Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode. 22


David tersenyum lebar dengan boneka di tangannya. Ia yakin jika putri Zoya senang dengan hadiah dari nya.


David mengedarkan pandangannya, ia menyipitkan matanya. Apakah Zoya dan putrinya tak ke tokonya.


Tak patah semangat David melajukan mobilnya menuju rumah minimalis milik Zoya dan keluarga kecilnya. Dia melihat Zoya memeluk putrinya dan menggendongnya.


Dada David bergemuruh antara takut dan gugup. Takut jika Zoya mengusirnya dan gugup jika ia tak bisa mengontrol dirinya.


"Om, om ayahnya Al, ya..."


Seorang bocah laki-laki seumuran sekitar enam tahun memberondongnya.


"Kasihan Al, Om kenapa baru pulang sekarang. Al tiap hari inginnya bertemu dengan ayahnya. Kata bundanya ayahnya sudah pergi. Barusan Al menangis, gara gara Afi tanya ayahnya kapan pulang nya."


Deg....


Tambah sesak dada David mendengar anak laki laki tersebut. David mengingat jika suami Zoya meninggalkan kecelakaan karna mengejar mobilnya. Bagaimana jika Zoya tau penyebabnya. Kaki David lemas, mengingat semua itu.


"Wah om bawa boneka buat Al ya...


Al... Al.... Bunda bunda, "


David terkesiap mendengar bocah itu berteriak memanggil penghuni rumah. Belum sampai David mencegah, bocah itu sudah membawa lari bonekanya.


"Al... Bunda.."


Tak lama Zoya membuka pintu dan ia menautkan kedua alisnya.


"Afi ada apa sayang...?"


"Bunda Al mana Bun, ayah nya Al sudah datang bawa boneka nih.."


Ayah...


"Zoy..."


Deg...


Zoya mendongak mendengar suara yang di kenalnya. Matanya melotot tak percaya, bagaimana David bisa ada di sini. Dan bagaimana pria ini tau rumahnya.


"Tuan mau apa anda di sini,?" Bibirnya bergetar menahan ketakutannya. Matanya melirik ke sana kemari. Jangan sampai ada yang tau jika pria ini datang kemari. Zoya belum bisa mendapatkan hinaan dari penduduk setempat.


"Unda..."


"Al, ayah Al datang nih bawa boneka,"


Bibir Zoya tercekat mendengar Afi menyebut ayah untuk putrinya.


" Teddy..."


Almira tertawa dan langsung memeluk boneka yang sama dengan tubuhnya. Zoya yang melihat itu mengepalkan tangannya. Ia menatap bengis pria yang datang tak di undang.


Zoya mengambil boneka yang di peluk oleh putrinya dan melemparkannya pada David.


Almira yang merasa miliknya di buang menangis tersedu.


"Zoy..."


"Maaf tuan apa tujuan anda datang kemari, ku mohon jangan ganggu hidup saya lagi tuan."


" Zoy."


"Bisakah anda mendengar saya tuan, kenapa anda mengusik saya. Saya tidak pernah tau jika suami saya berselingkuh dengan tunangan anda. Ku mohon kasihanilah saya dan putri saya tuan. Jangan membuka aib suami saya lagi. Saya bersedia bekerja dengan anda selama hidup saya lagi. Tapi jangan ungkit suami saya."


Zoya bersimbuh di hadapan David, pria itu mematung di tempatnya. Sedalam inilah ia telah menyakiti hati Zoya.


" Zoy..."


Rumah tangga Zoya tak seindah yang terlihat. Zoya memendam perasaan sakit hati yang terlalu dalam akibat suaminya. Bahkan Zoya membuang harga dirinya untuk mempertahan rumah tangga nya. Tapi apa yang di dapatkan, lebih sakit. Suaminya dengan terang terangan menghina, membandingkan dia dengan perempuan lain. Sakit...


Sakit rasanya jika mengingat nya. Dia bertahan demi putri semata wayangnya. Dia bertahan demi masa depan, yang suatu saat pasti akan berubah manis. Tapi semuanya hanya mimpi Zoya. Hingga suaminya meninggal pun, dia masih menggores luka hatinya.


