
Aaron menatap wajah wanita yang lebih muda darinya. Dan lagi dia membawa nampan di tangan nya. Ia tak mengerti, kenapa wanita itu tak juga pergi meninggalkan dirinya dan hanya berdiri diam mematung bersama nampan di tangan nya.
Sedangkan Arsy sendiri menatap wajah Aaron tak berkedip, ia terkesima melihat wajah tampan Aaron yang duduk di kursi sofa memakai sarung pemberian suaminya.
Arsy adik Bisma adalah istri Janu, anak pemilik pondok pesantren tempatnya tinggal. Dua tahun lalu ia menikah dengan anak pemilik pondok ini. Ia tadi suruh suaminya mengantarkan camilan dan teh untuk tamunya. Tapi siapa sangka dia tak bisa mengalihkan pandangannya pada wajah Aaron yang tampan bak Dewa di depannya.
"Apa kau puas menatap ku nona,"
Aaron tersenyum miring, melihat wanita itu yang kaget dan gelagapan. Hampir saja nampan di tangan nya terjatuh dan berhamburan.
"Keluar dari sini jika sudah puas menatap ku." Lanjutnya lagi.
Ia lalu beralih kembali pada layar ponselnya. Mengumpat Nathan yang belum mengetahui nomer ponsel milik Almira.
Ia sudah tak sabar ingin segera mendengar suara lembutnya. Membayangkan itu Aaron menyentuh dadanya yang berdetak. Ia tersenyum sendiri, mengingat mata besar dan bundar yang menatapnya. Itu sangat lucu menurut nya, benar benar seperti boneka yang pernah ia lihat.
Arsy yang melihat Aaron tersenyum pun balas tersenyum. Arsy tak tau jika sebenarnya Aaron tak tersenyum dengan nya. Melainkan tersenyum membayangkan wajah imut Almira.
"Tuan, silahkan tehnya di minum."
Aaron melirik tak menjawab nya, ia fokus menatap ponsel nya kembali. Tak perduli dengan wanita yang menurunkan isi nampan di tangan nya.
Ponsel baru yang Nathan berikan padanya tadi. Ia juga mengganti nomor ponsel nya, agar Queen tak lagi menghubungi nya. Ia sudah muak dengan wanita itu. Ia tak akan bisa menikahi Queen apapun alasannya.
"Apa suami mu tak mengajarkan dirimu, jika menatap pria lain akan menimbulkan dosa, nona. Sudah ku katakan keluar dari sini."
Aaron menatap tajam pada Arsy, Arsy sendiri kaget saat Aaron memandangnya dengan tatapan mata tajam nya yang hampir keluar. Tentu saja ia takut dan langsung berbalik pergi meninggalkan Aaron sendiri.
Sekepergian Arsy, Aaron mendengus. Ia tak suka jika wanita lain menatap wajahnya. Hanya Almira yang boleh menatap wajah tampan nya. Padahal Almira justru mengatakan dirinya monster.
Arsy berjalan sambil membayangkan wajah tampan Aaron. Janu yang melihat istrinya tersenyum sendiri mendekati nya.
"Dek Arsy, ada apa senyum senyum sendiri.?"
Arsy kaget dan ia menatap suaminya, kemudian menggelengkan kepalanya, tak mungkin ia membayangkan wajah tampan Aaron yang bukan siapa siapa.
"Mas, siapa pria di dalam sebenarnya?" Janu menggeleng dan mengajak istrinya ke rumah.
*
Almira menatap David di meja makan, ia tersenyum saat mengingat wajah shock Aaron saat ia mengikutinya dan memergokinya.
"Dad, kemarin malam Al ketemu sama teman daddy, dia serem kayak monster."
David mengerutkan keningnya mendengar penuturan Almira. Tak lama kemudian ia tersenyum tipis, mungkin Almira kaget saat keluar rumah tanpa mereka. Memang selama ini Almira hanya keluar dengan nya atau Zoya.
"Apa kau senang sayang,?" Almira mengangguk mengiyakan, ya dia senang melihat pemandangan kota di malam hari. Tapi bukan dengan tempat itu, menayangkan saja Almira bergidik ngeri.
"Tapi ingat, jika main malam kau harus bisa menjaga diri. Daddy tak mau kau terlalu bebas di luar sana."
Almira mengangguk mengiyakan, sedangkan Zoya sendiri sebenarnya ia tak setuju jika David melepaskan Almira tanpa pengawasan. Tapi Almira juga sudah remaja kasihan dia jika harus di kurung dengan adiknya.
"Kakak kalau main ajak Arhas sama Asraf yah." Adiknya mengangguk mengiyakan ucapan kakak nya.
"Sudah makan, kakak cuma pergi ke rumah teman kakak siapin acara perpisahan kakak aja."
Kedua adik kembarnya mendengus, mereka tau itu adalah sebuah penolakan.
*
Queen melangkah keluar dari Bandara. Matanya sesekali melihat ke arah ponsel di tangan nya.
Aaron sama sekali tak menghubungi dirinya dan nomor ponsel nya pun tak aktif. Bagaimana dia tau di mana Aaron saat ini.
Ia menaiki mobil yang menjemputnya di bandara bersama dengan sang asisten. Ia meremas ponselnya dan gelisah di tempatnya duduk. Dadanya seperti ada yang mengganjal. Tak mungkin kan Aaron akan menghianati dirinya.
Dua jam berkendara Queen sampai di rumah peninggalan Omanya. Ia masuk ke dalam dengan langkah tak semangat.
"Sebenarnya kau di mana, kenapa tak menjawab telepon dariku. Kau tau aku sudah di Indonesia saat ini."
