
Queen mengusap pipinya yang perih akibat tamparan keras dari daddy nya.
"Mas... "
Cristi tak tega melihat Queen yang menunduk. Biar bagaimanapun juga ia sangat mencintai putri nya. Queen putrinya satu satunya, dan hanya dia yang menjadi kebanggaan nya selama ini. Sudah menjadi Disainer terkenal dan sudah mendunia.
"Lihat lah Cristi, putri mu sudah mempermalukan aku. Apa yang kau lihat Queen, apa kau bahagia menjadi wanita seperti itu Queen. Aku mendidik mu bukan untuk menjadi murahan Queen."
Teriak Dirga pada putrinya, ia sangat malu mendengar jika Queen yang dengan suka rela melemparkan tubuhnya pada Aaron.
"Sayang, katakan pada mommy, apa itu benar Queen.?"
Cristi menatap nanar pada putrinya yang diam saja. Ia memejamkan matanya mengingat betapa murahan nya putrinya.
Plakkk...
Queen tersungkur di lantai dingin mendapatkan tamparan lagi dari ibunya. Queen menangis memegang pipinya yang bertambah kram. Di tambah lagi bibirnya yang terasa perih. Queen mengusap bibirnya yang pecah.
"Mommy sangat kecewa padamu Queen. Kau bukan gadis yang membahagiakan orang tuanya, tapi kau gadis yang mempermalukan kami Queen."
Cristi melangkah pergi ke kamarnya, tapi Queen mencegahnya dengan memegang kakinya.
"Mom jangan seperti ini, Queen melakukan ini karna Aaron yang menjanjikan akan menikahi Queen mom, percaya lah."
Dirga tak percaya dengan apa yang di katakan pada putrinya. Ia berdiri melangkah dan menampar Queen lagi.
Plakk...
"Mas..."
Cristi menatap nanar pada suaminya yang menampar Queen lagi. Ia pikir Dirga tak akan melakukan nya lagi.
"Aku malu punya putri seperti mu Queen."
Queen mengusap pipinya yang sakit dan kram. Ia bangkit dan menatap pada kedua orang tua nya.
"Apa daddy tak berpikir, kenapa harus Aaron dad. Queen yakin jika Aaron terpaksa melakukan ini Dad. Apa daddy tak kasihan pada Queen, dulu ibunya dan sekarang putrinya yang merebut nya dariku. Kenapa kau harus marah padaku dad, salahkan saja Zoya dan putrinya. Karna dia aku menjadi perawan tua, dan belum di menikah sampai saat ini dad."
Queen berlari menuju kamar milik nya, tapi Dirga menyeretnya kembali.
" Dad...."
"Mas..."
Cristi dan Queen shock saat melihat Dirga yang kasar padanya.
Dirga tak perduli, ia menyeret Queen dan menghempaskan Queen begitu saja, hingga Queen tersungkur kembali.
"Katakan pada daddy Queen, siapa pria yang di maksud Aaron.?"
Deg...
Tubuh Queen menegang saat ia mengingat nya. Rodric, pria yang sudah tidur dengan nya beberapa kali dan melepaskan cairan kental di dalam rahimnya dan tak membuangnya.
"Bagaimana Aaron tau tentang Rodric dan bagaimana jika ia hamil dan siapa pria itu.?"
Gumam Queen dalam hati, wajah Nya pucat pasi, mengingat jika ia tak tau siapa pria yang tidur bersama nya dan dia mana tempat tinggal nya.
"Queen, apa kau mendengar daddy hah.."
Bentak Dirga pada putrinya yang diam saja.
"Maafkan Queen dad, Queen tak mengenal pria yang di katakan Aaron. Queen juga tak tau siapa dia,? Queen benar benar tak mengenalnya dad."
Dirga menatap Queen datar, ia beralih pada istrinya.
"Kita pulang sekarang,"
Cristi menatap nanar pada punggung suaminya yang berjalan menuju kamar nya. Ia beralih menatap Queen yang menatapnya penuh rasa bersalah.
"Mom..."
