Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 89


"Itu.."


David tergagap melihat tatapan tajam Zoya pada nya. Sedangkan Aaron melengoskan wajah nya, memang David yang membuka dan membuang nya.


"Itu sayang, ish apa sih, Aaron berkeringat jadi aku membuka pakaian nya tadi."


Zoya memicingkan matanya mendengar penuturan suaminya. Terdengar seperti aneh di telinga nya, saat David membuka pakaian Aaron.


David salah tingkah, ia sendiri juga bingung dan bertanya-tanya, kenapa juga harus melepaskan pakaian Aaron. Dan lagi pria brengsek itu sama sekali tak membantunya menjawabnya.


"Aaron keluar lah, cari pakaian mu tadi dan pakai kembali. Aku risih melihat mu tak memakai pakaian."


Aaron tak mendengar, ia masih bergelayut manja di pundak Almira. Sama sekali tak melihat ke arah putri nya yang tidur di bok bayi.


"Hubby mandilah,"


Cup....


"Ya sayang, aku akan mandi."


Aaron melepaskan pelukannya pada Almira, matanya melirik ke arah David yang berdiri di depan nya.


"Telponkan Nathan papa mertua, suruh dia membawa pakaian untuk ku." Titahnya pada David. Sedangkan David sendiri menatap tajam, apa apaan Aaron menyuruh nya. Menantu nya ini, benar benar kurang ajar.


"Kau ini tidak sopan Aaron menyuruh mertua, bukankah kau majikannya, ya telpon saja sendiri."


"Bukankah kau sering menelponya juga, dan mengancamnya."


David diam, mendengus mendengar jawaban Aaron. Tak lama kemudian tangan nya mengambil ponsel di saku celana nya dan menelpon Nathan.


Sedangkan Aaron masuk ke dalam kamar mandi, tersenyum penuh kemenangan. David memang tidak boleh menindas nya, ia tau ini adalah kesempatan papa mertua nya.


*


Setengah jam kemudian Aaron sudah terlihat segar, dan sudah berganti pakaian. Ia keluar dari kamar mandi dan melototkan matanya saat melihat Nicholas sudah berada di samping istrinya.


"Pria brengsek, beraninya mendekati istri ku."


Aaron berjalan mendekati Almira dan langsung mendudukan dirinya di samping Almira. Bibirnya mencium pipi kanan Almira. Tak perduli banyak pasang mata yang melihat nya. Ia tak akan pernah membiarkan Nicholas melihat celah untuk merebut istrinya. Apalagi pria itu dengan terang terangan pernah mengatakan nya.


"Hubby, apa masih sakit perut dan punggung nya. Daddy bilang Hubby sangat kesakitan, benarkah.?"


"Iya, punggung ku memang sakit sayang, rasanya seperti mau patah, perutku juga rasanya sakit dan melilit. Uh, sakit sekali Al,"


Almira iba melihat wajah suaminya, sebelum ia masuk ke ruang operasi juga ia sudah melihat Aaron yang kesakitan dan merintih.


Sedangkan Nicholas menatap Aaron dan istrinya tak percaya. Ia baru melihat sisi seorang pria yang terlalu manja pada istrinya, dan itu adalah Aaron. Ia tau siapa Aaron,? Pria kejam dan tak pernah mengenal wanita, dia hanya menjadi kan wanita sebagai pemuas nya saja, tak pernah ia mendengar Aaron berpacaran dengan wanita. Kecuali dengan Helena, itupun Helena sendiri yang mengatakan padanya.


"Tuan Aaron, selamat atas kelahiran putri anda."


"Ya terima kasih."


Menjawab cuek pada Nicholas, andai Nicholas bukan orang penting dan rekan bisnisnya sudah ia tendang dia.


Tak lama kemudian David yang menggendong cucunya membaringkan nya lagi di bok bayi. Nicholas tersenyum melihat David, ia seperti pernah melihat ayah dari istri Aaron ini. Tapi ia lupa di mana ia pernah melihat nya. Tapi tak lama kemudian ia mengalihkan pandangannya pada bayi mungil di dalam bok bayi. Tangan nya terulur mengusap pipi mungil dengan punggung jarinya.