" Pergilah tuan, maaf..."


Kedua bocah kecil di samping mereka pun hanya diam. Begitupun dengan tangis Almira.


David mundur beberapa langkah dan bibi Lili membawa kedua bocah yang sejak tadi melihat kejadian ini.


*


David mengusap wajahnya kasar, ia tak menyangka sama sekali. Jika sakit hati Zoya sedalam ini. Ia menggelengkan kepalanya, tak mungkin rasanya Zoya berbuat demikian. Apa yang Zoya rasakan selama ini.


Sakit hatikah, karna dia yang selalu merundung nya. Atau mungkin selama ini pernikahan Zoya tak seperti yang ia pikirkan.


David tak sadar jika dia lupa, tiga tahun yang lalu memerintahkan Reymond mengunggah video. Video asusila almarhum suaminya. David bukan pria yang akan mengarang cerita atau mengumbar cerita. Semua itu di serahkan David oleh Rey. David juga bukan pria yang akan mengingat kejadian yang tak penting untuk nya.


Ia tak tau jika pemburu berita sampai sejauh itu, mencari informasi tentang pria panas itu. Dan itu semua berimbas pada Zoya.


Zoya masih menangis di pelukan wanita paruh baya yang ia anggap sebagai ibunya.


"Zoy lepaskan beban mu, anggap saja ini sebagai salah satu mencari jati diri Zoy. Bibi tau pria itu salah, tapi apakah sebagai seorang wanita muslim harus terus terpuruk dengan masa lalu. Ingat lah Zoy jika semua terkuak, bibi yakin ada orang yang dengan hati yang bersih, akan mengangkat derajat mu sebagai wanita. Jalanmu masih panjang Zoya. Buang semua ketakutan mu. Tidak usah takut jika Almira yang akan menderita, jika semuanya terkuak. Bibi yakin David tidak seperti yang dulu."


"Bagaimana jika tuan David mengatakannya pada Almira Bi. Zoya tidak mau mental Almira terganggu bi."


"Tidak Zoy, bibi rasa tuan David tidak akan melakukan itu. Percayalah.. Ingat lah Zoy sudah bertahun tahun lamanya kau memendamnya. Apa yang kau takutkan Zoy?. Biarpun sampai Almira dewasa dan punya anak, sebuah rahasia suatu saat akan terbongkar Zoy."


Zoya mengangguk mengerti, ia lalu mengalihkan pada putrinya.


Nyatanya tak sekuat itu Zoya keluar dari bayang bayang penghianatan almarhum suaminya. Meskipun sudah almarhum nyatanya Zoya ketakutan sendiri. Ya ia akan mencoba lagi,....


David gelisah di kasurnya, ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Kejadian siang tadi membuatnya tak bisa memejamkan mata.


Ia tak boleh menyerah, hati dan pikirannya tak bisa berpaling dari wanita berhijab itu.


"Rey... Carikan teman untuk ku..?"


David melemparkan ponsel nya asal. Ia akan mencoba menghilangkan wanita itu dari pikirannya.


Setengah jam berlalu, David melirik wanita cantik dan seksi tentunya datang ke apartemen miliknya. Ia berusaha untuk menepis pikiran nya tentang Zoya.


"Tuan.. Perkenalkan nama saya Syntia"


Cup...


David berang, tiba tiba saja wanita itu duduk di pangkuan nya dan mencium pipi nya.


Brukk....


Aw...


David mendorong wanita yang menempel di tubuhnya. Nafasnya memburu menahan amarah yang menguasainya.


"Keluar.." Nada dingin David seketika membuat wanita itu mematung di tempatnya.


"Tapi tu_"


"Keluar..."


Belum selesai kalimat wanita itu David sudah membentaknya dengan suaranya yang menggelegar.


Tak mau mengambil resiko, wanita itu mundur dan keluar dari apartemen.


"Brengsek..."