
Reza menatap Kartika yang keluar dari rumah David. Ia tak menyangka Kartika begitu gigih ingin mendapatkan David. Ia sungguh kecewa pada Kartika. Tak lama ia lalu keluar saat Kartika sudah dekat dengan nya. Menarik tangan Kartika dan mendorongnya ke tembok pagar.
Set..
Kartika hampir saja berteriak keras saat tangan nya di seret paksa oleh seorang.
" Apa mau mu Za? Lepaskan tanganku."
Kartika menatap sengit wajah Reza. Ia tak tau jika Reza mengikuti nya sampai kemari.
"Seharusnya aku yang bertanya Kartika, apa mau mu?. David tak mencintai mu, dia sudah menikah."
"Tapi aku tak bisa menanggung malu Za. Cinta bisa datang kapan saja, asal pertunangan ini tak batal. Daddy sakit, aku harus bagaimana?"
Kartika menangis di hadapan Reza. Ia sungguh ingin David tak membatalkan pertunangan mereka.
"Menikahlah denganku Tika!"
"Tidak.."
Reza menatap wajah sembab Kartika. Hidungnya merah dan matanya bengkak. Padahal lampu jalan hanya remang-remang. Tapi Reza bisa melihat dengan jelas wajah Kartika yang sembab.
"Apa istimewanya David di banding dengan ku Tika?."
Kartika menatap wajah Reza, ia mendorong tubuh Reza yang menghimpit nya.
"Tak ada satu wanita yang akan menolak David Za. Kau tau itu?"
Ia lalu berbalik pergi menyetop taksi yang lewat. Meninggalkan Reza di depan pintu gerbang rumah David. Sementara reza mengepalkan tangannya. Ya pesona David memang jauh darinya. Hingga ia merasa David benar benar beruntung.
Sementara di dalam kamar lainnya. Sinta mengusap pipinya yang basah. Kesalahannya yang menerima perjodohan David begitu saja, sekarang menjadi bumerang bagi keluarganya. Ia tau David, pasti putranya tak akan membiarkan ia malu. Lalu bagaimana dengan Zoya dan putrinya.
*
"Pagi sayang..."
"Pagi addy..."
David mencium kening putri sambungnya. Tak lama ia tersenyum tipis mengingat hal gila yang ia lakukan bersama istrinya. Untung saja gadis kecil ini tak bangun memergoki mereka.
Zoya dengan cekatan membalikkan piring untuk suaminya. Seperti biasa ia akan melayani sang suami dan bundanya.
"Oma nangis,?"
Sinta mengerjapkan matanya dan buru buru mengusap pipinya yang basah. Ya ia tak kuasa melihat kebahagiaan putranya. Sementara Zoya mengalihkan pandangannya pada ibu David. Ya terlihat mata wanita tua itu memerah.
Zoya menunduk ia baru saja mendapatkan kebahagiaan nya. Mendapatkan orang tua yang memperlakukan nya seperti anak sendiri. Ia tak bisa melihat mata tua itu menangis.
"Bunda, apa bunda menyayangi Zoya?."
Sinta menatap mata Zoya, ia tersenyum lebar. Tentu saja ia menyayangi wanita cantik itu.
"Kenapa kau bertanya seperti itu sayang.? Tentu saja bunda menyayangi mu dan Almira."
"Sayang ada apa...?"
David menyela ucapan ibunya. Tak biasanya Zoya akan menanyakan pertanyaan seperti ini.
"Mas David tak boleh membatalkan pertunangan_."
Prang....
David membanting sendok makan nya mendengar kata Zoya. Sementara Zoya langsung menunduk takut. Ya ia sudah memikirkan semalam.
Baginya kebahagiaan Almira sudah cukup. Dia tak perduli dengan suaminya yang akan berbagi. Seperti dulu ia yang akan melakukan apa saja agar suaminya tetap ada untuk putrinya. Asal jangan meninggalkan putrinya, ia siap jika Rangga membawa wanita lain. Begitupun dengan saat ini.
Sinta berjengit kaget mendengar David berteriak keras. Dan Almira, gadis kecil itu langsung menghentikan makannya dan menangis. Zoya meremas gaun panjangnya. Ia memang bodoh, membiarkan suaminya dengan wanita lain.
