
Hahhh...
Aaron shock mendengarnya, Almira mengatakan jika ia seperti monster, yang benar saja. Tanpa sadar ia meraba wajahnya yang di tumbuhi bulu bulu yang sedikit kasar.
Benarkah ia seperti monster seperti yang Almira katakan.
Aaron berjalan menjauh dari Almira, ini tak bisa di biarkan. Bagaimana mungkin dia seperti monster katanya. Wajah tampan seperti dewa, yang di puja seluruh wanita di katakan monster oleh gadis incarannya. Yang benar saja....
Almira mengikuti Aaron dari belakangnya. Ia takut di tanggal sendiri di tempat seperti ini. Ia tak ingin pria tadi mencarinya. Tak lama kemudian ia mengerutkan keningnya melihat pria dewasa itu berkaca di spion mobil. Tak hanya itu dia juga meraba raba kumis dan janggut nya.
"Om..."
"****...."
Aaron mengumpat dan berjengit saat mendengar suara Almira mengagetkannya. Gadis itu sudah berdiri di belakangnya. Sejak kapan dia berdiri disitu, tubuhnya yang kecil sama sekali tak terlihat olehnya.
Almira menatap tak berkedip wajah Aaron dan pandangan matanya turun ke bibir tebal Aaron yang mengumpat.
Aaron salah tingkah di tatap intens oleh gadis pujaannya. Dan lagi kenapa Almira menatap wajah nya tak berkedip. Apa selain seperti monster dia juga seperti alien.
"Ada apa?"
Ia mencoba bersikap cool, meski dadanya berdebar kencang di tatap intens dengan mata besarnya. Ia juga mengumpat dirinya sendiri yang salah tingkah dan kikuk saat di pergoki Almira.
"Om temannya daddy..?"
"Ya.." Menjawab acuh, bukan lagi teman nya. Melainkan musuh besarnya yang mencoba merebut istrinya dan dia adalah ibu gadis incaran nya. Aaron terkekeh dalam hati, memang harus nasib nya mungkin yang akan terikat oleh ibu dan anak. Bukankah akan sangat lucu, jika ia tak bisa mendapatkan ibunya anaknya pun tak masalah. Memang benar benar menyebalkan, kenapa ia harus tergila-gila dengan mereka berdua.
Melihat Aaron mengangguk Almira tersenyum lebar, ia mendekat dan mengulurkan tangannya mencium tangan Aaron.
Deg...
Dada Aaron bukan lagi berdetak kencang, melainkan bergemuruh hebat. Apa maksudnya ini, seketika ia mundur menjauh dari Almira. Almira sendiri yang melihat pria dewasa itu mundur dan berbalik mengerutkan keningnya.
"Al...Ya ampun Al, hampir aja aku gila cari kamu di dalam. Kenapa keluar gak tunggu aku sih Al. Aku cari kamu di dalam sampai putus asa, dan kamu berdiri sendiri di sini, menyebalkan."
Bastian menatap Almira yang seperti tak mendengarnya.
"Al.."
"Ya kak, kakak udah ketemu sama kak Raja." Bastian mengangguk mengiyakan, tak lama kemudian ia mengajak Almira ke rumah temannya yang sudah menunggunya.
Sedangkan Aaron duduk di mobilnya dengan wajah pucat dan putus asa. Nathan sendiri yang melihatnya bingung. Bukankah tuannya baru saja bertemu dengan gadis incarannya. Kenapa wajahnya justru sangat kusut dan tertekan. Ada apa dengan tuannya. Apa gadis itu langsung menolak tuannya.
"Pulang...."
Nathan mengangguk, tak banyak bicara dia melajukan mobilnya kembali lagi ke hotel. Ada apa dengan tuannya ia sendiri tak tau? Yang jelas ia tak mungkin lancang bertanya, bisa saja kepalanya berpindah tempat. Apalagi melihat wajah diamnya yang terlihat menyedihkan.
Sampai di hotel, Aaron berjalan cepat, meninggalkan Nathan. Begitu sampai di kamar hotel dia mengamuk menghancurkan barang barang hotel yang tersedia. Nathan sendiri yang melihat dari depan pintu masuk bingung. Ia menunduk, berdiri di depan pintu dan mendengarkan barang pecah dan kursi yang terbalik.
Ya Aaron melampiaskan amarahnya pada barang tak bersalah. Ia mengusap wajahnya kasar. Almira...
Gadis muslim dan taat beribadah, sedangkan dia seorang atheis yang tak percaya dengan adanya tuhan. Bagaimana mungkin dengan ini semua. Tak hanya usia yang terpaut jauh. Kepercayaan pun berbanding terbalik dengan Almira.
" Carikan aku orang akan merubahku seperti Almira.!"
"Tuan..." Nathan tak percaya dengan apa yang di dengar nya. Jadi ini lah yang membuat Aaron mengamuk dan tak terkendali.
"Anda yakin.."
Aaron menatap Nathan tajam. Dadanya yang bergemuruh menendang kursi di depannya dan mengarahkannya pada Nathan. Untung saja kursi sofa itu berat, saat Aaron menendangnya tak terlalu jauh dan tak mengenai dirinya.
