
Reza meringis melihat Kartika yang dengan lahap memakan wortel yang ia beli. Sementara Kartika ia tak perduli Reza melihatnya dari tadi.
"Tika.."
"Ya Dad..." Kartika mengulurkan tangannya pada Kartika.
"Jangan kau kecewakan Reza, Daddy tau dia sangat mencintaimu. Apalagi saat ini kau sedang hamil."
Ya Reza sudah pulang terlebih dahulu. Ia harus bekerja lembur, akibat David yang sebagian menarik investasi miliknya. Alhasil Reza harus kesana kemari mencari investor asing.
Ditia mengusap kepala putrinya. Ia tak ingin berurusan dengan David lagi. Sementara Kartika menangis di pelukan Daddy nya. Mungkin ini sudah menjadi takdir nya, ya ia tak ingin menyakiti Daddy nya. Reza juga pria yang baik, Ia akan berusaha mencintai Reza dengan sepenuh hati, seperti dulu.
Clek..
Kartika mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suaminya.Tak lama terdengar suara gemercik air dari kamar mandi. Ia menghampiri pintu kamar mandi dan membuka nya. Tangan nya melepas semua kain yang menempel di tubuhnya.
Reza berjengit saat merasakan tangan melingkar di pinggangnya. Tubuhnya menegang saat tubuh bagian atasnya bersentuhan dengan kulit polos seseorang.
"Mas Reza, maafkan Tika. Aku ingin mencintaimu lagi seperti dulu."
Reza berbalik dan menatap wajah istrinya. Ia meneguk ludahnya cekat, melihat tubuh polos istrinya.
"Aku sudah berkali kali memintamu agar mencintaiku lagi. Tapi kau selalu mengacuhkan ku. Apa kau bicara seperti ini hanya untuk kesembuhan ayahmu."
Kartika menggeleng, ia mendekat mengalungkan tangannya pada leher Reza. Menautkan bibirnya pada bibir Reza, dan Reza meresponnya. Tangganya menekan tengkuk istrinya, guna memperdalam ciuman. Sementara tangan satunya menahan pinggang ramping Kartika. Miliknya yang di bawah sana juga bereaksi. Sementara Kartika, tangannya turun ke bawah. Tau jika benda itu bereaksi, ia memegang nya, dan menekan dengan tangan nya.
Uh...
Lenguhan Reza keluar begitu saja. ia mengangkat tubuh polos Kartika menuju ranjang mereka. Sementara bibir mereka masih bertaut. Reza membaringkan tubuh polos Kartika di ranjang.
"Kita tak bisa melakukannya di kamar mandi sayang. Nanti jagoan kita, kenapa napa."
Kartika tersenyum dan mengalungkan tangannya kembali, ia menyambar bibir suaminya kembali, mana mungkin ia menyianyiakan kesempatan ini. Semenjak mereka menikah satu bulan yang lalu, Mereka hanya melakukannya beberapa kali. Ia akan menolaknya, jika Reza meminta hak sebagai suami. Tapi kali ini ia sendiri yang meminta Reza menyentuhnya. Mereka bercinta sampai waktu menjelang malam. Reza baru mengakhiri percintaan panas mereka.
*
Dewa terduduk di apartemen miliknya, pikiran nya kacau mengingat bagaimana jika ia juga terinfeksi penyakit mematikan itu. Ia mengumpat Luna, ia menyesal telah menjadikan Luna sebagai, teman ranjangnya.
"Brengsek...."
Sementara Luna sendiri, terduduk di rumah sakit. Matanya menatap kosong ke depan. Apa ia akan mati,? Tak lama kemudian ia menjambak rambut nya sendiri. Ia menyalahkan Dewa, pria tua itu pasti yang membawa penyakit mematikan ini.
Dewa dan Luna saling menyalahkan, mereka berdua tak ada yang menyadari jika inilah hasil dari hidup bebas mereka berdua.
*
"Unda nanti bawa adik bayi pulangnya?" Almira menatap wajah cantik ibunya, ia merengek ingin segera memiliki adik. David lah yang selalu meracuni pikiran gadis kecil itu, selama dua hari. Tentu saja agar ia tak merengek saat ia membawa bundanya pergi.
"Al ingin punya adik kan, kalau begitu Al di rumah sama Oma ya, nanti Daddy bawakan adik bayi untuk Al."
