
Di lantai dingin, Luna masih shock dengan apa yang baru saja terjadi. Ia didorong kuat oleh David hingga badannya terhempas begitu saja ke lantai. Tak hanya itu, David juga mencengkeram erat dagunya kasar.
Clek..
Rey datang bersama dua orang security. Dan menyeret Luna, keluar.
"Brengsek, lepaskan aku, aku bisa sendiri."
Luna meronta, tangannya di seret oleh dua orang yang diyakini adalah security. Lagi lagi tubuh Luna terhempas kelantai. Akibat dirinya yang meronta dan di lepaskan begitu saja.
" Brengsek,"
"Keluar dari sini nona, sebelum tuan David yang mengeluarkan anda.!"
Masih tak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Luna mendongak menatap sombong wajah Rey.
" Kau hanya pesuruh tuan David, kau pikir aku takut pada mu!"
Reymond mengeraskan rahangnya, mendengar kalimat tak berguna dari bibir wanita di depannya. Tanpa menunggu lama ia menyeret wanita itu keluar dari ruangan CEO.
"Brengsek lepaskan aku, pria sialan.!"
Luna meronta ronta , tangan nya di seret paksa dalam keadaan masih duduk di lantai. Apalagi heels yang di pakai nya terlepas akibat berontak.
Reymond menghempaskan begitu saja tangan Luna. Dan ia masuk kembali kedalam. Mengambil heels milik Luna lalu melemparkannya pada pemiliknya.
"Brengsek,"
Dada Luna naik turun menahan emosi. Ia tak terima dirinya di perlakukan seperti sampah di sini.
"Zoya, aku akan membalas mu,!"
Ia lalu berdiri dan melotot tajam pada dua security yang sempat menyeretnya tadi.
*
Di perjalanan Zoya melihat dua orang anak yang sedang mengamen. Ia melihat kotak makan siang yang di bawanya untuk David. Mengingat itu, ia tersenyum tipis. Kenapa David masih ingin membuatnya menderita. Apa sebenarnya salahnya.?
Zoya melangkah menuju ke arah dua anak yang sedang mengamen. Ia lalu memberikan kotak makan yang ia bawa untuk mereka. Dari pada ia membawanya pulang. Pasti bibi Lili akan menanyakan padanya. Kenapa harus di bawa kembali, itu sudah pasti.
"Zoya.."
Zoya menoleh dan senyum tersungging di bibirnya yang manis. Ia mengucap salam pada wanita paruh baya yang bersama putrinya Arsy yang menyapanya tadi.
"Mami dan Arsy dari mana?"
"Habis belanja Zoy, kebetulan Arsy libur kuliah, jadi mami ajak dia belanja."
Dan Zoya hanya berohria saja. Sedangkan Arsy hanya diam. Gadis itu sepertinya tak seperti dulu, yang selalu ceria saat bertemu dengan nya. Ia seperti menjaga jarak. Entah apa yang ada di pikiran gadis dua puluh tahun itu. Zoya merasa gadis itu pendiam sekarang.
Yang pasti saat ini Arsy tak menyukai Zoya. Mungkin karna Zoya yang tak menerima lamaran kakaknya atau apa. Arsy seperti tak mengenal Zoya. Ia hanya menjawab seadanya pertanyaan Zoya. Sedangkan biasanya ia akan selalu cerewet jika sudah bertemu dengan nya dan juga putrinya.
Sedangkan ibu Rita, menautkan kedua alisnya. Melihat mata Zoya yang sembab. Apa Zoya habis menangis? Tapi tak mungkin ia akan menanyakan pada Zoya. Tentu saja itu tak sopan?
Ibu Rita memandang takjub, melihat rumah mewah di depannya. Dalam pikirannya, apakah ini rumah Zoya.
"Mami ayo masuk, Al pasti rindu dengan mami. Apalagi dengan kamu Arsy?"
Seketika Arsy merasa, jika Zoya sangatlah beruntung. Ya rumah Zoya bahkan sama dengan rumah kedua orang tuanya. Yang notabene adalah keturunan bangsawan. Sedangkan Zoya, dia hanya wanita biasa. Lalu kenapa dia harus seberuntung itu. Apa yang pria tampan itu lihat dari Zoya.? Ya Arsy akui, Zoya memang cantik. Tapi dia wanita yang jauh dari kata layak, jika harus di sandingkan dengan tuan David Aderson.
