Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode. 28


Zoya mengendarai sepeda motor matic nya menuju toko miliknya. Kejadian kemarin memang membuatnya shock. Tapi ia tak mungkin membiarkan putri nya kekurangan susu. Ia tak mungkin jatuh terpuruk lagi dengan mengemis pada seorang suami yang mengabaikan nya.


Anggap saja tak pernah ada ijab Kobul antara dia dan David. Lagi pula mereka menikah di bawah tangan. Zoya tak perduli, ia ingin menguatkan hatinya yang sudah rapuh. Kenapa cobaan bertubi tubi datang padanya.


Zoya berhenti di lampu merah, ia masih melamun dengan kejadian yang menimpanya.


Dari samping ia melihat David bersama dengan seorang wanita. Dan David sendiri tak ada sang asisten yang selalu menemaninya.


"Hah... Jangan berharap Zoya. Cukup cari uang untuk kebahagian putrimu."


Lain hal nya yang ada di pikiran Zoya. Yang sebenarnya adalah David bersama dengan arsitek wanita. Semalam ia menghabiskan waktu nya untuk merenovasi rumah yang ia beli untuk Zoya. David menginginkan rumah yang Zoya inginkan. Apalagi ada Almira yang masih kecil. Tentu David akan membuat halaman yang cukup luas untuk putri kecilnya.


Mengingat jika Almira sudah sah menjadi putrinya. David tersenyum lebar, anak itu sangat menggemaskan.


"Kira kira kapan rumahnya selesai.?"


"Jika anda tak keberatan seminggu sudah selesai tuan."


"Tidak bisa lebih cepat lagi?"


"Nanti akan saya usahakan tuan."


Setelah mengantar kan wanita itu David langsung pergi ke kantor nya. Pekerjaan yang menumpuk membuatnya lupa jika dia sudah menikah dengan Zoya.


"****... Kenapa bisa lupa. Pasti Zoya berpikir macam-macam."


David menyambar kunci mobilnya. Rey yang melihat tuannya terburu buru mendesah. Sudah bukan hal yang baru jika David akan lupa segalanya jika menyangkut pekerjaan. Tiga tahun yang lalu dirinya bertambah gila kerja. Semenjak kepergian Zoya David sama sekali tak pernah meninggalkan meja kerjanya. Hanya ia tinggal kala mencari keberadaan perempuan itu.


Dan sekarang mereka sudah menikah, mungkin pikiran nya sudah plong bisa mendapatkan Zoya. Padahal harusnya David harus lebih ekstra pintar mengambil hati Zoya. Pria itu memang sangat kaku.


"Sialan kenapa aku lupa memberitahukannya."


David menancapkan gas dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai di tempat tujuan, ia mengepalkan tangannya melihat Zoya dengan pria yang ingin melamarnya.


"Apa benar kau sudah menikah dengan tuan David Zoy?"


"Iya"


Jawab Zoya menunduk, rasanya sangat bersalah sekali dengan Bisma. Pria yang dua tahun terakhir menemaninya dan putrinya. Menghiburnya dengan segala kekocakannya. Ia pikir Bisma tak mempunyai maksud terselubung padanya. Tapi ternyata pria itu menyimpan rasa padanya.


Zoya tak berharap pria itu mencintai nya, karna Bisma sudah ia anggap sebagai kakak baginya. Tapi Bisma beranggapan lain.


"Selamat atas pernikahan mu Zoy. Aku pikir akulah pria beruntung yang bisa mendapatkan hati mu. Ternyata ada yang lebih beruntung lagi."


"Mas Bisma, bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik dan pastinya gadis. Tidak seperti Zoya."


Zoya mencoba untuk mencairkan suasana yang tegang. Ia tau Bisma kecewa padanya.


"Aku mau pamit padamu Zoy, aku akan ke kota A. Papi menyuruhku kesana, mungkin agar aku melupakanmu."


"Mas"


"Ya, aku bercanda. Sampaikan salam ku pada Al."


Zoya mengangguk mengiyakan ucapan Bisma. Setelah kepergian Bisma ia masuk ke dalam.


Argh...


