Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 83


"Hubby kau baru pulang,"


Aaron terperanjat mendengar suara Almira yang tiba-tiba mengagetkan nya.


Sedangkan Almira menyipitkan matanya melihat suaminya. Ia mendekat dan menatap Aaron intens.


"Sayang kau mengagetkan ku Al,"


Aaron salah tingkah melihat wajah Almira yang menatapnya tak berkedip.


"Itu sayang, Nathan,"


"Ayo bersihkan dirimu Hubby, seperti nya aku mencium bau_"


"Tidak sayang, aku sama sekali tak mendekati nya Al. Aku tidak mencintai nya, dia hanya masa lalu ku sayang, percayalah Al."


Almira menatap wajah Aaron, jadi suami nya baru saja bertemu dengan mantan kekasih nya. Itu sebabnya mereka minum minuman beralkohol hingga pulang larut malam.


"Mandilah Hubby,"


Almira membaringkan tubuhnya di ranjang, ia baru saja terbangun dan buang air kecil. Kemudian mendapati suaminya yang baru pulang, padahal ini sudah hampir tengah malam dan suaminya baru pulang.


"Sayang,"


Aaron menatap Almira yang memejamkan matanya, ia mengumpat Nathan yang tak mengatakan jika sekertaris Nicholas adalah Helena. Ia yakin jika istrinya marah pada nya, Almira pasti kecewa padanya. Istri nya pasti mengira jika ia masih mencintai mantan pacarnya itu, hingga ia menemuinya.


"Sayang, jangan seperti ini Al, Om tidak sengaja bertemu dengan nya Al. Om tidak tau jika sekertaris Nicholas adalah wanita itu. Sayang,...."


Bisik nya di telinga Almira Tangan nya mengeratkan pelukannya pada istrinya. Ia tak bisa jika Almira marah padanya.


Padahal Almira bukan marah karna Aaron yang menemui mantan pacarnya. Bukankah Aaron juga sudah mengatakan jika dia tak mencintai nya lagi. Ia hanya kecewa saja jika suami nya masih meminum alkohol.


"Sayang,.."


Almira membuka matanya perlahan, saat merasakan lehernya basah. Apa suaminya menangis.?


Almira berbalik menatap Aaron, ia mendesah lirih saat melihat jika Aaron benar benar menangis.


"Hubby, Al hanya tak mau lihat Hubby minum alkohol lagi, Al tak suka."


Aaron menatap wajah cantik Almira.


"Al tidak marah Om baru saja bertemu dengan wanita itu."


"Marah jika Om masih suka padanya."


Cup...


Aaron tak bisa membendung rasa cintanya pada Almira. Lagi lagi ia di buat tergila gila dengan Almira. Mana mungkin ia akan berpaling dari Almira, wanita yang sudah membuatnya tergila-gila dari masih anak anak.


Rasa bahagia yang berujung percintaan panas keduanya. Entah sudah berapa kali Almira sampai pada puncaknya oleh Aaron. Aaron sendiri masih belum ada tanda tanda jika ia akan mengakhiri percintaan panas mereka. Apalagi melihat perut buncit Almira dan buah kenyal nya yang semakin besar. Aaron sungguh gila di buatnya.


"Sayang kau sangat seksi Al,"


Memuji sang istri sembari bergerak maju mundur. Hingga tak lama kemudian Aaron mengakhiri percintaan panas mereka.


Cup...


*


Aaron menatap sengit pada Nathan yang baru datang. Ia sudah muntah berkali kali dan Nathan baru menunjukan batang hidungnya.


"Nyonya tidak ikut tuan,?"


Tanya nya pada Aaron yang menatapnya tajam. Sedangkan Aaron sendiri tak menjawab nya.


"Kau tau gara gara semalam istri ku tak ingin di ajak ke mari. Apa kau tak bisa mencari tahu dulu, jika sekertaris nya adalah perempuan dan lagi, dia wanita itu. Untung saja aku tak lemas karna muntah terus."


