
Sampai di kamar David membawa Zoya ke kamar mandi.
"Mas mau apa, aku udah mandi.?"
"Shuttt... Hanya sebentar sayang."
"Apa_"
David sudah membungkam bibir Zoya terlebih dahulu sebelum istrinya benar benar akan protes. Ia tak membiarkan istrinya menolaknya. Ia sudah gemas dari tadi saat di depan tadi. Saat Zoya menampar Rania, ia menyukai Zoya yang pemberani. Ia pikir Zoya akan membiarkan ia menikahi wanita seperti Rania. Dan ternyata Zoya benar benar sangat menggemaskan saat melawan dan mempertahankan dirinya.
Ya David sangat bahagia, Zoya tak ingin berbagi. Dan artinya ia begitu berharga untuk Zoya.
Perlahan David membuka satu persatu kain yang menempel di tubuh istrinya.
Ah....
Suara ******* Zoya saat David menyesap leher dan turun ke dua benda yang menonjol. Tak hanya itu David juga melepaskan pakaian milik nya dan membuang nya.
"Mas..."
Desisan Zoya saat David membalikkan tubuhnya dan menyatukan milik mereka. Ya di kamar mandi yang luas, David membawa Zoya terbang kepuncak. Apalagi suara Zoya semakin bertambah kencang saat David mempercepat gerakannya.
"Mas perut Zoya sakit.."
Reflek David menurunkan ritme gerakan pinggulnya, mendengar Zoya yang merintih sakit.
"Begini sayang, masih sakit..?" Zoya menggeleng dan David bergerak seperti yang Zoya inginkan. Ia tak ingin menyakiti Zoya lagi, meski belum ada janin di tubuh sang istri ia tak akan bermain liar dan cepat, jika Zoya merasa tak nyaman. Setengah jam berlalu, David sedikit mempercepat gerakannya. Saat puncak itu akan datang, dan tak lama kemudian suara keduanya terdengar nyaring memenuhi kamar mandi yang tak terlalu luas.
"Maaf sayang, apa sakit lagi."
"Sedikit.." David merasa bersalah yang tak menuruti keinginan istrinya. Ia lupa jika puncak itu datang jelas saja di mana titik saraf tubuh terkumpul dan rasa yang luar biasa yang membuncah jadi satu. Itu sebabnya semua pria pasti akan bergerak cepat saat titik saraf melambung tinggi. Tak lama kemudian ia melepaskan kan penyatuannya, membawa Zoya ke bawah shower.
"Apa kita perlu ke dokter sayang.?"
Jelas saja David takut, dua bulan yang lalu istrinya baru saja ke guguran, dan ia takut jika istrinya akan terluka kembali.
" Zoya baik baik saja mas, bagaimana tak sakit. Ini di kamar mandi kita melakukannya berdiri terus, kakinya lemes." Zoya menggerutu bibirnya.
"Apa besok kita harus menyediakan kasur di kamar mandi sayang...Aw..."
David tertawa terbahak saat perutnya di cubit gemas oleh Zoya. Ia tau istrinya malu, jika membicarakan soal ranjang dan bercinta.
"Oma, unda mana?"
"Sedang bikin adik untuk Al.." Almira tertawa kegirangan, ia turun dari kasur nya dan berlari menuju kamar bunda dan Daddy nya. Sedangkan Sinta menggelengkan kepalanya. Ia lupa jika David dan Zoya baru saja masuk ke dalam kamar mereka. Ia tau apa yang akan David lakukan pada Zoya. Ia juga pernah muda dan tau gerak gerik pria.
"Semoga saja mereka mengunci pintu nya."
Ia lalu membereskan boneka yang berhamburan. Ya Sinta sangat menyayangi cucu sambungnya. Ia bukan ibu mertua yang kejam, apalagi akan membenci anak sambung dari putranya. Cukup pelajaran hidup nya yang sakit akibat kebejatan suaminya. Ia tak mau keluarganya mengalami seperti yang ia alami.
Sedangkan di kamar, Almira mengerutkan kening nya. Saat telinga tajamnya mendengar suara ******* dan suara jeritan pelan. Gadis kecil itu tau itu suara bundanya. Tak lama kemudian ia duduk di ranjang besar milik ayah dan bunda nya. Ia berguling guling di ranjang bersama boneka kesayangan nya.
