
Sttt...
Sadar dari biusnya, Rania mengedarkan pandangannya. Ia menghembuskan nafasnya saat mengetahui jika ia berada di rumah sakit. Tak lama kemudian ia mengerutkan keningnya, merasakan sakit dan perih di bagian perut bawah nya.
Clek...
"Rania kau sudah sadar sayang."
"Mom kenapa perut Nia sakit dan perih. Apa David menginjak juga perutku."
Ibu Rania membuka baju khas pasien yang menutupi tubuh Rania. Matanya terbelalak melihat perban yang menutupi bekas luka.
"Nia, ini bekas luka apa? Kenapa lukanya ada di perut.?"
Rania shock mendengar nya, ia mengangkat kepalanya, melihat bagian yang terluka. Tidak mungkin David melakukan ini padaku. Rania meneteskan air matanya. Ia menjerit sekuat tenaga, hingga membuat ibu dan ayahnya shock. Mereka pikir Rania gila karna kaki nya sakit kembali.
"Dokter, jelaskan padaku. Anda bisa masuk penjara, telah melakukan ini padaku."
Rania berteriak pada pria berbaju putih. Ia menyalahkan mereka semua, kenapa mereka mengangkat rahim miliknya.
"Apa maksud mu, melakukan apa?" Ibu Rania bertanya dengan kebingungan. Begitupun dengan Erick, mereka berdua sama sekali tak mengerti, dengan maksud putrinya.
"Maaf nona, anda sendiri yang menyetujuinya."
"David, kau tega melakukan ini padaku. Aku sudah pincang, dan sekarang kau membuat aku wanita cacat seumur hidupku. David brengsek."
Erick dan istrinya lebih bingung lagi. Mereka berdua bertanya pada dokter apa yang terjadi?. Dan dokter mengatakan jika Rania baru saja menjalani operasi pengangkatan rahim. Mendengar semua itu orang tua Rania shock bukan main. Kenapa anak nya harus menjalani operasi pengangkatan rahim. Apa yang terjadi sebenarnya.
"Nona luka anda akan terbuka lagi, jangan bergerak terus. Ini bisa berakibat fatal." Dokter memperingati Rania. Melihat Rania yang kembali tenang, dokter pamit meninggalkan mereka bertiga.
*
"Mas..."
"Suttt, Plis sayang, aku tak ingin membahas pria brengsek seperti nya. Aku membawa bunda pergi dari pria seperti nya. Seperti yang kau dengar sayang. Dia gila dengan ****, banyak wanita yang menjadi teman ranjang nya. Itu sebabnya aku membencinya."
"Tapi bagaimana Luna mengenalnya,?"
David tersenyum, sepertinya Zoya memang tak tau siapa adik iparnya.
"Itu memang salah satu pekerjaan nya, menjadi Sugar Baby."
Zoya menghembuskan nafasnya perlahan, kenapa Luna bisa menjadi seperti itu. Sejak kapan dia menjadi simpanan pria. Zoya sangat menyayangkan Luna, kenapa adik ipar nya bisa terjerumus ke sana.
" Sayang bagaimana kalau kita berbulan madu."
David mendusel di leher Zoya. Ia menghirup aroma tubuh istrinya yang membuatnya candu selama ini. Ia juga tak menyangka akan begitu mencintai Zoya. Semua memang berbalik arah.
"Aku ingin kita pergi berdua sayang, tak akan lama. Al pasti senang jika dia tau bunda dan Daddy nya membuat adik untuk nya. Aw sayang kenapa kau mencubit ku....." David meringis merasakan cubitan di pinggangnya. Tak lama kemudian ia ia membalikkan tubuh istrinya.
"Kau ingin pergi kemana sayang, aku akan menyetujui kemanapun kau mau." Lanjutnya lagi.
"Aku tidak pernah pergi kemanapun." David diam, ia tak menanggapi istrinya. Harusnya ia juga tau, hidup Zoya tak seperti dirinya. Ia hanya menatap mata bening Zoya. Lalu memeluknya erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang nya. Hingga Zoya benar benar tertidur di pelukannya.
