Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 14


"****..."


Aaron mengumpat saat keningnya menabrak kaca di sampingnya.


"Maaf tuan.." Nathan menundukkan wajah nya, melihat wajah merah padam milik Aaron yang menatapnya garang. Ia tak tau jika ada gadis kecil menyebrang jalan tanpa menoleh, kiri kanan. Itu sebabnya ia membelokkan setirnya pada bahu jalan dan menginjak pedal remnya sekaligus dan menabrak pembatas jalan.


Brakk...


Aaron turun dari mobilnya saat tau apa yang di hindari Nathan. Ia melangkah lebar dan menarik tangan anak kecil yang membelakanginya. Ia yakin dia hilang pengawasan dari ibunya.


"Benar benar sialan." Umpatnya...


Seettt...


Deg...


"Maaf Om, kucingnya menyebrang," Almira menunduk kan wajahnya. Tubuhnya bergetar takut saat melihat tubuh tinggi menjulang dan mata yang melotot tajam ke arahnya. Dan lagi wajahnya yang di tumbuhi bulu kasar, ia yakin jika dia penculik.


"Al, kamu gak papa."


Qinan datang menghampiri sahabat nya. Ia kaget saat mendengar suara mobil menabrak. Ia pikir Almira lah yang tertabrak, ternyata sahabatnya ini baik baik saja. Tapi tidak dengan pria dewasa di depannya ini. Keningnya mengeluarkan darah dan lagi wajahnya sangat menyeramkan.


"Al..."


Bastian datang dan menyembunyikan tubuh Almira, di belakangnya. Almira sendiri bersembunyi di belakang punggung Bastian.


"Zoya..." Gumam Aaron saat melihat mata bundar milik Almira.


"Om, maafkan teman saya, dia gak sengaja."


Aaron menatap pada anak remaja yang berdiri menghalangi Almira. Mata tajamnya menyelidik gadis remaja yang masih bersembunyi dibalik tubuh temannya.


"Tuan, "


Nathan mengagetkan mereka semua. Sedangkan Nathan sendiri yang merasa di perhatikan menggaruk lehernya.


Aaron berbalik dan masuk ke dalam mobil nya, membanting pintu mobil keras hingga mereka semua berjengit kaget. Melihat tuannya kembali ke mobil, Nathan masuk duduk di kursi kemudi. Aneh melihat sikap tuannya yang tak seperti biasanya.


"Apa yang kau lakukan bodoh, segera nyalakan mobil nya."


Nathan berjengit dan langsung menginjak pedal gasnya dan membuat Aaron terjengkang kebelakang.


"****.. Bodoh."


Nathan gelagapan melihat tuannya yang terjengkang, ia pikir kenapa juga harus bodoh seperti yang tuannya katakan, menginjak pedal gasnya sekaligus.


Duk... "Nathan brengsek.."


Aaron menendang kursi di depannya. Nathan diam, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kenapa dengan hari ini ia dan tuannya seperti bodoh. Apa gara gara kepalanya terbentur tuannya jadi bodoh dan dia juga tertular.


Aaron mengumpat Nathan yang duduk di kursi kemudi. Ia mengusap keningnya yang mengeluarkan darah. Pikiran nya tertuju pada gadis kecil yang hampir saja tertabrak. Apa mungkin dia anak Zoya, matanya. Ya mata itu yang selalu hinggap di kepalanya.


Sementara Bastian yang melihat pria dewasa itu pergi, berbalik menatap Almira. Ia menatap mata Almira yang sedikit sembab, hidung nya juga terlihat merah.


"Kak bagaimana jika Al di penjara, kening nya berdarah."


"Udah lah Al, gak mungkin kamu di penjara, yuk balik." Almira mengangguk mengiyakan, ia menatap Bastian dan tersenyum.


"Kak, tadi matanya mau copot liat Al."


"Gitu aja takut kan." Almira meringis, bagaimana tak takut dia seperti monster saat melihat nya. Ya monster yang selalu Arhas dan Asraf tonton di YouTube. Almira bergidik ngeri, jangan sampai ia melihatnya lagi.


*


Sepanjang jalan Aaron mengumpat Nathan. Ia bahkan meminta pria sialan itu kembali lagi ke Venesia. Nathan yang berjalan di belakang tuannya hanya mendengarkan tak berani menyahut nya.


Sampai di hotel mewah tempatnya menginap, Aaron berbalik dan menatap tajam pada Nathan.


Brakk...


"Nathan sialan.."


Aaron masuk dan melemparkan jas miliknya ke sembarang arah. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuh lelahnya. Apa sebenarnya yang di pikirkan nya, hingga menjadi bodoh dalam sekejap.,


Putri Zoya, mungkin saja gadis itu sudah tumbuh menjadi remaja yang sangat cantik. Jika dulu dia menginginkan istrinya sekarang ia datang menginginkan putrinya. Apa David akan merestui dan memberikan Almira padanya.


