
Aaron menatap wajah cantik istri nya, ia tersenyum tipis mengingat jika hati nya sudah menginginkan gadis belia yang jauh lebih muda dari nya. Apalagi mengingat kapan hatinya menginginkan Almira menjadi miliknya. Delapan tahun lalu dan Almira sendiri masih berpakaian merah putih.
"Aku memang benar benar pedofil,"
Gumamnya dalam hati, tak lama bibir nya maju ke depan mengecup bibir Almira yang meringis melihat darah di lengan nya.
"Om diam nanti lukanya berdarah lagi."
Aaron tersenyum, ia menatap lukanya yang di buka kembali oleh Almira.
"Om ini kenapa,?"
Almira shock saat melihat luka suaminya. Ia pikir seperti terkena sesuatu, mungkin kah....
Almira menatap wajah suaminya. Sedangkan Aaron yang di tatap seperti itu oleh mata bundar Almira tersenyum, ia mengelus kepalanya dan mengecup pipi istrinya lagi. Mata ini lah yang membuat nya tergila gila.
"Tak apa sayang, ini hanya luka kecil."
Mata Almira berkaca kaca melihat luka Aaron. Dan suaminya bilang ini hanya luka kecil, bagian mananya yang kecil.
"Sayang tak apa apa, besok juga akan sembuh Al. Sudah jangan menangis, apa Al takut jika Om tak menggendong Al.?"
Aaron tertawa dan mencubit pipi Almira gemas, inilah kenapa ia tak ingin istrinya mengetahuinya, ia tak ingin membuat Almira menangis.
"Nathan bodoh.." Umpat nya pada asisten nya.
Almira menggelengkan kepalanya dan mengobati luka suaminya. Sesekali ia mengusap pipinya yang basah. Dan Aaron yang melihatnya tersentuh, boleh kah ia bangga jika Almira tak ingin kehilangan nya. Istri nya bahkan menangis melihat luka di tubuhnya. Padahal luka itu sama sekali tak berarti apa-apa untuk nya.
Tak lama kemudian, ia menatap lengan atas nya.
"Apa sudah selesai sayang,?"
Almira mengangguk mengiyakan, dan Aaron langsung menggendong lagi tubuh Almira.
"Om tidak, turun kan Al, nanti lukanya berdarah lagi."
Almira beringsut turun dari gendongan Aaron, tapi Aaron tak membiarkan istrinya turun dari gendongan nya.
"Al.."
Almira diam, ia mengungkapkan lagi lengan nya pada Aaron.
"Apa tidak sakit Om,?" Bisik nya lirih.
"Lukanya akan mengering dengan sendirinya sayang, apalagi kalau istri om Aaron yang merawatnya sendiri, pasti besok akan langsung sembuh."
Almira menyembunyikan wajahnya di leher Aaron. Aaron tertawa terbahak melihat wajah Almira yang bersembunyi. Ia yakin jika istri nya malu mendengar gombalan recehnya.
Tak jauh dari sana Mic melihat tuannya aneh, ia tak pernah melihat tuannya yang tertawa selepas ini. Saat ada orang tuanya pun Aaron tak pernah tertawa selepas ini. Tuannya ternyata banyak berubah semenjak kedatangan gadis belia yang menjadi nyonya di mension mewahnya.
"Cinta memang benar benar membuat orang berubah, dan gila."
Mic keluar lagi, ia tak jadi menemui tuannya, jika ia sudah membuang jasad Rodric dan tangan kanannya. Ia menggelengkan kepalanya, hanya Rodric lah pria yang selalu mengusik kehidupan Aaron. Padahal sudah hampir tujuh tahun Rodric tak lagi berambisi mengalahkan Aaron.
Tapi ternyata pria itu justru mengantar nyawanya pada tuannya. Apalagi saat ini ada wanita yang di cintai tuannya. Tentu saja tuannya tak akan pernah membiarkan orang lain mempunyai celah. Meski musuhnya banyak ia yakin tak ada lagi yang akan datang mengusik tuannya saat mendengar jika Rodric sudah lebih dulu mati.