Queen bergumam lirih, ia kecewa dengan kekasihnya yang tak mengangkat telepon darinya. Sudah lima hari Aaron sama sekali tak mengangkat telepon darinya. Biasanya saat dia sibuk pun , Aaron akan selalu mengangkat telepon darinya.
Sementara Aaron sendiri yang masih di pondok pesantren. Terkikik geli membayangkan bagaimana lucunya saat Almira melihat milik nya yang berubah seperti jamur. Pasti anak itu akan kegirangan melihat nya, bukankah ini sangat imut. Seperti wajah nya yang imut dengan mata bulat dan besar.
"Aku akan mendapatkan mu Baby.."
Nathan mendesah lirih, ia pikir tuannya pasti membayangkan gadis belia itu.
Tidak tau malu, pedofil...
Umpatnya pada tuannya yang menyebalkan menurut nya. Tuannya memang sangat memalukan, bagaimana mungkin menyukai gadis belia yang jauh di bawahnya. Apalagi dia adalah anak dari wanita yang hendak di rebut dari suaminya.
Aaron menyalak tajam pada Nathan. Ia tau gerak gerik Nathan, pria ini memang tak tau di untung ia menjadikannya asisten. Nathan menggelengkan kepalanya tanda tidak.
"Tidak tuan.."
Aaron menyambar paperbag di tangan Nathan dan mengeluarkan isinya. Tak lama kemudian ia mengganti kain yang melilit di tubuh bawahnya, dan menggantinya dengan celana yang di bawa Nathan. Ia sedikit mengerutkan keningnya saat milik nya bergesekan dengan kain pembungkus nya.
Geli...
"Apa dia akan baik baik saja tuan. Baru kemarin apa tidak sakit." Nathan sendiri penasaran.
Bukankah habisi di potong.
"Apa kau ingin merasakannya juga."
"Tidak.."
Sepuluh menit kemudian Aaron keluar dari kamar tempat nya di kurung. Ia seperti tawanan di sini, memakai kain yang di lingkarkan di pinggang nya. Tidak mandi dari kemarin, pantas saja tubuhnya gatal.
"Apa kau sudah memberikan nya Nat,"
"Ya tuan.."
"Tuan Aaron, anda mau kemana.? Maaf jika saya lancang ini apa maksudnya dengan uang yang tuan Nathan berikan.?"
Kyai Abu mengagetkan Aaron dan Nathan dari arah samping. Sementara Aaron sendiri menatap wanita yang di belakang pria paruh baya ini. Ia tersenyum tipis, melihat wanita yang memakai kerudung dan tersenyum padanya. Bukankah dia istri pria yang membantunya.
"Saya tak ingin punya hutang, anggap saja itu hadiah dari ku."
Aaron berbalik dan meninggalkan mereka, ia sudah tak sabar bertemu Almira. Lagi pula ia risih dengan wanita itu. Sudah tiga kali dia datang ke kamar di mana ia berada. Entah apa yang dia lakukan, di dalam.
Seminggu kemudian...
Almira tersenyum lebar dengan teman temannya. Hari ini adalah hari kelulusan siswa sekolah. Zoya dan David pun tak kalah senang, mereka berdua tersenyum saat mendengar nama putrinya di panggil. Almira menerima ranking siswi tercerdas di sekolah nya.
"Selamat ya Al.."
"Makasih kak.."
"Nanti malam jadikan pestanya."
Bastian mengangguk mengiyakan ucapan temannya. Almira sendiri berjalan ke arah Zoya dan David.
"Selamat sayang,.. "
"Makasih bunda.." David dan Zoya memeluk Almira bergantian. Tak lama kemudian mereka berdua pergi meninggalkan Almira dan teman temannya.
"Jangan terlalu malam pulangnya sayang."
Almira mengangguk, ia lalu berbalik mengikuti langkah teman temannya, yang akan merayakan hari kelulusan mereka nanti malam.
Sementara di dalam mobil, Aaron tersenyum miring. David dan Zoya sudah pergi, itu artinya ia yang akan menemani gadis itu. Anggap saja ia akan menjadi bodyguard sementara sebelum menjadi suaminya.
"Kita akan selalu bertemu baby."
Aaron menurunkan kakinya dan melangkah tegap menghampiri Almira dan teman temannya. Dari jauh mata tajam nya memerah saat bahu Almira di peluk oleh pria remaja lainnya.
Aaron melangkah lebar dan melepaskan tangan Bastian dari pundak Almira. Tak hanya itu, ia juga melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Almira dan melototkan matanya pada Bastian.
"Beraninya kau menyentuhnya.."
Bastian dan teman temannya shock dan kaget mendapati pria dewasa tiba-tiba saja datang di tengah tengah mereka. Apalagi dia memeluk pinggang Almira.
Mereka menatap Almira dan Aaron bergantian. Sedangkan Bastian sendiri dadanya bergemuruh. Ia cemburu melihat Almira diam saja di peluk oleh pria dewasa yang hampir saja menabraknya waktu itu.
Siapa sebenarnya dia, dan ada hubungannya apa dia dengan Almira.
"Om, siapa.?" Bastian bertanya dengan nada tak suka. Ia menatap tajam Aaron yang memeluk Almira.
Almira sendiri masih shock, ia menatap wajah Aaron dan mengerutkan keningnya saat ia mengingat dan mengenalinya.
"Om..."
Aaron tersenyum lebar, ia pikir Almira lupa padanya. Apalagi melihat senyum manis di bibir merah jambunya. Seketika membuat jantung Aaron hampir lepas dari tempatnya.
Ia gemas melihat mata bulat itu menatap nya tak berkedip. Hingga tanpa sadar ia menyambar bibir Almira dan **********.
Cup.....
.