Cup..
"Aku ingin tiket bulan madu seminggu, dua hari lagi. Dan kau atur jadwal ulang dengan klien."
Andai ia tak ceroboh mungkin kebahagiaan nya juga sudah lengkap. Memberinya adik untuk putri sambungnya.
*
" Apa yang kau inginkan nona,?"
Dewa menatap wajah cantik di depannya, usai bercinta ia langsung menanyakan tujuannya wanita itu mencari nya. Dewa memang bukan pria yang setia, setelah ia memakainya. Ia akan langsung membuangnya.
"Kartu yang tuan berikan waktu itu tak bisa di gunakan."
Luna melotot mendengarnya, jadi Dewa memberinya ATM padanya, sementara dirinya hanya di berikan uang cas dan itu juga itu tak seberapa. Tak lama kemudian Dewa pergi ke kamar nya, lalu kembali lagi dengan amplop di tangannya.
"Pergilah.."
Luna mengepalkan tangannya melihat Dewa memberikan nya sejumlah uang.
Tanpa basa basi wanita itu mengambil amplop di meja dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Tapi Luna tak tinggal diam, ia mengikuti langkah wanita yang baru saja bergumul dengan Dewa.
"Kau tak bisa pergi begitu saja, wanita ******."
Luna berteriak, ia juga membalikkan paksa tubuh wanita itu. Tanpa di duga wanita itu justru menampar wajahnya.
Plak...
"Jangan kau pikir kau istimewa nona, kita sama. Kau dan aku sama sama teman ranjangnya. Aku juga tau siapa dirimu nona, dan kau ternyata cukup terkenal di kalangan para pria . Jadi jangan merasa kau memiliki salah satunya."
Ia lalu berbalik meninggalkan dan tersenyum devil. Sedangkan Luna wajahnya merah padam melihat nya, tangan nya terkepal erat. Apalagi ia juga mendapatkan tamparan di pipinya.
"Brengsek..."
Luna meringis merasakan sakit di area sensitifnya. Hari ini ia tak bercinta dengan siapapun, tapi kenapa miliknya sakit.
Dewa mengerutkan keningnya melihat Luna yang meringis kesakitan.
"Ada apa..?" Luna tak menjawab, ia masuk ke dalam kamar, dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia tak perduli dengan Dewa yang nantinya akan marah.
*
Kartika membuang benda kecil persegi panjang. Kenapa ia harus hamil, baru satu bulan menikah dan benih Reza langsung tumbuh.
"Itu artinya aku sia sia meminum obat nya, aku tetap hamil."
Di depan pintu, Reza menatap kecewa pada istrinya. Ia tak menyangka selama ini dia meminum obat pencegah kehamilan. Apa dia sama sekali tak menerima pernikahan mereka.
"Aku kecewa padamu Tika," Kartika menoleh dan menatap datar wajah Reza. Ia shock mendapati Reza berdiri di sana. Itu artinya dia mendengar nya bicara dan dia tau jika saat ini ia hamil.
"Aku memang belum siap untuk hamil Za. Dan aku belum sepenuhnya menerima semua ini. Ini bukan impian ku selama ini. Aku juga ingin belajar mencintai mu lagi."
"Dan David, tak mungkin bisa kau jangkau lagi Tika. Dia sudah menggelar pesta pernikahan mereka."
Reza menyela ucapan Kartika, ia sangat kecewa pada istrinya. Ternyata Kartika lah yang selama ini terobsesi pada David. Seketika ia merasa sangat menyesal pernah tersiteru dengan David. Ia bahkan berencana menghancurkan nya. Bukan dia yang hancur, tapi dirinya sendiri. David telah menarik investasi dari perusahaan nya. Tadinya ia tak percaya David akan melakukan nya dengan sahabatnya sendiri. Tapi ternyata David benar benar melakukannya.
.
.