Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode. 78


Ah...


David melenguh saat tangan Zoya menekan miliknya. Apalagi bibir istrinya menempel kesana kemari banyak meninggalkan jejak di tubuhnya yang liat.


"Sayang..."


Nafas David memburu, matanya terpejam merasakan benda panjang miliknya di hisap oleh bibir mungil Zoya. Entah dari mana istrinya belajar seperti itu. David tak pernah mengajarkan istrinya untuk melakukannya. Apalagi sampai meminta Zoya melakukannya.


"Zoya..."


Tubuh David bergetar hebat saat Zoya menekannya lebih dalam lagi. Dan Zoya terkikik geli melihat wajah merah suaminya. Ia tak menyangka wajah David akan merem melek, itu sangat lucu baginya.


Sementara David membuka matanya, saat merasakan miliknya di biarkan begitu saja. Apalagi puncak itu akan datang, istrinya benar benar keterlaluan.


"Zoya..."


"Wajah mas David lucu..." David membuka mulutnya mendengar istrinya mengejeknya. Itu artinya Zoya melihat wajahnya dari tadi yang keenakan. Tak lama kemudian ia mendorong istrinya ke atas meja. Dan membuka kedua pahanya. Sekarang giliran Zoya yang memejamkan matanya. Saat David menundukkan wajahnya. Entah apa yang David lakukan di sana.


Antara rasa geli dan nikmat hingga tak sadar tangannya menekan kepala David.


"Mas David..."


David tersenyum lebar, ia lalu berdiri mengusap kening istrinya yang berkeringat.


Cup...


"Aku mencintaimu Zoya,"


Berbisik mesra di telinga istrinya dan tangannya mencoba menyatukan milik mereka.


Uh....


David mengecup wajah cantik Zoya. Ia akan mengukir kenangan manis di ruangan ini. Ia akan membuat Zoya melayang dengan permainannya kali ini. Ia tidak akan menyakiti Zoya seperti yang ia lakukan dulu. Bermain kasar hingga mereka kehilangan buah cintanya.


Satu jam lamanya David baru mengakhiri permainan nya. Saat melihat Zoya memejamkan matanya di meja.


"Sayang..."


"Mas, aku capek. Tubuhku sakit semua,"


David kelabakan mendengar nya ia melepaskan penyatuan nya dan membopong tubuh Zoya.


"Mas mau apa?"


"Mananya yang sakit sayang, jangan membuatku takut lagi." David justru menangis lagi. Dan Zoya menyembunyikan wajahnya.


"Bagaimana tidak sakit, mejanya keras." David tersenyum miring mendengarnya. Dan Zoya mencubit perut keras David. Ia tau apa yang suaminya pikiran. David hanya tertawa renyah.


Ia tersenyum lebar melihat Zoya yang tertidur pulas. Pagi tadi mereka bercinta lagi usai Zoya menunaikan ibadah nya. Hingga Zoya benar benar tidur, sampai matahari mulai terik.


"Unda..."


David menoleh ke arah pintu lalu membukanya. Di lihatnya putrinya sudah cantik.


"Hmm... Sayang nya Daddy sudah wangi. Bunda masih tidur sayang. "


"Unda sakit..." David menggeleng. Ia lalu membawa Almira ke meja makan. Ia membiarkan istrinya tidur terlebih dahulu, ia yakin istrinya kelelahan. Dari ruang kerja dan di kamar David menggempurnya. Apalagi di tambah subuh tadi, hingga Zoya benar benar memohon pada nya, agar menyudahi permainan mereka. Dan akhirnya dia tertidur.


David makan bersama Almira, gadis ini sudah pintar makan sendiri. Meski banyak yang jatuh, tapi Almira pintar. Dia tak mau lagi di suap olehnya lagi.


"Sayang nya Daddy sudah pintar makan sendiri?"


"Kata unda, Al harus pintar Addy. Jika ingin punya adik bayi."


Deg...


"Addy..." David berjengit, ia lalu mengusap wajahnya yang basah.


"Ya sayang, bunda benar. Nanti Al punya adik." Almira tersenyum riang mendengarnya. Sementara David sendiri, merasakan penyesalan yang luar biasa. Jika dia tak marah dan cemburu, mungkin saat ini dia masih di rahim istrinya. Dan mungkin saat ini Zoya akan mengidam.