Tak lama kemudian Zoya mengecup pipi putrinya. Ia akan meninggalkan putrinya selama seminggu. Sore kemarin David mengatakan jika mereka akan pergi berbulan madu. Tentu saja ia kaget, bukankah kemarin hanya bertanya saja. Apalagi ia belum mengemas baju yang akan ia bawa. David memberitahukan mendadak pada dirinya.
"Dah unda, Addy,"
Zoya tertidur didalam pesawat terbang. Ini adalah kali kedua nya ia menaiki pesawat terbang. Apalagi ini akan menjadi perjalanan yang paling lama. Itu sebabnya ia memilih tidur di kamar yang tersedia, ia juga baru tau jika di dalam pesawat ada kamar khusus untuk penumpang tidur. Tentu saja Zoya memanfaatkan nya.
David sendiri juga memeluk tubuh istrinya. Ia ikut memejamkan matanya seperti yang Zoya lakukan. Tak lama kemudian Zoya bangun dan berlari ke dalam kamar mandi. Sementara David juga mengikuti nya. Ia mendengus merasakan mual dan pusing secara bersamaan.
" Sayang mual lagi?.." Zoya mengangguk mengiyakan.
David menggelengkan kepalanya, sudah dua kali istrinya memuntahkan isi perutnya. Tak lama kemudian ia membawa Zoya agar berbaring kembali. Ia menipiskan bibir nya, tangannya bergerilya masuk ke dalam gamis milik Zoya.
"Mass..."
"Kau pasti tak akan mual jika kita melakukan nya, sayang?."
Nafas Zoya memburu, dan meremang saat tangan David mengelus area sensitifnya. Tak hanya itu tangan besar itu juga menurunkan kain tipis berenda milik Zoya. Ia membelai area sempit itu dengan jari tangan nya. Mata tajamnya melihat wajah Zoya yang memerah dan menggigit bibir bawahnya sendiri.
Percayalah, David yang melihat wajah itu sangatlah seksi. Apalagi saat ia menekan salah satu jarinya di sana.
Uh....
Zoya melenguh merasakan gesekan yang semakin cepat di bawah sana. Zoya mendesah saat David menambah jari nya.
"Mas..." David sendiri masih menatap wajah penuh gairah Zoya. Ia tak memalingkan dari wajah istrinya. Apalagi saat ia mempercepat gesekan nya di bawah sana. Wajahnya mendongak, tangan nya meremas kain tipis yang ia tiduri.
Ahh...
David tersenyum lebar, melihat wajah merah istrinya yang menuju puncak. Ia melepaskan tangannya. Entah sejak kapan David membuka kain yang menutupi benda panjang miliknya. Ia menyatukannya saat milik Zoya benar benar basah. Bergerak perlahan naik turun, agar Zoya nyaman dengan kondisi yang sangat sempit. Setengah jam berlalu, ia mengakhiri percintaan panas nya bersama Zoya.
"Kau lelah sayang..."
Zoya membuka matanya perlahan saat mendengar bisikan David di telinganya. Tak lama ia mengangguk mengiyakan. Dan David mengecup kening istrinya dan menyelimuti nya kembali. Ia memang sengaja melakukannya agar Zoya lelah dan tertidur.
Hampir dua belas jam lamanya, David dan Zoya berada di dalam pesawat. Saat ini mereka sedang menunggu taksi yang menjemputnya.
*
Dewa berjalan linglung bersama kertas selembar ditangannya. Tak lama kemudian ia mengepalkan tangannya. Berjalan cepat menuju kamar rawat milik Luna.
Luna sendiri berjengit mendengar suara pintu yang terbuka lebar. Ia menolehkan pandangannya pada pintu. Terlihat wajah Dewa yang menatapnya tajam.
"Kau benar benar wanita sialan. Kau kan yang membawa penyakit menjijikkan itu. Aku akan membunuhmu Luna, wanita sialan, kau pantas mendapatkan nya."
Luna sendiri kaget tiba-tiba saja Dewa mencekik lehernya. Ia meronta dan memukul tangan Dewa dari lehernya. Sementara suster yang baru saja datang berteriak. Ia juga kaget, melihat pasien dokter nya yang melotot, akibat cekikikan tangan seseorang.
.