Mereka semua tau jika Aaron akan lebih gila dari ini jika milik nya di usik.
*
Tengah malam, Almira tak bisa tidur ia menatap wajah Aaron yang tidur di samping nya. Ia takut jika wanita itu datang lagi mengambil suaminya dari nya. Ia tak ingin kehilangan suami nya dan tak ingin suaminya di miliki oleh wanita itu.
Apa ini yang di katakan Qinan, jika ia sudah jatuh cinta.
Benarkah...
Almira tersenyum lebar, jika yang di katakan Qinan itu benar. Itu artinya ia sudah jatuh cinta pada suaminya sendiri. Padahal mereka baru dua Minggu menikah, dan secepat ini ia jatuh cinta pada suaminya.
"Al mencintai Om."
Mata Aaron terbuka lebar mendengar penuturan istrinya. Dan Almira kaget melihat Aaron membuka matanya. Tak lama kemudian Aaron sudah berada di atas tubuh kecil nya.
"Om.."
"Al bilang apa, sayang..?"
Almira menggeleng kan kepalanya, matanya mengarah ke arah lain, tak ingin menatap wajah Aaron yang sangat dekat dengan nya. Apalagi saat ini jantung nya berdebar kencang, takut jika suami nya mendengar nya. Dan ia sangat malu di tatap seperti itu oleh suaminya.
"Sayang..."
Aaron mengarahkan wajah Almira agar menatap nya. Almira sendiri menggigit bibir bawahnya sendiri. Malu ketahuan jika ia sudah lancang mencintai suaminya.
Dada Aaron berdetak lebih kencang, saat melihat bibir Almira yang tergigit, ia masih menunggu jawaban yang keluar dari bibir istri nya. Ia juga tak mungkin salah dengar, apalagi ia belum tidur.
"Al mencintai Om,"
Tanpa basa-basi Aaron langsung ******* bibir mungil Almira. Hati nya berbunga bunga mendengar jika Almira mencintai nya. Cinta nya terbalaskan oleh gadis belia yang menjadi istri nya.
Rasa yang membuncah di hatinya mendengar pengakuan istrinya membuat Aaron hilang kendali. Bibirnya ******* rakus bibir yang tergigit dan membuatnya terbakar. Di tambah lagi jika Almira mencintai nya. Itu membuat nya semakin panas dan menginginkan Almira, ia ingin menyentuh Almira.
"Al bolehkah.."
Aaron bertanya pada Almira, saat melepaskan tautan bibirnya. Almira sendiri menatap mata suaminya yang berkabut, tak lama ia mengangguk.
Dan Aaron tersenyum lebar mendapatkan jawaban Almira.
"Tapi lukanya Om,"
Aaron tak menghiraukan ucapan Almira. Ia membuka pakaian nya dan membuangnya asal. Ia juga membantu melepaskan kain istri nya. Melabuhkan lagi bibirnya pada bibir Almira.
Ahh....
Tubuh Aaron semakin terbakar mendengar desah istrinya. Ia menjengkali tubuh Almira dengan bibir nya yang basah, hingga membuat Almira kegelian.
"Om..."
Jerit Almira saat merasakan bibir Aaron di pusat inti tubuhnya. Tak lama kemudian tubuh Almira menegang akibat ulah suami nya.
Cup.. Cup... Cup....
Aaron naik dan mengecup wajah Almira tanpa terkecuali. Ia sangat bangga mendengar suara jeritan istrinya karena ulahnya. Tak lama kemudian, tangan nya memposisikan milik nya pada milik Almira. Ia tersenyum saat merasakan jika milik Almira masih saja sempit.
Sedangkan Almira sendiri meringis merasakan panas di bawah inti tubuhnya. Baru siang tadi ia menyatu dengan suaminya. Dan malam ini mereka kembali lagi menyatu untuk ketiga kalinya.