Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 23


Almira menjerit keras saat sadar jika Aaron tak berpakaian. Ia memukul Aron dan langsung berdiri berlari ke arah pintu. Ia tak percaya dengan teman daddy nya yang kurang ajar padanya. Jika dia tadi diam saja di peluk oleh nya, tapi tidak setelah sadar, melihat Aaron yang tak memakai pakaian.


"Apa Om mau memperkosa Al,?"


Jeritnya pada Aaron, ia bersandar di tembok dengan tubuh yang bergetar takut. Takut jika pria yang menjadi teman daddy nya memperkosa nya. Ia pikir dia pria yang baik seperti daddy nya yang memeluk putrinya.


"Tidak Al,.."


Aaron bangkit dan langsung menyambar kemeja dan celana bahan nya. Memakai nya dengan tergesa gesa. Ia juga mengutuk dirinya yang ceroboh dan juga bodoh. Tentu saja Almira akan menjerit ketakutan jika ia tak memakai pakaian.


Sedangkan Almira, tangan kecilnya membuka pintu dan keluar.


" Om jahat.."


Sambil mengusap air matanya Almira mencari keberadaan pintu keluar.


Sedangkan Aaron yang melihat Almira keluar dari kamar melototkan matanya. Ia melangkah lebar keluar dari kamar nya.


Hap...


" Jangan seperti ini sayang, maafkan Om. Om tidak melakukan apapun,"


Dada Aaron berdetak lebih kencang, ia sangat takut jika Almira membencinya dan meninggalkan. Baru saja beberapa jam yang lalu ia dan Almira sah menjadi suami istri, dan sekarang Almira berontak dan ingin pergi darinya.


"Maaf..."


Almira berbalik dan menatap wajah Aaron. Matanya yang bundar dan besar terlihat bengkak. Apalagi hidungnya yang kecil juga terlihat memerah. Ia melepaskan tangan Aaron dari pinggang ramping nya. Menatap tak percaya pada pria dewasa yang membawanya kemari. Bukankah dia teman daddy nya, lalu kenapa dia melakukan hal seperti ini padanya.


Melihat Almira yang diam dan segukan, Aaron membenarkan jilbab simpel yang di pakai Almira.


"Jangan menangis sayang, lihat kau masih berpakaian. Bahkan jilbab mu masih ada dan belum lepas....Maafkan Om."


Almira menatap Aaron dengan mata bulatnya. Ia baru sadar jika mungkin pria dewasa yang bersamanya ini memiliki tujuan tertentu. Jika tidak, kenapa ia membawanya kemari. Bukankah dia bisa mengantarkan nya pulang.


"Apa yang Om inginkan dari Al.? Apa Om bukan teman daddy.?"


Aaron menatap Almira dalam, ia menghembuskan nafasnya perlahan. Melihat mata Almira yang menatapnya tajam. Mata bundar itu sudah berani menatap tajam padanya. Ia mendengus mengumpat dirinya, kenapa dulu bisa menyukai ibunya dan kemudian tergila gila pada putrinya.


"Istri ku, Om menginginkan istri ku."


Almira mengerutkan keningnya mendengar jawaban Aaron padanya. Mata bundarnya bergerak memikirkan sesuatu. Dan Aaron yang melihat mata itu bergerak, seketika jadi gemas. Ingin sekali ia menimang Almira seperti boneka yang pernah ia lihat jika di baringkan akan berkedip seperti bola mata Almira.


"Om punya istri,?" Aaron mengangguk mengiyakan.


"Om antar Al pulang, Al ingin pulang. Al tidak mau di sini. Al tidak mau bertemu dengan Tante."


Aaron mengerutkan keningnya mendengar penuturan Almira. Sedangkan Almira sendiri, ia takut jika istri Aaron akan melukainya dan memukulnya. Aaron tersenyum tipis, tentu saja Almira tak tau jika dia lah istrinya


"Baiklah, Om akan antar Al, tapi nanti kalau sudah siang Ok. Al tau jam berapa, di luar banyak penculik."


Ia lalu mengulurkan tangannya menyentuh tangan Almira dan membawanya kembali ke kamar. Tapi Almira menolak, ia tidak mau tidur di sana. Dan Aaron terpaksa mengiyakan permintaan Almira jika ia ingin tidur di sofa.


*


David menurunkan kakinya keluar dari mobil dan melangkah lebar menuju kamar hotel dimana Almira berada. Di belakangnya Rey mengikuti majikannya yang akan menjemput nona mudanya.


Hotel tempat Aaron menginap, dimana Almira juga berada di sana dengan Aaron yang telah membawanya.


David tak tau jika Aaron malam ini sudah menjadi menantunya. Entah apa yang akan David lakukan jika mengetahui nya.


