
Bastian melangkah lesu masuk ke dalam rumah mewah nya. Ia pikir Almira tak akan di miliki oleh orang lain. Semenjak sekolah menengah pertama, ia sudah mempunyai rasa pada sahabatnya itu. Cinta pertama nya wanita yang mencuri hatinya, ia tak pernah menganggap Almira sebagai sahabat nya. Tapi ia menganggap Almira sebagai wanita nya, wanita yang sepenuh hati di cintai nya itu. Dan sekarang Almira sudah menikah dengan orang lain.
"Boy, apa keputusan mu. Daddy berharap kau mau pergi, sayang."
Bastian menatap kedua orang tuanya, tak lama ia menghembuskan nafasnya perlahan.
"Ya, aku akan pergi bersama daddy dan mommy."
Kedua orang tua nya tersenyum bahagia. Mereka pikir Bastian tak akan ikut pergi dengan mereka tapi ternyata putranya mau ikut dan melanjutkan sekolah nya di Amerika.
*
Aaron menggandeng tangan istrinya perlahan masuk ke dalam perusahaan miliknya. Ia tak bisa meninggalkan Almira di mension seorang diri, takut jika Almira akan pergi meninggalkan nya seperti waktu di mall. Meski itu mustahil, tapi Aaron tak mau membuat bodoh dirinya lagi.
"Sayang Om gendong ya.."
Almira menggelengkan kepalanya, tentu saja ia tak mau Aaron menggendong nya. Tapi Aaron tak menggubris ucapan istrinya, ia mengangkat tubuh kecil Almira dalam gendongan nya.
"Om malu,"
Bisik nya dan bersembunyi di dada bidang suaminya.
Cup...
"Kenapa malu sayang,"
Semua karyawan yang berpapasan dengan Aaron menunduk kan wajahnya. Tapi mata mereka melirik ke arah gadis yang berada di dalam gendongan tuannya. Aneh, dengan penampilan gadis yang berada dalam gendongan tuan nya. Siapa gadis itu, dan apa hubungannya dengan CEO perusahaan mereka.
Sedangkan Aaron tak perduli dengan pandangan para karyawan nya. Ia melangkah lebar menuju ke ruang pribadi nya berada.
"Apa kalian hanya ingin bergosip, keluar dari perusahaan ini."
Nathan menatap tajam mereka satu persatu. Ia tak suka mereka menatap tuannya aneh seperti itu. Apalagi menggosipkan tuannya, di belakangnya.
"Tidak tuan.."
Mereka membubarkan diri masing masing, tak ingin berakhir keluar dari perusahaan yang selama ini menggantungkan hidup mereka.
Sampai di ruang pribadi nya, Aaron mendudukkan Almira di sofa empuk di ruang pribadi nya.
"Sayang duduk di sini Ok"
Almira mengangguk mengiyakan, ia menatap ruang CEO yang sangat luas. Sedangkan Aaron sendiri beralih mendudukkan dirinya di kursi kebesaran nya. Mata tajam nya tak beralih menatap istrinya yang duduk anteng di sofa. Ia menggeleng, melihat Almira yang tak beranjak sedikit pun. Hingga dua jam lamanya Almira masih duduk di kursi di mana ia menurunkan nya tadi.
"Sayang sini,"
Almira berdiri mendekati suaminya, dan Aaron langsung mendudukan Almira di pangkuannya lagi.
"Al ingin pulang saja Om,"
Aaron menghembuskan nafas nya perlahan, biarkan ia egois kali ini. Yang penting Almira masih bersamanya. Apalagi Queen, wanita itu sepertinya tak mengindahkan peringatan nya.
"Apa Al tak suka, tapi Om benar benar tak ingin meninggalkan mu sayang."
"Kalau Al disini Om tidak kerja,"
Bibir Almira mencebik menatap suaminya. Dan Aaron yang yang melihat bibir istrinya langsung menyambarnya. ******* bibir Almira lembut, ia tak tahan melihat bibir istrinya yang menggemaskan.
Almira sendiri yang mendapatkan ciuman tiba tiba dari suaminya mendelik tajam. Mata bundar nya menatap wajah Aaron yang sangat dekat. Tak lama ia ikut memejamkan mata nya, membalas ciuman suaminya. Aaron sendiri yang merasakan Almira membalasnya, semakin bersemangat, memperdalam ciuman nya pada bibir Almira. Apalagi saat rasa panas menjalar di tubuhnya, hasrat kembali muncul seketika. Tidak, ia tak bisa menyakiti Almira lagi. Apalagi Almira pasti sangat shock saat ia menghujam miliknya.
Tak lama kemudian Aaron melepaskan bibirnya dari bibir Almira. Nafas nya memburu, menatap bibir Almira yang basah dan sedikit tebal.
Dan Almira sendiri bisa merasakan jika benda yang ia duduki mengembang sempurna.
"Apa Om menginginkan Al,"
Hah...
Cup...
Almira mengecup pipi Aaron dan meringis saat sadar apa yang ia lakukan. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Malu, dengan tingkah nya sendiri yang mencium Aaron.
"Istri Om pintar menggoda sekarang,"
Aaron terkekeh saat tangan kecil Almira mencubit pinggang nya. Ia tau Almira juga tak ingin ia tersiksa. Tapi ia lebih tersiksa lagi jika Almira meninggalkan nya.
"Apa masih sakit sayang?"
"Masih tapi tinggal sedikit,"
Aaron mengusap pipi Almira, tak lama ia beralih menatap layar laptop di depannya bersama Almira yang berada di pangkuannya. Ia membiarkan Almira tetap di pangkuannya. Hingga satu jam ia bisa mendengar dengkuran halus istrinya yang berada di dalam pelukan nya.
Tangan nya merogoh ponsel dan menelpon Nathan.
"Jangan biarkan Queen datang ke mension dan perusahaan,"
Aaron menutup ponsel miliknya, dan berdiri menggendong Almira yang berada di dalam pelukan nya. Ia terkekeh saat melihat Almira yang sering tidur di pangkuannya. Apa istrinya, masih lelah akibat kemarin malam bercinta dengan nya
"Maaf sayang, apapun yang terjadi aku tak akan melepaskan mu Al. Lebih baik kau menghukum ku, tapi jangan pergi dari ku. Aku tak akan membiarkan Queen menghancurkan pernikahan kita. Maaf karna kebodohan Om, kau yang tertekan sekarang, tapi percayalah hanya kamu yang Om cintai. Om sama sekali tak ada hubungannya dengan nya Al."
Aaron berbisik dan membaringkan tubuh Almira, ia Menatap wajah mungil di depannya. Mata bundar yang sudah membuatnya tergila-gila. Kemudian menyelimuti tubuh istrinya dan melepaskan hijab nya.
Mata Almira terbuka, ia mendengar apa yang suaminya katakan padanya. Ia terbangun saat Aaron membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Apa Al juga harus melawan wanita itu, Om juga tak ingin kehilangan Al. Dan wanita itu selalu datang mencari Om."
Almira bergumam sendiri, ia juga tak ingin wanita itu mengusik rumah tangga nya dengan suaminya. Ia sudah menerima pernikahan nya dengan Aaron. Ia tak ingin wanita lain menginginkan suaminya.
Sedangkan Aaron sendiri kembali mendudukkan dirinya di kursi kebesaran nya. Tersenyum lebar saat Almira membalas ciuman nya, ia yakin ia bisa mendapatkan Almira secara perlahan. Almira harus menjadi milik nya seutuhnya.