Cristi tak menjawab, ia juga meninggalkan Queen sendiri di ruang tamu. Menyusul suaminya yang pasti akan mengambil koper milik nya dan akan pulang ke Singapura.
Queen menatap nanar pada pintu kamar yang tertutup. Matanya berkaca-kaca mengingat jika Aaron tau, jika bukan dia lah yang mengambil keperawanan miliknya, tapi sebuah alat yang ia beli untuk memuaskan hasrat nya. Dan Aaron juga tau tentang pria yang tidur dengan nya.
*
Kemana...
Aaron kembali melangkah keluar dan bertanya pada pelayan.
"Di mana istri ku.?"
"Nyonya pergi ke perusahaan tuan."
"****..."
Aaron mengumpat pelayan dan Mic yang membawa istrinya pergi ke perusahaan. Apa Mic sangat bodoh, dan apa dia tak sayang dengan nyawanya. Membawa istrinya tanpa sepengetahuan nya, apalagi pergi ke perusahaan nya.
Bagaimana jika Almira tak mendapati ia yang tak ada di ruangan nya.
"Mic bodoh dan brengsek,"
Nathan bingung saat melihat tuannya keluar lagi dan mengumpat Mic.
"Keperusahaan bodoh,"
Aaron menatap tajam pada asisten nya. Di dalam mobil Aaron juga tak berhenti di mengumpat.
"Apa kau tak bisa menyetir mobil Nat."
Nathan menginjak pedal gas nya lagi melihat mata tuannya yang mengarah tajam padanya.
Nathan bingung, bukankah tadi dia sendiri yang bilang tak ingin ke perusahaan lalu kenapa dengan sekarang.
*
Sementara Almira tersenyum lebar saat turun dari mobil yang di mengantarkan nya ke perusahaan milik suaminya.
Ia melangkah dengan kaki kecil nya masuk kedalam. Dan semua karyawan yang melihat istri CEO mereka shock kemudian menunduk.
"Pagi nyonya,"
Almira diam, ia melirik ke arah pengawalnya yang berdiri di sampingnya. Ia tak tau apa yang mereka katakan, tapi ia membalas tersenyum pada wanita yang menyapanya. Sedangkan Mic sendiri masih berdiri dari belakang. Dan tak lama kemudian ponsel Mic bergetar. Tapi Mic mengabaikan ponsel nya, Mic berpikir jika dia adalah rekan nya sesama bawahan Aaron.
Sedangkan Aaron sendiri mengumpat Mic. Ia menendang nendang kursi kemudi di depannya.
"Jangan sampai istri ku ke ruangan ku bodoh."
Nathan menggelengkan kepalanya, memang kenapa jika nyonya nya keruangan nya. Bukankah dia bersama Mic.
"Nyonya naik lift yang ini nyonya.!"
"Tidak yang ini saja Om...."
Almira melangkah menuju lift yang baru saja terbuka.
Brukk..
Tubuh Almira terhuyung ke belakang saat menabrak tubuh seorang pria yang menabraknya. Sementara tangan pria yang menabraknya, melingkar kan tangannya pada pinggang ramping Almira.
"Cantik..."
Pria yang menabrak Almira kaget saat tubuh besarnya menabrak seorang gadis belia yang sangat cantik. Matanya tak berkedip melihat wajah cantik Almira. Tangan nya dengan sigap melingkar di pinggang ramping gadis yang di tabrak nya. Apalagi saat mata Almira yang berkedip menatap nya shock, terlihat sangat lucu dan menggemaskan di matanya.
Dari jauh Aaron yang menatap Almira berada dalam pelukan seorang pria mengeraskan rahangnya. Ia berjalan lebar mendekati istrinya dengan wajah merah padam nya. Dadanya bergemuruh menahan rasa cemburu melihat istrinya berada dalam pelukan seorang pria.
"Beraninya dia menyentuh istri ku, brengsek.."
Almira terkesiap saat mendengar suara Aaron yang menggelegar di lobi perusahaan. Begitupun dengan pria yang menabraknya, tangan nya dengan sigap melepaskan tangannya dari pinggang Almira.
Bug...
"Om..."
.