Sampai di depan pintu, Rey menatap wajah tuannya yang mengeras. Ia menempelkan kartu Access pintu hotel milik Aaron menginap. Ia berdoa semoga saja tak terjadi apa-apa di antara mereka berdua. Jika tuan Aaron menginginkan nona Almira, ia berharap dendam masa lalu terkubur.


David membuka kasar pintu dan menendangnya dengan kaki yang terbalut sepatu pantofel hitam miliknya.


Almira sendiri yang mendengar bunyi nyaring mengerjapkan matanya. Semalam ia minta tidur di sofa karna tak ingin tidur di kamar bersama Aaron. Tapi Almira tak tau jika setelah tidur Aaron menghampiri nya dan memeluk tubuh mungil nya.


"Dad..."


Almira bangkit dan beringsut mundur, saat melihat tatapan tajam mata David. Tubuhnya bergetar takut, ia tak pernah melihat David marah padanya. Apalagi sampai seperti ini, matanya menyalak tajam ke arah nya.


Melihat Almira yang ketakutan Aaron maju dan menyembunyikan tubuh Almira di belakangnya. Ia menatap tajam pada David yang berdiri di depannya. Sedangkan Nathan sendiri yang baru saja masuk ke dalam menghembuskan nafas nya perlahan.


Ia lupa jika David lah pemilik hotel tempatnya menginap, hingga dengan mudah membuka pintu kamar tuannya. Sedangkan Aaron sendiri tak tau jika hotel tempatnya menginap adalah milik David. Ia sudah menyerahkan semuanya pada Nathan dan tak tau jika hotel ini adalah milik David.


"Al pulang.."


David berseru pada putrinya, tapi tatapan mata tajam nya tak beralih pada Aaron. Pria brengsek yang sudah mengusik hidupnya. Menginginkan istrinya dan sekarang menginginkan putrinya.


Tak mendapati Almira berjalan mendekati nya, David berseru kembali.


"Al apa kau dengar daddy, pulang sekarang."


Almira masih tak beranjak, ia shock dengan semua ini. David tak pernah menunjukan wajah datar dan seramnya padanya, selain wajah penuh kasih sayang. Dan ia takut pada David.


Sementara Aaron mengeratkan giginya emosi. Ia tau jika Almira takut saat ini.


"Almira.."


Almira berjengit kaget dan Aaron langsung berbalik memeluk tubuh istrinya yang bergetar. Mata tajamnya menatap David dan tangan kanannya langsung mengarahkan senjatanya pada David yang berdiri di samping nya. Sedangkan tangan kirinya memeluk tubuh istrinya yang bergetar.


David tertawa renyah melihat keberanian Aaron padanya. Apalagi melihat putrinya yang diam saja di peluk oleh Aaron.


"Jangan bersikap seperti pahlawan tuan Aaron. Apa yang kau inginkan sebenarnya. Tak bisa mendapatkan istri ku, dan sekarang kau mengincar putriku. Kaulah pria paling brengsek yang pernah ku temui Aaron."


Ucapan David menggelegar di sudut ruangan, nafasnya memburu menahan emosi yang luar biasa karna pria brengsek seperti Aaron. Pria yang jauh lebih muda darinya sudah mengusik nya berkali kali. Apalagi sekarang dia dengan terang terangan menunjukan keberanian nya padanya.


Click...


David mengambil senjatanya dan menarik pelatuk nya lalu mengarahkan pada Aaron. Ia tersenyum miring pada pria yang dulu pernah mengancamnya dengan senjata milik nya. Dan hari ini ia melakukan hal yang sama. Menodongkan senjata api nya pada Aaron. Dia tak akan membiarkan Aaron mengambil sesuatu dari nya, baik istri atau pun putri nya.


Sedangkan kedua asisten mereka berdua panik, dan shock. Mereka berdua sama sama menodongkan senjatanya. Aaron dan David sama sama mengacungkan senjata api mereka masing-masing.


Wajah Almira pucat pasi, tubuhnya semakin bergetar, bulir bening jatuh dari matanya yang bundar dan besar.


"Tuan.."


David masih tak bergeming mendengar suara Reymond.


"Bawa Almira dari sini, Rey."


Aaron mengeraskan rahangnya mendengar penuturan David. Ia mengeratkan pelukannya pada istrinya. Matanya melirik Reymond yang berjalan ke arah nya. Ia lalu mengarahkan senjatanya pada Reymond.


"Jangan berani mendekat dan membawa istri ku, tuan. Atau peluruku yang akan menembus kepalamu."


Rey shock mendengar pengakuan Aaron. Sedangkan David, tak bisa menyembunyikan amarahnya yang memuncak.


Dor...Arkkk....


"****..."


.


.