"Tuan, ada yang mencari nona muda." David menautkan kedua alisnya. Mencari istrinya, sudah hampir dua bulan lamanya Zoya tinggal di rumah mewah nya. Belum ada seorang pun yang mencari istri nya. Lagi pula Zoya juga tak banyak yang mengenalnya.


David mengerutkan keningnya mendapati pria yang duduk di kursi tamu. Sepertinya ia pernah melihatnya.


Sementara Bimo, berdiri menatap pria yang dulu datang ke toko miliknya. Ya ia masih ingat, David Aderson. Pria yang mencari Zoya, hingga ibunya sakit dan akhirnya meninggal.


"Apa tujuan mu menikahi Zoya.?"


Bimo langsung pada niatnya, ia yakin David hanya memanfaatkan Zoya. Tentu ia tak akan membiarkan Zoya bersama dengan pria yang dulu marah dan mengancamnya, agar Zoya bertanggung jawab. Ia baru tau jika Zoya menjadi istri David sekarang. Kemarin ia menonton berita yang menampilkan pesta pernikahan David bersama Zoya. Itu sebabnya ia datang kemari.


"Untuk apa kau datang kemari..?"


Bukannya menjawab David justru bertanya kembali. Ia tak tau siapa pria ini, yang jelas pria ini mengenal istrinya.


"Katakan padaku, apa tujuanmu menikahi Zoya. Aku tau kau hanya ingin memanfaatkannya. Di mana Zoya?"


David tersenyum sinis, sebagai seorang pria David tau dari gerak gerik pria di depannya.


"Jangan pernah bermimpi merebutnya dariku.!"


Tangan Bimo terkepal erat, dari mana dia tau jika ia menyukai Zoya. Ia yakin Zoya terpaksa menikah dengannya. Tak lama kemudian Almira datang bersama dengan boneka di tangannya. Gadis itu bergelayut manja di lengan David. Dan duduk di pangkuan David.


Interaksi keduanya tak luput dari pandangan Bimo. Ia meneliti wajah cantik bocah di pangkuan David.


"Sayang, sudah makannya?" Almira mengangguk, dan beralih menatap Bimo.


"Addy, ciapa Om cana..?"


David menggelengkan kepalanya, ia juga tak tau siapa pria ini. Tiba-tiba saja datang ke rumah nya menanyakan istrinya.


"Kak Bimo..."


"Zoya.."


David melotot tajam melihat pria ini tersenyum lebar pada istrinya.


"Kak Bimo apa kabar? Maaf Zoya tak sempat datang ke toko kakak." Mereka hanya berdua saja. Sementara David, pria itu masih mengamati istri dan pria itu dari jauh. Ia sebal dengan Zoya yang mengusirnya agar tak menguping pembicaraan mereka.


"Awas saja jika mereka janjian bertemu di luar. Aku akan mengikatmu di ranjang ku, huh."


David menggerutu bibirnya, ia tak rela istrinya bertemu dengan pria itu. Apalagi mereka duduk dan berbincang berdua. Hari libur kerja, niat hati ingin bermanja dengan istri di kacaukan oleh tamu tak di undang.


"Katakan padaku Zoy, kau hanya terpaksa menikah dengannya. Pria itu yang mencari mu tiga tahun lalu. Dia yang datang mengancam ku, lalu kenapa tiba-tiba kau menikah dengannya."


Bimo menatap lekat wajah Zoya, ia kecewa dengan Zoya. Sekian tahun ia menunggu Zoya membuka hati kembali dan menerima nya. Tapi dia sudah menikah lagi dengan orang lain. Sebenarnya itu bukan salah Zoya, dia tidak tau perasaan nya padanya. Tapi tetap saja ia kecewa. Kenapa bukan dirinya yang menjadi suami Zoya.


"Maaf kak, Zoya tak memberitahukan pernikahan Zoya. Lagi pula Zoya juga tak tau mas David mengadakan pesta. Sekali lagi maafkan Zoya..."


"Apa kau bahagia Zoy, aku_"


"Sayang..."


David mengagetkan mereka berdua. Sementara Bimo mengepalkan tangannya, ia tau David sengaja memotong pembicaraan mereka.


Dan David menatap tajam wajah Bimo, ia tau apa yang ingin di katakan pada istrinya.


"Kau pikir Zoya akan meninggalkanku dan jatuh ke pelukanmu. Huh mimpi saja.."