Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 46


Keluar dari bandara Aaron membopong tubuh kecil Almira yang tertidur nyenyak. Ia sama sekali tak ingin membangun kan istrinya. Tubuhnya yang kecil membuat Aaron leluasa menggendong tubuh nya. Nathan yang berada di belakang nya membawa koper milik istri nya. Bukan baju melainkan boneka kesayangan nya yang tak bisa dia tinggal kan.


Di depan, mobil Mercedes Benz Exelero miliknya sudah terparkir di depan bandara. Seorang anak buahnya membawa kemari dan menjemput nya.


Aaron memasuki kursi belakang dengan Almira yang masih berada di dalam pelukan nya. Senyum nya tak menghilang dari bibir nya yang tebal dan seksi. Masih tak bosan menatap wajah cantik istri nya yang sama sekali tak terusik sedikit pun di dalam gendongan nya.


Hmm...


Suttt...


Aaron menepuk kembali punggung Almira, menidurkan istrinya kembali saat ia terusik. Pria yang duduk di kursi kemudi hanya melirik nya sekilas. Ia sendiri tak tau wajah dan rupa wanita seperti apa yang di nikahi oleh tuannya itu.


"Apa kau ingin aku mencongkel mata mu Mic."


Nathan melirik ke arah temannya ini, ia hanya menggelengkan kepalanya melihat jika temannya ini begitu berani mencuri pandang pada wanita tuannya. Mungkin saja karna dia penasaran, bagaimana mungkin tuannya tergila gila dengan wanita yang menjadi istri nya itu.


Sama seperti dirinya dulu, yang penasaran melihat wanita seperti apa yang biasa tuannya katakan, jika dia bukan pedofil saat ingin menikahinya. Dan ternyata, istri tuannya itu memang benar-benar sangat cantik. Pantas saja jika tuannya tak perduli dengan usia yang terpaut jauh. Tuannya tetap menikahi gadis impiannya, gadis belia yang tak sengaja di temuinya saat dia mengejar istri pria lain., dan itu adalah ibu dari wanita yang saat ini menjadi istrinya.


"Cinta memang buta.." Gumamnya dalam hati.


Aaron menatap Mension mewah milik nya yang berada di pusat kota. Ia tersenyum tipis bagaimana jika Mension mewah nya yang di dominasi dengan warna abu dan putih ini berubah menjadi warna pink.


Turun dari mobil dan berjalan membopong tubuh mungil istrinya naik ke atas di mana kamar nya berada.


Aaron membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya yang berwarna abu tua. Menyelimuti tubuh kecil Almira dengan selimut, kemudian berjalan menuju ke kamar mandi, membersihkan dirinya yang terasa lengket.


Almira mengerjapkan matanya saat mendengar suara gemericik air yang mengalir. Ia mendudukkan dirinya dan menatap di sekeliling nya. Mata bundar nya berkaca kaca saat melihat kamar mewah yang terasa asing baginya.


"Di mana Om Aaron, apa dia menjualku di sini."


Almira terisak menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya. Apa ia akan berakhir di kamar ini, kemana suaminya, dan kenapa dia tega meninggalkan nya lalu menjualnya.


Aaron yang keluar dari kamar mandi shock melihat istri kecilnya menangis. Ia melangkah lebar mendekati Almira yang menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.


"Sayang.."


Almira mendongak mendengar suara suami nya. Ia mengusap pipinya yang basah dan bangkit menubruk Aaron.


",Om... Jangan tinggalkan Al di sini.?"


Melingkarkan tangannya pada leher Aaron dan berdiri di atas ranjang, Almira memeluk erat tubuh telanjang Aaron yang hanya memakai kain selembar di bawah tubuhnya.


Tubuh Aaron sendiri menegang mendapatkan pelukan dari istrinya. Matanya terpejam dan melingkarkan tangannya pada pinggang kecil Almira.


"Tidak sayang, kita sudah sampai Al, ini kamar Om sayang."


Nafasnya memburu menahan hasrat yang timbul akibat pelukan Almira pada tubuh polos nya. Sedangkan Almira melepaskan pelukannya pada Aaron. Matanya yang bundar menoleh ke sana kemari, melihat kamar yang bernuansa abu dan hitam.


"Al..."


Erang Aaron, dan Almira mengerutkan dahi nya saat kakinya yang tak sengaja menyentuh sesuatu yang bergerak. Mata nya beralih menatap ke arah yang bergerak, ia menjerit keras saat melihat sesuatu yang menonjol.


"Om..... ada ular di sana.."


Aaron yang matanya tertutup seketika terbuka lebar mendengar jika jeritan istrinya yang mengatakan ada ular di kamar nya.


Aaron menoleh ke kiri dan kanan nya mencari keberadaan ular yang di katakan istrinya.


"Om, itu dia melilit paha Om," Seru Almira keras dan ketakutan.


Sedangkan Aaron sendiri yang menyadari apa yang di katakan istrinya, memejamkan matanya kembali. Ternyata milik nya yang di katakan ular oleh Almira.


"Om, nanti gigit cepat buang,?" Seru Almira lagi.


Sementara Aaron sendiri yang mendengar suara Almira bingung. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana cara nya menjelaskan pada Almira bahwa itu bukan ular yang melilit, tapi milik nya yang bangun.


"Al, ini bukan ular sayang." Aaron berkata lirih, tapi Almira bisa mendengar apa yang di katakan oleh Aaron. Ia bingung, jika bukan ular lalu. Tak lama kemudian Almira melototkan matanya saat menyadari sesuatu. Ia beringsut mundur dari Aaron dan menunduk.


"Al, sini tidak apa sayang,"


Tentu saja Almira tau apa yang baru saja ia pikirkan. Tapi ia tak menyangka akan seperti itu. Aaron menarik tangan Almira dan memeluknya. Ia mengusap kepalanya dan mencium nya.


"Tidak apa, