Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode. 85


David berbalik dan tersenyum, senyum nya mengejek Dewa yang memelas padanya.


"Kau sangat menyedihkan tuan, selain bangkrut, kau juga pasti akan membusuk dengan penyakit kelamin mu." Wajah Dewa menunduk, dari mana David tau penyakitnya. Sementara David sendiri tersenyum tipis.


"Itu adalah ganjaran yang pantas untuk mu. Semoga saja malaikat lebih dulu mencabut nyawamu, sebelum kau merasakan milikmu yang membusuk dan bernanah."


Ia lalu berbalik pergi, dan menghembuskan nafasnya perlahan. Mungkin ini adalah karma untuk ayahnya, yang selalu berganti ganti wanita. Ia benci yang terlahir dari benih pria brengsek seperti nya. Sementara Dewa menatap punggung lebar David. Ia mengusap wajahnya gusar, mendengar penuturan David. Ya tentu saja kelaminnya akan membusuk jika ia tak mengobatinya. Apalagi dokter menyarankan agar pergi keluar negri.


"Luna..."


Dewa berjalan pergi, ia akan pergi ke rumah sakit di mana Luna di rawat. Wanita itu pasti yang menyebarkan nya.


Tiba di sana ia tak mendapati keberadaan Luna. Ia hanya melihat suster yang menganti sprei putih polos khas rumah sakit.


"Suster dimana pasien yang bernama Luna.?" Suster berjengit, ia menoleh kebelakang dan mendapati pria paruh baya.


"Putri anda sudah pulang tuan, satu jam yang lalu." Dewa menatap tajam pada nya, dia pikir Luna adalah putri nya. Bukan putrinya lebih tepatnya teman ranjang nya. Dewa tak banyak bicara ia melangkah pergi, mencari keberadaan Luna.


*


Zoya bernafas lega mendengar dokter mengatakan jika putrinya baik baik saja. Empat hari ia hanya menangis melihat putrinya yang selalu merintih kesakitan. Dan saat ini, dokter membuka perban di kakinya.


"Wah putri Daddy pintar dan cepat sembuh." David mencium wajah Almira bertubi tubi. Sementara Zoya sendiri tersenyum, hatinya bahagia mendapatkan suami yang menyayangi dirinya apa adanya. Apalagi yang ia inginkan, David menyayangi putrinya.


Kesalahan David yang dulu benar benar di bayar nya dengan membahagiakan mereka berdua.


Zoya memaafkan suaminya yang pernah tidur dengan Rania di malam pesta pernikahan mereka. Mengingat Rania, ini sudah setengah bulan saat pesta pernikahan mereka di gelar dan David meniduri wanita itu.


Sementara David menautkan kedua alisnya melihat istrinya yang gelisah. Bukankah dokter mengatakan jika Almira akan baik baik saja. Lalu kenapa istrinya seperti gelisah, tangan nya juga meremas gaun syar'i nya.


"Sayang ada apa?" Zoya menggelengkan kepalanya, ia tak ingin membuat khawatir suami dan bundanya. Lagi pula putrinya sedang sakit. Tak lama kemudian David pamit pergi ke kantor.


"Ada apa..?"


"Perusahaan tuan Dewa bangkrut tuan, investor menarik perusahaan nya, karna tuan Dewa tak bisa menutupi hutang beliau."


David menghembuskan nafasnya perlahan. Inilah yang akan di alami pria tua itu. Menghamburkan uang untuk kesenangan nya. Apalagi pria tua itu mengidap penyakit, David yakin itu.


"Biarkan saja, aku tak perduli. Lagi pula aku yakin pemiliknya juga akan sama, sekarat."


Rey mengerutkan keningnya mendengar penuturan tuannya. Apa tuan Dewa kecelakaan dan masuk rumah sakit. Tapi Rey tak berani bertanya.


Satu bulan kemudian,...


Luna terbaring di ranjang kontraknya yang dulu. Setelah pertemuannya dengan Dewa sebulan yang lalu. Dewa hampir saja membunuhnya. Dia menyalahkan dirinya yang menyebarkan virus padanya.


Saat ini, tubuh Luna sangat kurus kering. Hanya perut yang terlihat membuncit, apalagi kulit nya juga sangat berubah menjadi kusam.