Nathan mengangguk dan berbalik keluar dari kamar hotel tuannya menginap.
Aaron merogoh ponselnya yang bergetar, ia menatap siapa yang menelepon. Seketika amarah yang sebelumnya belum padam bergemuruh kembali. Ia membanting ponsel jutaan dolar nya pada dinding kamar hotel.
Tangannya terkepal erat, membayangkan wanita yang selama ini mengganggu ketenangan nya. Wanita ****** yang melemparkan tubuhnya pada nya tiga tahun lalu. Ia yakin bukan dirinya yang menembus keperawanan Queen. Meski ia sendiri tak tau rasanya seperti apa bercinta dengan perawan. Tapi yang pasti Queen sama dengan wanita yang pernah ia tiduri.
*
"Al besok aku jemput lagi ya," Almira mengangguk mengiyakan. Tak lama kemudian Bastian pulang kembali mengendarai sepeda motornya. Almira sendiri masuk kedalam rumah.
"Dad..."
"Sayang, kenapa baru pulang,"
"Banyak yang harus di kerjakan Dad.." Almira meraih tangan David dan mencium nya.
"Ya udah tidur sudah malam."
Almira mengangguk dan berjalan menuju kamar miliknya. Sedangkan David kembali lagi ke ruang kerjanya. Ia memang sengaja menunggu putrinya di ruang tamu tadi. Sebagai orang tua David tentu saja khawatir mempunyai anak gadis yang sudah menginjak usia remaja.
Di kamar...
Almira membaringkan tubuh lelahnya. Hampir saja pria yang memangkunya tadi berbuat macam macam dengan nya.
"Untung saja ada teman daddy,"
Gumamnya. Tak bisa membayangkan bagaimana jika pria itu sampai macam macam terhadap nya.
Tak lama ia memejamkan matanya, cukup lelah dan mengantuk karna Almira tak pernah tidur lewat tengah malam.
*
Aaron menatap pria paruh baya di depannya ini. Dia masih berpikir apa yang baru saja di katakan oleh nya, jika mengikuti Almira ternyata tak seperti yang ia bayangkan.
"Apa kau yakin milik ku akan kembali seperti semula.?"
Tatapan matanya menghunus seperti pedang yang siap mengoyak pria tua di depannya ini. Bagaimana mana mungkin jika pria ini memintanya memotong kejantanan nya yang gagah perkasa.
"Apa kau ingin membodohi ku pak tua." Lanjutnya lagi.
"Tidak tuan, memang seperti itu jika anda ingin berpindah keyakinan. Sesudah mengucapkan kalimat syahadat anda harus memotong milik anda."
Nathan yang berdiri tak jauh dari mereka hanya mendengar kan. Ia juga shock saat mendengarkannya . Mereka memang tak tau sama sekali.
"Ya di mana aku harus melakukan nya."
Pria paruh baya itu tersenyum lebar. Ia yakin jika pria di depannya ini bukanlah orang sembarangan. Jika dia ingin berubah dan menganut agama islam mungkin saja dia sadar jika tuhan itu ada.
"Silahkan ke pondok kami tuan, insyaallah kami akan melakukan nya di sana. Bersama santri lainnya. Anda tak perlu khawatir, insyaallah kami bisa di percaya."
Aaron mengangguk mengerti, ia lalu menatap Nathan agar mengantarkan pria paruh baya itu pulang ke rumah nya.
Setelah Nathan dan pria itu pergi, Aaron tersenyum sendiri. Ia sudah bertekad akan mendapatkan Almira bagaimana pun caranya. Ia yakin pria itu tak akan memangkas habis milik nya. Toh milik nya sangat besar dan panjang. Jika pria itu memotong nya sedikit juga masih terlihat panjang kan.
" David Aderson, aku pasti bisa membawa pulang putri mu kali ini."
Aaron tersenyum miring, ia akan memperjuangkan milik nya kali ini. Jika David tak setuju, ia tak perduli. Ia harus menjadikan Almira milik nya apapun caranya. Gadis belia itu sudah ia klaim menjadi miliknya sejak delapan tahun lalu.
"Tidak ada yang tak bisa ku dapatkan, Almira milikku. Aku siap melawan mu jika kau menghalangi langkahku."
Aaron berjalan melangkah menuju kamar milik nya. Bibirnya masih tersenyum lebar, membayangkan bagaimana lucunya Almira yang akan duduk manis di mension menunggunya pulang dari perusahaan. Pasti itu sangat menyenangkan.
Tak lama kemudian ia melotot mengingat jika Almira mengatakan dirinya monster. Ia berjalan cepat dan berdiri di depan cermin besar. Tangan nya mengusap pipinya. Masih berpikir bagian yang mana yang di bilang monster oleh Almira. Apa karna bulu di wajahnya. Apa Almira tak suka jika ia memelihara brewok nya.
Tak lama kemudian Aaron berjalan ke kamar mandi. Ia harus membersihkan bulu kasar di wajahnya. Pasti ia akan terlihat lebih muda. Dan Almira, pasti akan tergila-gila dengan nya. Gadis itu pasti akan memanggilnya dengan sebutan Hubby dan bukan Om, apalagi monster.