Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode. 23


"Brengsek..."


Prang....


Bukan ini yang David inginkan, tapi hati Zoya. Ia tak bisa hanya sekedar melampiaskan nafsu nya pada orang lain. David mengambil gelas dan seperti biasa ia akan menghabiskan berbotol botol minuman keras.


Hingga malam menjelang ia meracau tak jelas memanggil nama Zoya. Di luar kamar Rey hanya mendesah lirih. Kasihan pada tuannya...


"Bi Zoya mau antar pesanan kue,"


"Ya pergilah Zoy.."


Zoya mengemudikan motor matic nya, menuju pemilik pesanan kuenya. Ia tak boleh memikirkan tentang David yang tau dimana dia tinggal. Biarkan saja pria itu, bertingkah dengan maunya. Hari ini Zoya siap dan tidak siap akan menerima cacian lagi jika berita itu terkuak.


Hingga sampai Zoya pada sebuah apartemen mewah yang cukup mencolok.


"Maaf mbak apa saya bisa bertemu dengan tuan Reymond. Dia memesan kue dari saya? Kalau boleh saya tau nomer berapa ya apartemen miliknya?.


"Oh lantai 23 no 233 nona"


Zoya mengangguk mengerti dan tak lama ia mengucapkan terima kasih. Lalu pergi menuju lantai dimana alamat tersebut.


Nafas Zoya memburu, setelah tau siapa pria yang memesannya. Ternyata itu adalah David Aderson.


Zoya mencoba untuk menenangkan hatinya. Ia tak mungkin menangis meraung serta menyalahkan pria yang dulunya adalah Bos nya saat bekerja.


" Assalamualaikum tuan, saya mengantarkan pesanan anda?"


Deg...


Pria yang mendengar ada orang lain di depan pintu apartemen nya segera bangkit. Dan melihat siapa wanita itu. Sepertinya David mengenal suara nya.


Reymond salah tingkah, ia sengaja memesan kue dari toko Zoya, supaya tuannya akan makan barang sedikit saja. Nyatanya dari kemarin David belum makan sama sekali. Ia takut tuannya akan kembali sakit seperti sebelumnya. Alhasil ia berinisiatif memesan kue Zoya untuk David.


Dan siapa sangka yang mengantarkan nya adalah Zoya sendiri.


"Mari nona masuk"


"Tidak usah tuan, "


"Zoy.."


Mereka berdua di kagetkan dengan kemunculan David yang acak acakan. Bau alkohol seketika menyeruak masuk ke dalam hidung Zoya.


Zoya menggeleng kan kepalanya. Apa pria ini tak berubah sama sekali. Ia mengingat bagaimana saat ia masih bekerja dengan David. Tangan nya di injak oleh David saat ia memungut pecahan botol yang berserakan di lantai. Ia melirik ke arah tangannya, dan tersenyum kecut.


Bagaimana Zoya bisa melupakan kejadian itu yang membuat tangannya tergores cukup dalam. Dan itu semua meninggalkan bekas di telapak tangan nya.


"Tuan Reymond saya permisi, assalamualaikum"


"Zoy.."


David menarik paksa tangan Zoya, hingga Zoya berhenti melangkah.


"Maafkan saya.."


David menunduk ia sangat menyesali perbuatannya yang dulu.


"Maaf tuan lepaskan tangan saya, kita bukan muhrim"


David menatap wajah cantik alami Zoya. Perlahan ia melepaskan tangannya dari tangan Zoya.


"Permisi assalamualaikum"


David menatap nanar punggung kecil Zoya yang pergi menjauh meninggalkan nya. Di belakang Rey merasa sedih melihat keadaan tuannya yang kacau berantakan. Pria itu tak pernah berpenampilan kacau seperti ini.


Ya Rey adalah saksi perjuangan David mencari Zoya. Pria itu sering mengabaikan kesehatan nya sendiri demi mencari keberadaan Zoya. Wanita yang di anggap nya pembawa sial. Tapi sayangnya keadaan berbalik. Wanita itu sekarang adalah tujuan hidup David membahagiakan nya. Dan ternyata Zoya justru membenci David.


Dari jauh seorang wanita cantik dan berpakaian seksi melangkah mendekat. Mereka berdua tau siapa wanita itu. Nancy, sekertaris David selama di kota B.


