
Click....
Mic menegang saat mendengar bunyi senjata api yang siap meluncur kan timah panas nya. Sementara Almira yang melihat suaminya menodongkan senjata api pada pria di depannya ini diam saja. Ia mengira jika pria ini jahat padanya hingga suaminya menodongkan senjata api.
"Maaf tuan, saya hanya tak ingin nona terluka jika mengambil bunga mawar itu."
Aaron mendengus mendengar nya. Ia memasukkan lagi senjata api nya lalu beralih pada Almira.
"Sayang kenapa berjalan keluar sendiri, hmm,"
Aaron mengangkat tubuh kecil istrinya dalam gendongan nya. Sedangkan Mic sendiri menatap tak percaya pada tuan nya. Dia baru tau jika tuannya akan bersikap sangat manis pada wanita kecil yang baru saja ia lihat. Berbanding terbalik saat ia sedang memburu lawannya.
"Om jangan menggendongku terus, Al bisa berjalan sendiri."
Mic masih bisa mendengar jika gadis belia itu memanggil tuannya Om. Ia berbalik melihat punggung lebar tuannya yang menjauh bersama gadis belia itu.
"Tuan benar benar menikah dengan gadis belia."
Mic menggeleng kan kepalanya dan berjalan di mana temannya berada. Hampir saja nyawanya melayang karna menatap wajah istri tuannya. Gadis itu benar benar sangat cantik, ia juga terpesona dengan kecantikan wajahnya. Apalagi mata bundar nya nya besar, terlihat sangat imut di matanya.
"Memang kenapa sayang,?"
"Al malu,"
Aaron tersenyum, ia pikir kenapa istrinya tidak ingin ia menggendong nya. Tak lama kemudian Aaron mendudukkan Almira di tempat duduk meja makan.
Almira dengan sigap mengambil piring dan mengisinya. Sementara pelayan yang berdiri di samping taun dan nyonya nya tak beranjak.
Aaron mengambil sendok dari tangan Almira dan menyodorkan pada bibir Almira. Almira sendiri melirik kearah pelayan yang berdiri tak jauh dari nya.
"Sayang jangan hiraukan mereka."
Almira membuka mulutnya dan Aaron dengan senang hati menyuapkan sendok pada istrinya, kemudian bergantian dengan nya sendiri.
"Sayang Om mau pergi keperusahaan."
Almira mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. Selesai makan Aaron membawa Almira menaiki pintu lift di Mension nya. Membawa kekamar nya dan menyodorkan dasi pada istrinya. Kemudian mengangkat tubuh Almira di atas kasur miliknya.
"Al bisa sayang,?" Almira mengangguk dan tersenyum.
"Bisa, Al suka pasangkan dasi sama daddy, jika bunda repot."
Aaron mendengus mendengar istrinya suka memasangkan dasi pada David. Dalam hati ia mengumpat David yang pertama di pasang kan dasi oleh istrinya.
Cup...
"Om jangan terlalu malam pulangnya ya."
Aaron menatap wajah istrinya yang tak percaya dengan apa yang baru saja ia dapatkan. Jika biasa nya Almira mencium tangan nya, kali ini istrinya mencium pipinya.
Aaron mendekatkan wajah nya pada bibir Almira yang menggodanya sejak tadi.
"Tuan..."
Aaron berbalik dan mendelik ke arah Nathan, pria ini sungguh ingin di gantung di markas nya.
Nathan sendiri yang melihat tatapan tajam dari tuannya menunduk. Ia memang lupa, dan lagi tuannya kenapa tak mengunci pintunya, dan di biarkan begitu saja.
"Om, harus berangkat kan, nanti kesiangan."
Almira menengahi dan turun dari ranjang, menggandeng tangan Aaron keluar dari kamarnya, sedangkan Nathan sendiri mengikuti.
