Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode. 29


"Nah, anda sangat cantik nona"


Dada David bergemuruh hebat melihat Zoya yang keluar dari kamar ganti. Sangat cantik, apalagi baju itu sangat terlihat pas di tubuhnya yang ramping.


Zoya meremas tangannya, David tadi memintanya untuk mencoba baju yang harganya selangit. Mau tidak mau ia mencobanya dan benar saja bajunya sangat pas di tubuhnya yang ramping. Tapi ia gelisah, takut jika harus membayar. Dengan apa ia harus membayar baju yang hampir seratus juta itu.


"Bungkus semuanya."


"Baik tuan.."


David menggandeng tangan Zoya. Membawanya keluar butik.


"Tuan bajunya."


Sampai di mobil David mengambil paperbag dan mengeluarkan isinya. Zoya mematung di tempatnya berdiri. Setelah sadar ia segera mundur kebelakang. David berjongkok di kakinya. Untuk apa?


"Tuan mau apa?"


David tak menjawab ia melangkah lagi mendekati Zoya dan berjongkok.


"Pakai ini"


Deg...


Dada Zoya bergemuruh hebat, dan ia di buat shock melihat David berjongkok lagi. Tak lama kemudian ia memasangkan heels di kakinya. Lalu berdiri, menggandeng tangannya.


"Ayo.."


David membuka pintu mobil dan menuntun Zoya masuk ke dalam. Kemudian ia juga masuk ke dalam, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sementara Zoya yang mendapatkan perlakuan seperti ini masih belum percaya. Almarhum suaminya Rangga, sama sekali tak pernah sekalipun memperlakukan dirinya seperti David memperlakukannya tadi.


Zoya masih duduk di kursi samping kemudi. Saat ini ia tidak tau berada di mana. Yang ia tau mobil David masuk ke area gedung tinggi.


Zoya berjengit kaget mendengar David membuka pintu mobil menyuruh nya keluar. Zoya menoleh kesana kemari. Ia linglung berada di mana saat ini. David menggandeng tangan nya kembali. Berjalan menuju lobi, di sana sudah banyak sekali karyawan berkumpul.


"Banyak sekali, ada apa.?"


David merasakan tangan Zoya yang dingin di genggaman nya. Ia tau Zoya gugup berjalan dengan nya.


"Angkat wajah mu,"


Zoya hampir saja berteriak kaget mendengar suara bisikan David. Dadanya semakin berdegup kencang. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Berjalan dengan seorang pria tampan dan berkarisma seperti David. Takut dan malu itu sudah jelas di rasakan Zoya.


Tak lama ia kaget saat David berhenti melangkah.


David mendesah panjang melihat istrinya dari tadi menunduk. Sama sekali tak mengangkat wajahnya sedikitpun.


" Zoya angkat kepalamu."


Tangan David menyentuh dagu Zoya, agar mendongak. Zoya yang mendapatkan perlakuan seperti itu mematung. Mata mereka saling bertubrukan memandang satu sama lain.


Deg....


Dada David seketika bergejolak, wajah inilah yang selalu ada di setiap malamnya. Wajah inilah yang membuatnya dia gila. Lama mereka saling berpandangan hingga keduanya di kagetkan dengan suara nyaring dan cedal milik Almira.


"Unda, addy"


Zoya terkesiap mendengar suara putrinya. Ia mengalihkan pandangannya pada gadis yang berlari kecil menuju kearahnya.


Zoya berjalan menyongsong tubuh mungil Almira, tapi David lebih dulu mendahuluinya. Membopong anaknya dan mencium pipi gembul putri nya.


"Putri Daddy nunggu Daddy dan bunda ya?"


"Iya, Al nunggu addy dan unda ampe bosen addy"


Semua karyawan di buat shock dengan interaksi CEO dan bocah kecil yang sedari tadi duduk bersama wanita paruh baya.


Apalagi Nancy dan Queen, dua wanita yang berbeda usia. Entah apa yang ada di pikiran mereka masing masing. Yang jelas mereka berdua tak ada yang senang sedikitpun.