Dan David langsung pergi begitu saja, meninggalkan meja makan. Padahal ia belum menyentuh sama sekali.
Melihat David meninggalkan meja, Zoya meneteskan air matanya. Ia mencintai David, dan ia tak ingin David malu di gunjingkan rekan bisnisnya.
"Zoy..." Zoya menatap nanar wajah bundanya.
"Zoya tak ingin bunda menanggung malu. Bunda adalah keluarga Zoya dan Almira. Bagi Zoya asal Almira mendapatkan kasih sayang, Zoya ikhlas."
Sinta menatap tak percaya pada Zoya. Entah dari mana datangnya pemikiran wanita yang menjadi menantunya ini.
"Ingat Zoy, David bukanlah Rangga mantan suami mu. Zoya, jangan berpikiran bodoh lagi. Seperti kau yang mengijinkan Rangga menikah lagi."
Zoya menundukkan wajahnya. Dari mana bunda tau, jika ia pernah mengatakan semua itu.
"David yang mengatakan nya pada bunda. Kau tanpa sadar mengatakan pada David. Jika kau akan melakukan apa saja demi putri mu. Lalu bagaimana dengan David. Apa kau tak tau perasaan nya. Dia kecewa padamu Zoy."
Tak lama Sinta juga meninggalkan Zoya dan menggendong Almira. Meninggalkan Zoya di meja makan sendiri.
"Aku harus bagaimana, apa aku salah."
Zoya tak ingin serakah, memiliki suaminya. Ia lebih baik berbagi dari pada menghancurkan suaminya. Dia sadar dia hanya menumpang disini. Meski ia mencintai David, ia tak akan membiarkan David jatuh karna dirinya.
Brakk..
Sementara David membanting pintu mobil nya. Ia sangat kecewa pada Zoya. Kecewa jika Zoya masih menganggapnya seperti Rangga. Tentu saja ia marah, istrinya masih tak bisa mencintainya, seperti mencintai almarhum Rangga.
"Apa tak ada ruang di hatimu sedikit saja untuk ku Zoya.?"
David mengusap kasar wajahnya. Permintaan Zoya sungguh gila. Istrinya itu dengan gampangnya menyuruh nya melanjutkan pertunangan nya dengan orang lain. Dan bagi David, Zoya memang tak mencintai nya, seperti ia yang mencintai nya.
David tak tau jika Zoya mencintai nya, dia hanya tak ingin dirinya jatuh terpuruk. Jika benar Kartika akan mempermalukan dia dan Bunda. Zoya tak ingin mereka menanggung malu.
Sudah seminggu lamanya saat kejadian dimeja makan. David sepertinya masih kecewa dengan sikap istrinya. Sudah seminggu ini ia mengacuhkan Zoya. Ia akan berangkat pagi dan akan pulang lewat tengah malam.
"Zoy.. Daftarkan Al ke sekolah sayang.!"
Sinta makan dengan tenang, tak melirik sama sekali pada Zoya. Ya David bilang biarkan dia berpikir jernih.
"Iya bunda..,"
Zoya tak menjawab semangat, ia masih memikirkan suaminya yang mengacuhkannya.
"Bunda.."
Sinta mendesah lirih, ia tau sebenarnya bukan maksud Zoya yang ingin David menikah dengan wanita lain. Dia hanya tak ingin ia dan David menanggung malu. Tapi cara dia salah, hingga David marah.
Sudah seminggu lamanya David mengacuhkan dirinya. David bahkan pulang selalu larut malam. Padahal Zoya ingin David mengerti perasaan nya. Jika ia sangat mencintai suaminya.
"Bolehkah Zoya keluar sebentar?"
Sinta mengangguk mengiyakan. Tak lama Zoya berdiri dan mengecup kening putri nya. Lalu pergi ke kamar mengambil tas miliknya. Ia akan pergi ke perusahaan suaminya. David tak boleh mengacuhkan dirinya seperti ini. Ia hanya tak ingin David dan bunda malu. Tak ada yang lainnya.
"Pak Ujang, boleh antar kan Zoya keperusahaan mas David."
"Iya neng.."
Zoya masuk, dan mobil yang di tumpangi melesat pergi meninggalkan rumah mewah David.
.
.