*
Aaron tersenyum lebar saat memasuki perusahaan miliknya. Ia sama sekali tak menghilangkan senyum lebar dari bibir nya. Tak ada yang tak aneh saat melihat pemilik perusahaan terbesar menampilkan senyum lebarnya. Semua karyawan nya heran jika CEO mereka menampilkan senyum lebarnya.
Aaron sendiri tak perduli, jika bukan karena pekerjaan nya, ia sama sekali tak ingin pergi keperusahaan miliknya. Ia ingin di mension bersama dengan istri kecilnya.
Aaron memasuki ruang CEO milik nya, mendudukkan dirinya di atas kursi kebesaran nya. Sudah lebih dari dua minggu ia mengabaikan pekerjaan nya, dan ternyata semua itu tak sia sia. Almira ikut dengan nya ke negara nya, menjadi istri yang akan menyambutnya saat pulang kerja. Mengingat itu Aaron sudah tak sabar untuk pulang dan menemui istrinya.
*
Almira sendiri yang berada di mension hanya berdiam diri menunggu suaminya. Ia melihat ke arah ponsel miliknya, mengabari keluarga nya jika ia baik baik saja.
Setelah mengantar kan suaminya sampai depan pintu tadi. Ia masuk kembali lagi kekamar nya. Ia belum terbiasa dengan tempat asing. Tapi sebisa mungkin ia akan terbiasa dan belajar menyesuaikan diri di mension yang baru. Ia juga tak ingin mengecewakan suaminya. Aaron juga saat ia meminta nya tinggal bersama daddy nya, dia tak menolaknya sama sekali. Dan ia juga harus bisa demi suaminya.
Tentu saja Zoya dan David di sana bahagia jika Almira baik baik saja. Apalagi mendengar suara riang Almira, membuat Zoya juga tenang melepas Almira. Hingga satu jam lamanya, Almira baru mengakhiri sambungan telepon nya pada Zoya.
Almira berbaring di ranjang empuk milik suaminya. Pikiran nya melayang jauh jika saat ini dia sudah menjadi seorang istri. Tapi dia sama sekali belum memberikan hak nya pada suami nya.
"Apa Al harus memberikan nya malam ini."
Almira bergumam lirih, ia yakin jika suami nya itu juga menginginkan nya. Dan dia tak berani mengatakan nya padanya, jika dia juga menginginkannya. Padahal Almira juga tau jika istri tak boleh menolak permintaan suaminya. Ia juga akan siap jika suami nya menginginkan dirinya. Mau sekarang atau pun nanti Almira harus menyerahkan semua hidup nya pada Aaron. Pria yang jauh lebih tua darinya, itu berhak atas dirinya sepenuhnya.
Almira yakin jika ia bisa mengimbangi suaminya yang sudah dewasa.
*
Aaron menatap pada jam yang melingkar di tangan kirinya. Sudah beberapa kali ia melihat nya. Tapi sama sekali tak berubah, masih lama.
"Apa jam nya yang rusak,"
Nathan yang duduk tak jauh dari nya, mendengar kebodohan tuannya yang duduk di kursi kebesaran nya. Ia hanya menggelengkan kepalanya melihat tuannya yang sudah beberapa kali melihat jam tangannya. Pria itu sudah tak sabar ingin pulang, bersama dengan istri kecilnya. Padahal jika di pikir nona nya juga tak akan kemana mana.
Aaron mendengus saat melihat tumpukan berkas di mejanya. Apalagi hari masih lama jika ia ingin pulang.
"Apa kau akan membunuhku Nat, kenapa banyak sekali. Memangnya apa yang kau kerjakan hingga semua tumpukan kertas ini ada di mejaku.?"
Nathan berjengit mendengar suara Aaron yang menggelegar.
"Tuan, itu hanya beberapa lembar saja yang harus anda periksa. Selebihnya saya sudah memeriksanya tuan."
Aaron menatap tajam pada Nathan, ia lalu menoleh lagi pada kertas di mejanya. Memang hanya beberapa lembar saja, kenapa seperti lama sekali dan banyak saat dia melihat nya. Menyebalkan...