Tak ingin melihat wanita itu, David melangkah masuk ke dalam apartemen nya dan menuju kamarnya. Ia akan membersihkan dirinya dan siap ke kantor.


David berjalan pergi meninggalkan apartemen miliknya. Rey yang mengetahui tuannya siap pergi ke kantor mengikutinya dari belakang. Tak lupa ia menyambar paper bag yang berisi kue yang ia beli dari Zoya.


" Tuan David, sebaiknya kita makan terlebih dahulu?"


David menautkan kedua alisnya melihat sosok yang di yakini adalah Zoya. Ia sedang bersama dengan pria yang pernah bersamanya saat di kafe waktu itu. Ia menghembuskan nafasnya perlahan, rupanya Zoya tak mau dengan pemberian nya. Tapi Zoya tak keberatan jika pria itu yang memberikan boneka untuk putrinya.


"Tuan David sebaiknya kita makan dulu?"


"Diam kau brengsek.."


Sarkas David hingga Nancy berjengit kaget mendapatkan bentakannya.


"Keluar..."


"Tuan..."


Emosi David memuncak seketika. Nancy benar benar menjadi pelampiasan seorang David.


Brakk...


David turun dari mobil dan melangkah menuju keberadaan Zoya. Sementara Rey dan Nancy masih di dalam mobil. Nancy hendak turun mengikuti David. Tapi lampu merah berganti hijau.


"Jangan pernah sekalipun mengurusi urusan tuan David nona? Jika tuan David marah dia akan langsung memecat anda"


Peringatan Rey pada wanita yang duduk di sampingnya. Rey juga tak menyukai Nancy. Wanita ini memang benar benar sangat mencolok sekali. Dari segi pakaian dan warna rambutnya yang membuatnya gerah.


David melangkah mendekati Zoya. David mengambil semua boneka yang Zoya pegang tadi. Ia masih melirik kearah Zoya. Sepertinya wanita itu belum menyadari keberadaan nya.


"Nona, bonekanya akan di kirim ke alamat rumah anda?"


Ha...


Zoya bingung, saat akan membayar bonekanya. apa harus di kirim ke rumah. Apa semua seperti itu. Ia menoleh kebelakang dan kebetulan dirinya pertama.


"Nona.."


"Ah ya.."


"Alamat nya "


"Ah ya.."


Keluar dari toko boneka Zoya di buat bingung. Ia mengedarkan pandangannya mencari pria yang bersamanya.


" Halo Zoy, maaf tadi aku dapat telfon dari kantor mendesak. Maaf aku meninggalkan mu tadi."


"Aku pikir mas Bisma kabur di bawa cewek cantik. Zoya cari ga ada?"


" Ga ngaco kamu.."


Zoya terkekeh, tak lama mereka menutup telponnya. Dan Zoya meninggalkan tempat itu, sambil berpikir. Masa iya beli boneka satu di antar ke rumahnya.


David tersenyum lebar, ia juga pergi mencari keberadaan Rey.


Zoya kaget, saat memasuki rumah yang penuh dengan berbagai macam jenis boneka. Ia bingung dari mana datangnya boneka boneka ini.


"Unda.."


Almira girang ia bangkit mencium pipi Zoya dan bergelayut manja.


" Daddy kilim oneka anyak unda"


Zoya mengeryitkan keningnya. Siapa?


"David Zoy.."


Zoya mematung mendengar penuturan bibi Lili. David datang memberinya banyak hadiah untuk putrinya. Untuk apa?


" Bi..."


" Jangan menolak pemberian seseorang Zoy, lihat putri mu. Dari tadi bahkan dia tak berhenti berceloteh."


" Tapi bi, untuk apa tuan David memberikan Al banyak boneka. Zoya takut, jika Al mengira dia benar benar ayahnya. Zoya hanya ingin bahagia bersama Al bi?"


Bibi Lili mengangguk, ia tau ketakutan Zoya. Tak mudah bagi Zoya menerima pria lain dalam hidupnya. Dia sudah terlalu banyak menderita dan berharap. Zoya hanya tak mau melabuhkan hati dan harapannya pada seseorang yang hanya memandangnya sesaat.