"Astaghfirullah haladzim, tuan David mengagetkanku. Ada perlu apa?"


David mengagetkan Zoya yang berdiri kokoh di depan pintu.


Setelah ingat jika mereka sudah menikah, Zoya meninggalkan David berdiri di depan pintu. Untuk apa David mencarinya. Ia pikir David benar benar lupa jika mereka sudah menikah.


Melihat Zoya mengabaikan nya David mengikuti langkah wanita yang berstatus istri nya. Ia mencari keberadaan wanita yang bekerja menjadi karyawan Zoya.


"Maaf ada apa tuan kemari? Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Dimana wanita itu?"


Zoya menautkan kedua alisnya mendengar David menanyakan Mira. Ada apa dia mencari keberadaan Mira.


"Zoya.."


David melangkah ke tempat duduk. Hatinya sangat panas mendengar wanita itu tak bekerja hari ini. Itu artinya Zoya hanya berdua dengan pria itu.


Sementara Zoya sendiri justru beranggapan jika David mungkin menyukai Mira.


Zoya melangkah membuatkan David kopi, lalu menyodorkan padanya.


"Kopi nya tuan"


David melirik wanita cantik yang berstatus istri nya. Tak lama ia menghembuskan nafasnya perlahan. Kenapa Zoya masih menemui pria itu. Apa mereka masih berhubungan dekat.


"Untuk apa pria itu datang kemari?"


Zoya berhenti mengocok telur, mendengar David bicara.


"Apa kau masih berhubungan dengan nya.? Kau sudah menikah, tak pantas menemui pria lain."


" Mas Bisma tidak ada maksud apa apa datang kemari."


David tersenyum kecut. Bahkan Zoya memanggil dia mas, terdengar mesra sekali. Sedangkan dia memanggil nama suaminya tuan.


"Jangan berdekatan lagi dengannya, atau pria mana pun."


David berjalan menarik tangan Zoya dan membawanya keluar.


"Tuan anda mau mengajakku kemana? Saya sedang bekerja."


"Aku sudah menelpon orangku kemari, sekarang ikut aku."


"Tapi"


Brakk...


David menutup pintu mobil dan melajukan mobilnya menuju sebuah butik terkenal di kota B.


Setelah sampai ia membukakan pintu untuk Zoya.


Zoya yang di bawa kemari menautkan alisnya, untuk apa mereka kemari.


"Tuan_"


Bibir Zoya terkatup kembali, saat tangan nya di genggam oleh David masuk ke dalam.


"Selamat siang tuan David."


"Pilihlah pakaian yang menurutmu bagus kau pakai."


Zoya masih mematung di tempatnya berdiri. Bingung apa yang harus ia lakukan. Seumur hidupnya dia baru menginjakan kakinya di butik. Biasanya ia akan membeli baju di pasar atau online.


"Zoya.."


"Ah ya.."


"Mari nona saya bantu,"


Zoya tersenyum ramah, matanya melihat isi dalam butik. Ternyata semuanya adalah pakaian syar'i. David membawanya ke butik khusus penjual baju baju syar'i.


Dahi Zoya mengkerut mendapati baju yang yang di bandrol puluhan juta rupiah. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya. Hanya baju satu plus jilbab pashmina di bandrol dengan harga dua puluh lima juta. Tak lama ia menggeser kan tubuhnya tangannya memegang baju yang berwarna pink soft, sangat cantik. Tak lama kemudian matanya terbelalak melihat harga yang tertera di sana.


"Delapan puluh lima juta,"


Gumamnya lirih, menggeleng tak percaya. Ia melirik ke arah David, pria itu asik dengan ponselnya. Padahal David dari tadi melihat Zoya yang kesana kemari memilih baju.


"Tuan kita pulang saja, bajunya tak ada yang muat dengan saya, terlalu besar."


"Kau yakin, tak ada yang kecil,"


"Iya.."


"Banyak nona, yang anda pegang tadi itu pas buat anda. Apalagi warnanya juga serasi dengan kulit anda yang putih."


Zoya menggelengkan kepalanya, tak mungkin ia membeli baju yang harganya selangit. Sampai kapanpun ia tak akan mampu.