" Oma,.."
Pecik balita yang hampir berusia empat tahun. Ia berlari kearah wanita yang ia panggil Oma. Tentu saja ibu Rita menyambut nya. Ia sudah menganggap Almira sebagai cucu nya sendiri.
"Cucu Oma, makin berat di gendong."
Almira cekikikan dan mencium pipi tua wanita yang menggendongnya. Ia lalu menoleh ke arah Arsy.
"Ante,"
Arsy menyambut tangan Al dan menggendongnya. Sementara bibi Lili yang melihat Arsy hanya mendesah. Gadis itu seperti baru mengenal Al.
"Apa mungkin dia kecewa karena Zoya tak menjadi kakak iparnya." Bibi Lili bergumam dalam hati. Ia tak lama menggeleng kan kepalanya lagi. Mengusir pikiran buruk tentang gadis itu.
"Bisma bilang kau sudah menikah sebulan yang lalu Zoy?" Zoya mengangguk mengiyakan.
"Maaf mami, Zoya tak memberitahukan pernikahan Zoya. Semua begitu mendadak, maaf."
"Kenapa kau minta maaf, mami senang kau sudah menikah. Meski bukan dengan anak mami, mami ikut senang. Harusnya mami yang meminta maaf pada mu. Karna mami tidak tau jika kau sudah mempunyai tunangan. Maafkan Bisma, mami tau cinta nya Bisma salah padamu. Dia pikir kau masih sendiri, itu sebabnya ia ingin kau menjadi istrinya."
"Maaf..."
Ibu Rita hanya tersenyum dan mengangguk. Lain halnya dengan Arsy. Gadis itu sepertinya tak tau jika Zoya menikah dengan David sebulan yang lalu. Kenapa pernikahan mereka terkesan terburu-buru.?.
"Zoy, pipimu kenapa?"
Setelah kepergian nyonya Rita. Bibi Lili menanyakan kenapa dengan pipinya.
Zoya kelabakan mendengar perkataan bibinya. Apa pipinya merah, sehingga bibinya tau.
"Ga bi, ga papa?"
Bibi Lili hanya mengangguk mengerti. Ia tau, Zoya menyembunyikan sesuatu darinya. Terlihat dari matanya yang sembab dan pipi nya yang merah. Ia hanya kasihan pada Zoya. Kenapa wanita seperti nya, harus menerima banyak sekali penderitaan. Kapan Zoya akan terbuka dengan masalahnya. Wanita itu memang benar-benar tertutup.
" Terbukalah Zoya, jangan menyembunyikan lagi sesuatu yang membuat kau sakit. Lihatlah tubuhmu, sekarang mulai berisi. Setidaknya bicaralah pada bibi, ada apa?" Zoya tersenyum tipis.
"Apa tuan David menikah dengan Zoya, karna ingin membalaskan dendam nya pada Zoya, bibi."
Bibi Lili mengerutkan keningnya mendengar penuturan Zoya.
" Tadi Zoya tak sengaja mendengar jika tuan David sengaja menikahi Zoya."
" Apa kau mendengar nya langsung,?"
Zoya mengangguk mengiyakan, ia memang tadi mendengar David sendiri mengatakan jika dia sengaja menikahinya.
"Zoya, lain kali cari tau lagi, kenapa David bicara seperti itu? Dan kau harus menanyakan nya secara langsung, kenapa dia melakukan nya. Jangan sampai itu semua menjadi kesalah pahaman untuk kalian berdua. Tidak semua pria seperti Rangga Zoy. Jika dia sengaja menikahi mu, lalu kenapa ia mencarikan psikiater untuk mu. Sudah bibi bilang, cobalah buka hatimu untuk nya. Jangan terbelenggu dengan almarhum suami mu. Kasihan tuan David, cintai dia dengan tulus Zoy. Kubur cinta mu pada Rangga bersama jasad nya. Mulailah hidup baru bersama David dan Almira."
.
.