"Nona putri mu sangat cantik_"


"Tentu saja, bibitnya juga berkualitas, ya kan sayang."


Jawab Aaron cepat, ia tak suka jika Nicholas terlalu memperhatikan putri nya, dia pasti akan mengatakan jika putri nya mirip ibunya, menyebalkan.


David sendiri menipiskan bibir nya, melihat kecemburuan David. Ia lalu melirik ke arah pria yang mengatakan jika dia adalah rekan bisnis Aaron.


"Maaf tuan, apa anda sudah menikah?"


"Aku belum menikah tuan, tapi aku sudah mendapatkan wanita ku. Jika dia cerai dengan suaminya aku yang akan menikahi nya."


David hanya menggangguk tapi matanya tak beralih menatap wajah Aaron yang merah padam.


"Sayang sekali, kau menantu idaman semua mertua, jika putri ku belum menikah, aku_"


"Almira istriku, sampai kapanpun istriku," Potong Aaron, ia menatap tajam pada David yang memuji pria di depannya ini.


"Iya, sayang sekali tuan, putri ku sudah menikah."


Nicholas tersenyum kecut, mendengar penuturan Aaron. Ia menatap wajah cantik Almira, dan Aaron yang melihat Nicholas menatap istrinya mendelik.


"Kau singkirkan pandangan mu,"


"Nona semoga cepat sembuh, ini bingkisan dari saya untuk nona dan putri anda nona." Nicholas tak menggubris peringatan Aaron, ia memberikan bingkisan yang lumayan besar yang ia bawa tadi.


"Terima kasih,"


"Kalau begitu saya permisi,"


Almira dan David mengangguk, tak lama kemudian Nicholas menghilang dari pintu.


Sedangkan Aaron sama sekali tak suka perhatian dari Nicholas untuk istrinya.


Almira tersenyum lebar melihat kotak yang di berikan oleh rekan bisnisnya suaminya. Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya. Sedangkan Aaron terbelalak melihat apa isi kotak tersebut.


Sebuah kalung berlian termahal dia antara tumpukan baju baby.


"Wow sayang hadiah nya keren sekali, ini pasti mahal Al. Daddy tak menyangka ada pria sebaik dia yang memberikan orang lain hadiah semahal ini. Sedangkan_"


David melerik ke arah Aaron, dan tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Aaron yang memerah menahan emosi.


"Sini sayang, aku akan mengembalikan nya pada pria brengsek itu, apa apaan memberi istri ku seperti ini. Apa dia pikir aku tak bisa membelikan nya."


Aaron merebut kotak di tangan Almira dan menelpon Nathan. Almira sendiri hanya menggelengkan kepalanya. Ia sendiri juga pasti akan menolak nya jika tau apa isinya. Ternyata suaminya lebih dulu, mengambilnya dan akan mengembalikan. Sedangkan David terkikik geli melihat Aaron yang kebakaran.


Setengah jam kemudian Nathan datang dan menatap David dan Aaron bergantian.


"Tuan memanggil saya.?"


"Kembalikan kotak itu pada Nicholas, bilang padanya jika aku bisa membelikan istri ku tokonya sekaligus."


Nathan mengangguk mengiyakan dan mengambil kotak cantik dan membawanya bersamanya. Ia sendiri juga tak tau apa isinya.


Sedangkan Zoya yang baru masuk ke dalam kamar rawat Almira mengerutkan keningnya.


"Ada apa,?"


"Menantumu sama sekali tak beruntung mendapatkan hadiah untuk putri dan cucu kita. Harusnya dia senang mereka berdua mendapatkan hadiah semahal itu."


Lagi lagi David memancing cemburu Aaron.


"Aku akan membeli tokonya untuk istri dan anakku, asal kau tau. Kau pikir aku miskin tak bisa membelikan mereka perhiasan."


Ucapnya menggebu-gebu, dadanya panas dan kembang kempis mendengar David meremehkannya.


"Memangnya selama ini kau memberikan putri ku perhiasan,?"


"Kau.."


.


.