Sepuluh menit kemudian pintu terbuka. Menampilkan David dan Zoya.
Kedua nya berjengit mendengar suara nyaring Al. David sendiri langsung berjalan menghampiri putrinya. Sementara Zoya, ia berpikir sejak kapan Almira di sini, apa dia mendengar mereka saat bercinta.
"Unda jangan main ail lagi, bial ngak di hukum Addy."
Blus...
Jelas saja Zoya salah tingkah, putrinya mendengar jeritannya. Ia melongok ke arah pintu, itu artinya bundanya juga dengar. Tak mungkin Al akan sendiri di sini.
David sendiri menggaruk lehernya yang tak gatal. Almira sangat berbahaya rupanya. Untung saja dia tak membuka pintu kamar mandi.
"Al, ayo sayang kita turun.."
Dari luar kamar Sinta memanggil cucunya. Almira mengangguk dan turun, tapi tak lama kemudian ia bertanya pada Zoya.
"Unda lagi bikin adik bayi untuk Al."
Zoya melotot kan matanya mendengar penuturan Almira. Sementara David sendiri, segera bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah lemari. Ia tau sebentar lagi Zoya akan menyalahkannya.
"Al..."
"Ya Oma.." Almira berlari ke arah wanita yang memanggilnya.
Pandangannya Zoya beralih pada suaminya. Ia menggerutu, menyalahkannya.
Di belahan bumi lainnya.
"Tuan, anda harus segera melakukan terapi. Maaf virus nya semakin menyebar."
Dewa terbaring tak berdaya. Tubuhnya semakin kurus dan bertambah keriput. Ya milik dewa sudah mengeluarkan darah. Kemarin ia pingsan di depan apartemen yang ia sewa. Seorang clining servis yang membawa nya kemari.
Begitu datang ke Singapura, Dewa tak langsung berobat. Investor asing yang menuntut ganti rugi padanya, karna ia menjual perusahaan miliknya tanpa konfirmasi dengan para pemilik saham. Ia di kejar bagai buronan oleh mereka. Alhasil dua minggu yang lalu ia mendekam di penjara. Tapi ia di bebaskan tiga hari yang lalu. Ia di bebaskan dengan syarat uang mereka kembali berikut ganti ruginya.
Dan di sinilah dewa, di rumah sakit kota Singapura. Ia terbaring tak berdaya, miliknya semakin hari semakin sakit luar biasa. Di tambah rasa panas yang menjalar di seluruh tubuh.
"Bagaimana aku menjalani terapi. Saat ini saja uangku habis tak tersisa. Kenapa tak ada yang mencari ku. David tidak kah kau ingin membantu ayahmu,? Brengsek..."
Dewa merintih lagi, sakit di seluruh tubuh intinya dan rasa panas yang menjalar semakin menyiksa dirinya. Ia hanya bisa menangis dan merintih. Saat sakit itu sedikit reda, ia akan mengumpat David dan Sinta, yang tak membantunya sama sekali. Membiarkan dia mati perlahan, seperti cacing yang terkena sinar matahari dan garam.
*
Nancy mengerutkan keningnya, pagi ini ia sengaja lewat di samping kontrakan Luna. Ia berniat memamerkan makanan yang ada di tangannya. Pasti wanita hamil dan berpenyakitan itu akan tergiur dan akan merangkak di kakinya.
Tapi pagi ini, ia sama sekali tak mendengarkan suara atau rintihan Luna.
"Kemana dia, apa pria itu membawanya. Brengsek...
Awas saja kau pak tua, kau hanya memberiku sedikit upah, sedangkan kau membawa Luna pergi ke apartemen mewah mu lagi."
Nancy tak tau jika Dewa sudah jatuh miskin, selain itu juga ia sama seperti Luna. Yang Nancy tau Dewa pria hidung belang yang sama dengan kebanyakan Sugar Daddy yang lainnya. Akan membuang mainnya, saat tak berguna. Tapi ini, Dewa justru membawa Luna dari sini. Sialan....