"Jika dengan nyawaku aku bisa mendapatkan putri mu. Aku akan menukarnya dengan senang hati David."


Dua puluh menit, ia membiarkan tubuh kekarnya di guyur air shower. Mendinginkan kepalanya yang terasa akan meledak. Bukan karna memikirkan Queen yang mengejarnya agar menikahinya. Tapi memikirkan bagaimana caranya ia mendapatkan putri Zoya.


Lagi lagi ia terkekeh kecil, mengingat wanita cantik berpakaian serba tertutup itu. Wanita yang ingin ia rebut dari suaminya David. Pria yang ia pikir lumpuh. Wanita yang lebih tua lima tahun darinya. Wanita yang membawanya datang ke Indonesia, dan kemudian bertemu dengan anak kecil bermata bundar dan besar.


Tak lama kemudian ia keluar dari kamar mandi, mengambil ponsel miliknya.


"Siapa nama putri Zoya,?"


"Almira tuan.." Klik.... Aaron melemparkan ponsel di ranjang putih polos. Ia berjalan menuju lemari pakaian, tak lama ia mengumpat yang tak mendapati pakaian sama sekali di dalam nya.


Ia mengusap wajahnya kasar, sampai sejauh mana dia akan bodoh seperti ini. Putri Zoya, dia yakin gadis kecil itulah penyebabnya. Dia datang ke Indonesia dari Venesia tak membawa satu lembar pakaian.


"Sialan.."


"Carikan pakaian untuk ku bodoh.." Nathan menjauhkan ponselnya dari telinga, mendengar bentakan keras di sebrang telpon. Ia lalu menatap ponsel yang kembali menghitam dan mengusap telinga nya yang berdengung.


"Sepertinya tak hanya anda yang bodoh tuan, aku pun juga sama. Semua ini gara gara bocah."


Nathan juga menggerutu, ia tak habis kenapa di antara mereka tak ada yang membawa pakaian.


*


Queen berjalan menuju perusahaan milik kekasihnya. Seminggu lagi ia akan terbang ke Indonesia. Dan sepertinya ia akan lama disana. Itu sebabnya, ia ingin Aaron memberikan kepastian padanya. Setidaknya melamarnya terlebih dahulu. Jangan di gantung seperti ini, hanya di jadikan teman ranjangnya saja.


"Rosa, kemana kekasih saya."


Rosa menatap jengah pada wanita yang mengaku sebagai kekasih tuannya. Tak lama ia tersenyum sinis.


"Kenapa anda bertanya padaku nona, bukankah anda kekasihnya, seharusnya tau di mana kekasih anda. Apa anda ingin aku menyembunyikan tuan Aaron di kamar ku nona,?"


"Kau.." Plakk...


Rosa memegang pipinya yang terasa panas. Wanita yang di ketahui bernama Queen itu berani menamparnya.


"Dengar aku bisa saja mengatakan pada kekasihku agar memecat mu dari sini. Jadi jangan macam-macam padaku sialan....


Katakan padaku di mana Aaron berada."


Rosa berbalik dan meninggalkan Queen yang berteriak memanggil namanya. Dari pertama dia melihat Queen, Rosa memang sudah tak suka dengan wanita itu. Ia tau jika wanita itu telah melemparkan tubuhnya pada Aaron.


Queen yang merasa di acuhkan oleh sekertaris Aaron mengumpat nya. Ia lalu pergi meninggalkan perusahaan Aaron. Sudah berkali kali ia menghubungi kekasih nya, tapi Aaron sama sekali tak menjawab sambungan telpon darinya.


"Kau tak bisa menghindari ku, ku mohon jawab telponnya."


Sementara Aaron sendiri yang melihat ponselnya berdering berkali kali hanya menghembuskan nafas nya perlahan. Queen menghubunginya sudah puluhan kali, bahkan mungkin ratusan kali.


Sampai kapanpun ia tak bisa menjadikan Queen istrinya. Ia tak mencintai Queen, ia hanya menganggap Queen partner ranjangnya tak lebih dari itu. Meski ia adalah pria pertama bagi Queen, iya tetap tak bisa menjadikan wanita itu pemilik hati nya.


Tanpa pikir panjang Aaron bangkit dan berjalan keluar dari hotel miliknya menginap.


"Kak, kita mau kemana..?" Almira menatap sekelilingnya. Ia menarik tangan Bastian dan mengajaknya pulang. ia merasa tempat ini sangat aneh untuk nya.


"Ga Al, kita cuma mau pamit sama kakak aku. Ayo dong Al temani, gak lama ko."


Bastian menarik tangan Almira, membawanya masuk ke dalam. Mencari keberadaan kakaknya yang selama ini menjadi tempat nya meminta uang.