia mengusap pipinya yang basah. Menatap wajah adiknya dan tersenyum lebar pada nya.


"Ada apa dek,?"


"Kakak sudah di tunggu daddy."


Asraf menundukkan wajahnya, menghindari tatapan mata Almira yang sembab. Ia tak ingin kakak nya pergi dari rumah ini. Almira tersenyum dan menghampiri adiknya. Ia memeluk tubuh adiknya yang selalu ada untuk nya.


Almira tertawa saat mengingat jika kedua adiknya lah yang selalu menjadi bodyguard nya saat ia pergi kemanapun.


"Kak,..."


"Ishh... Cengeng, kakak kan sekolah di sana. Masa mau gak boleh sih."


Asraf tak menjawab, ia mengeratkan pelukannya y tubuh kecil kakaknya yang mungkin jarang sekali bertemu mulai saat ini.


"Kakak bilang sama Asraf, apa kakak ingin bertemu seseorang sebelum pergi."


Almira melepaskan pelukannya dan menatap adiknya. Apa ia bisa menemui pria itu. Ia ingin melihatnya dan memastikan sesuatu, jika daddy nya tak melakukan sesuatu padanya.


Tak lama kemudian ia menggeleng kan kepalanya. Ia tak ingin membuat David marah kembali padanya.


*


Sementara Zoya yang melihat David memasukkan koper milik Almira dan juga koper milik nya sendiri, tak bisa membendung air matanya. David mengatakan jika Almira harus sekolah di kota B dan David sendiri lah yang akan menemani Almira di sana. Kemarin saat Almira pulang dari rumah sakit, David meminta Almira pergi meninggalkan kota A agar bersekolah di sana. Sedangkan dia sendiri akan mengelola hotel milik Zoya yang di sana. Ia akan mengikuti Almira pergi, ia akan mengorbankan pekerjaan nya di sini demi putrinya.


Dan Zoya sendiri tak tau apa alasannya, kenapa David menginginkan Almira pergi dari rumah bersamanya. David mengatakan jika dia akan mengelola hotel milik nya yang David berikan saat menikahinya. Dan Almira akan melanjutkan sekolah nya di sana, dengan alasan yang dekat dengan kantor miliknya. Padahal liburan Almira masih lama, tapi David kekeh agar Almira secepat nya pergi.


Sementara Arhas membantu daddy nya memasukan koper milik kakak nya. Ia menunduk lesu, mengingat jika kakak nya akan pergi meninggalkan rumah. Ia juga sama seperti adiknya yang tak menginginkan Almira pergi dari rumah.


Tak lama Almira keluar dari rumah berjalan bersama Asraf. Ia menatap wajah Zoya dari jauh, wanita yang menjadi ibu kandungnya. Wanita yang selalu menyayangi nya sepenuh hati. Tak lama kemudian ia tersenyum lebar pada bunda nya.


Melihat senyum Almira, Zoya mendongak ke atas, ia tak ingin air matanya jatuh melihat putrinya yang akan pergi meninggalkan mereka. Meski dengan alasan sekolah, ia yakin David sengaja menjauhkan Almira dengan seseorang.


Almira mendekat dan tersenyum lebar, ia memeluk bundanya yang selalu menyayangi nya.


"Bun Al sayang dengan bunda... Al sama Daddy pasti kangen dengan masakan bunda nanti di sana."


Zoya mengangguk, tak lama kemudian David memanggil Almira.


"Sayang ayo berangkat,"


Almira melepaskan pelukannya pada Zoya dan berbalik pada David yang memanggil. Ia berjalan mendekati David yang menunggunya.


.


.