Sarkasnya pada Nathan, Nathan sendiri menatap wajah tuannya.


Buk...


Sebuah remote control AC melayang di wajah Nathan. Nathan sendiri mengusap keningnya yang sakit. Tak lama kemudian ia melirik tuan nya tajam.


"Awas saja jika kau tak mencari tau dulu. Kau tidak akan mengerti, pria tua seperti mu sama sekali tak tau cinta. Untung saja semalam istri ku tak marah, awas saja jika dia marah padaku lagi."


Ocehnya pada Nathan.


" Kenapa harus melemparku. Dia tak sadar, mengatai ku tua, bukankah dia lebih tua dariku. Cinta, Cih... Beginilah kalau orang tua baru merasakan cinta, sangat menyebalkan."


Nathan hanya berani mengumpat Aaron dalam hati. Gondok dengan tuan nya mengatakan tua, padahal dirinya lebih tua darinya. Dan lagi sialnya kenapa akhir akhir ini tuannya sering marah padanya hanya karna masalah sepele.


"Ya tuan.."


Aaron menatap sengit, dan tak lama ia menatap layar komputer nya. Gatal tangan nya, baru saja setengah jam, Aaron sudah menghubungi Almira.


"Sayang, kau sudah makan Al. Aku tak semangat tak ada kamu Al. Nathan membuatku pusing."


"Pintar sekali menjual orang," Gumam Nathan.


*


Sementara di lobi, Helena menggangguk kan kepalanya pada Resepsionis. Tak lama ia berjalan ke arah lift menuju ke ruang CEO berada.


"Aku tak tau ternyata kau sangat kaya Kenan. Apa kau mencintai istri mu, ku pikir kau masih mencintai ku dan akan menunggu ku."


Helena menyesal telah melepaskan Aaron dulu. Lebih dari enam belas tahun lamanya ia berpisah dari Aaron dan meninggalkan pria itu. Menikah dengan pria yang ia pikir lebih kaya, tapi ternyata di jadikan sebagai istri kedua.


Sampai di depan pintu ruang CEO, Helena menetralkan jantung nya. Jangan sampai Aaron menyadarinya jika ia masih mencintai nya dan masih mengharapkan nya.


"Nona Helena,"


Nathan mengagetkan Helena yang tiba-tiba ada di depannya.


"Ya..."


"Tuan Aaron sudah menunggu anda nona.?"


Helena mengangguk dan berjalan mengikuti asisten Aaron. Jantung nya berdetak lebih kencang saat pintu berbuka.


Aaron sama sekali tak melirik ke arah wanita mas lalu nya. Ia mengumpat Nicholas yang mengirim Helena kemari. Baru saja ia mengatakan pada istrinya jika ia tak suka menemui Helena, wanita itu lebih dulu datang kemari.


"Apa kau akan diam di situ sampai malam nona, di mana berkasnya."


Helena berjengit mendengar suara berat Aaron. Ia melangkah maju dan mengulurkan berkas di tangan nya. Sembari bergetar menahan detak jantung nya saat melihat ketampanan Aaron dari dekat dan jelas.


Aaron mengambil berkas dan membukanya, tak lam ia membubuhkan tanda tangan nya pada lembar kertas yang di bawa oleh Helena.


"Ambil ini,"


Helena tak mendengar, ia masih menatap wajah tampan Aaron. Wajah Aaron semakin tampan dan berkarisma. Kenapa ia baru menyadari jika Aaron sangat lah tampan.


"Sudah puas menatap ku nona, ambil berkasnya dan segera pergi dari sini. Aku tak suka jika seseorang memandang wajah ku selain istri ku."


Helena terkesiap dan menunduk, tak lama kemudian ia mengambil berkas di tangan Aaron.


"Maaf, boleh kah ki_"


"Keluar dari ruangan ku nona, aku sudah menandatangani berkas nya. Aku tak ada waktu untuk mengobrol dengan siapapun."


"Maaf.."


.


.