Tak ada makanan yang masuk ke dalam mulutnya, ia tak bisa memasak. Jangankan memasak, hanya berdiri jalan jauh saja tubuhnya sangat lemas. Tak ada yang memberinya makan, ia hanya akan berjalan ke depan mencari nasi bungkus. Tapi sudah dua hari ia tergeletak di kasur busanya. Ia kadang akan mengumpat Dewa, mungkin pria itu lah yang membawanya virus nya, dan bukan dirinya.


Ssttt..


" Dewa brengsek..."


Nancy tersenyum sinis melihat wanita menyedihkan di depannya. Dan Luna yang melihat wanita itu mengejeknya mengepalkan tangannya.


"Kau juga akan mendapat giliran mu, Nancy."


Nancy mengepalkan tangannya dan menamparnya, ya Luna tau wanita itu bernama Nancy. Saat ia bertengkar dengan Dewa, teman ranjang Dewa juga ada di sini. Ya Nancy, wanita yang datang ke apartemen Dewa dan bercinta dengan Dewa saat ia memergokinya. Dia tinggal tak jauh dari sini.


"Kau berani menampar ku,"


Nafas Luna memburu, merasakan panas di pipinya. Di tambah lagi Nancy menjambak rambut Luna.


"Dengar penyakit itu hanya suka padamu dan pria tua itu."


Nancy melepaskan begitu saja rambut Luna, dan pergi ke kontrakan miliknya yang tak jauh dari sana.


Sementara pria yang di umpat sedang di luar negeri. Ia menjual perusahaan miliknya dan menutup hutangnya sebagian. Lalu pergi ke luar negri, mana mungkin ia akan meregang nyawa karna penyakit memalukan ini. Biarkan ia miskin tapi ia tak ingin meregang nyawa dengan penyakit kelamin.


*


Rania menatap benci pada Zoya, dan Zoya sendiri, jantung nya sudah berdetak lebih kencang. Sepuluh menit yang lalu penjaga memberitahukan jika ada seorang wanita mencari nya, dan ternyata Rania. Wanita yang sebulan lalu itu tidur dengan suaminya.


"Maaf nona Rania, ada yang bisa saya bantu?"


Rania menatap sinis, ia menatap datar pada Zoya. Wanita yang membuatnya hancur. Melemparkan suaminya padanya dan mengambil David dari nya.


"Kau tau siapa yang tidur dengan suamimu saat pesta pernikahan kalian."


Zoya mencoba bersikap tenang, meski hati nya bergemuruh mengingatnya. Ia juga balas menatap Rania.


"Aku tau,"


"Bagaimana jika aku mengatakan aku hamil. Apa kau akan membiarkan David menikahi ku. Kau tentu tau Zoya, David tak hanya satu kali menyentuhku. Bahkan berkali kali, sampai aku tak bisa berjalan."


Senyum kemenangan di bibir Rania, melihat wajah pucat Zoya. Tapi tak lama kemudian senyum itu menghilang.


"Kau yakin mengandung bayi David Rania." Sinta mengagetkan mereka berdua. Rania salah tingkah ia duduk gelisah di tempatnya. Dan Sinta menghembuskan nafasnya perlahan. Kenapa Rania tak bisa melihat kebelakang. Bagaimana jika David tau, entah apa yang putranya lakukan padanya.


" Ya aku memang tak hamil tante," Zoya bernafas lega mendengar nya. Bukan ia tak tau diri, tapi David adalah suaminya mana mungkin ia rela wanita lain mengandung anak nya.


"Tapi apa tante tau, David membayar dokter untuk mengangkat rahim Nia."


Deg...


Zoya shock mendengar nya, tidak mungkin suaminya akan melakukan hal seperti itu. Sementara Rania sendiri menangis, ia mengangkat kaosnya ke atas, memperlihatkan jika itu benar adanya. Dan Zoya, menggelengkan kepalanya, melihat bekas luka sayatan pisau bedah di purut bawah Luna. David tak mungkin sekejam itu padanya.


"Siapa pria yang ingin menikahi ku tante. Tak ada yang mau menikahi wanita cacat seperti ku."


.