Kesadaran Zoya kembali setelah David melingkarkan tangan kanannya pada pinggang ramping nya. Tak lupa tangan kirinya ada Almira di gendongannya. Zoya kaget dengan aksi David. Hampir saja ia menghindar dengan melepaskan tangan David dari pinggang nya.


"Dengar baik baik, aku tidak akan mengulanginya lagi. Dia istri ku AZZOYA. Mulai hari ini dan seterusnya dia akan sering terlihat di perusahaan ini. Jika ada yang keberatan silahkan angkat kaki dari sini, mengerti?"


"Mengerti tuan.."


David langsung membawa Zoya pergi, masuk ke dalam lift menuju lantai yang di tuju. Dengan Almira yang akan berceloteh ini dan itu. David menanggapinya dengan serius dan sesekali akan menimpali bocah kecil yang hampir berusia empat tahun. Mereka berdua akan tertawa bersama dan David yang akan meledek Almira. Sehingga putri nya tertawa terbahak. Tak ayal keduanya menjadi pusat perhatian banyak nya karyawan David.


Zoya membuka pintu yang tertutup saat melihat David masuk kedalam. Ia di buat shock melihat banyak orang yang hadir di sana. Tak hanya David dan asistennya Rey. Mungkin saja ini ruang meeting. Kaki Zoya hampir saja melangkah mundur. Tapi sang putri memanggilnya.


"Unda cini.."


Zoya gugup, ia melirik ke arah David yang duduk memangku putrinya. Pria itu wajahnya sama, dingin dan kaku. Untuk apa dia membawa ia dan putrinya kemari.


"Nona silahkan duduk"


Zoya mengangguk dan mendudukkan bokongnya pada kursi yang tersedia.


Mereka serempak berdiri memberi hormat pada Zoya.


"Selamat siang Nyonya,"


"Siang.."


David ingin tertawa mendengar nada Zoya gugup dan takut menjadi satu. Istrinya itu benar benar sangat pemalu. Mungkin saja Zoya tak pernah bertemu dengan orang orang yang berdasi atau apa? Jelas sekali jika ia seperti ketakutan.


"Ini adalah rekapan pendapatan bulan lalu nyonya. Dan ini adalah rincian belanja bulan lalu juga nyonya. Jika ada yang selisih anda bisa langsung memanggil kami."


Zoya bingung di tempatnya duduknya. Apa yang mereka bicarakan, dan untuk apa semua ini.?


"Ini untuk apa?"


Pertanyaan yang bodoh Zoya lontarkan, ia tau maksud mereka. Tapi ia bingung kenapa mereka menyerahkannya pada nya.


David ingin sekali mencubit gemas pipi chubby milik Zoya. Terlihat jelas wanita nya sangat kebingungan.


" Nona mulai hari ini perusahaan ini milik anda. Jadi inilah hasil rekapan bulan lalu, silahkan anda periksa kembali nanti."


Hah...


Zoya shock mendengar Rey mengatakan jika perusahaan ini milik nya. Ah mungkin hanya bercanda. Secara dia adalah istri CEO mereka. Mungkin saja begitu.


Keluar dari ruang meeting, David membawa Zoya ke dalam ruang pribadinya. Almira sudah lebih dulu pulang bersama bibi Lili.


Click...


"Siang tuan David. Apa anda mau di pesankan makan siang. Ini sudah lewat jam makan siang tuan?"


Nancy menatap tak suka pada Zoya. Dia sama sekali tak memandang bahwa Zoya ada bersama mereka.


Sementara Zoya menghembuskan nafas nya perlahan. Sebagai sesama wanita ia tau itu adalah bentuk dari suka. Tapi Zoya tak perduli, bukan urusan dia juga, jika wanita itu menyukai David. Bagi Zoya, membahagiakan putrinya adalah penting untuk saat ini.


"Sayang kau mau pesan apa?"


Hah..


Reflek Zoya menoleh mendengar David memanggilnya dengan sebutan sayang. Apa karna wanita cantik ini, David memanggilnya sayang. Dia ingin wanita itu cemburu dengannya. Zoya menggelengkan kepalanya, kenapa ia harus di jadikan umpan.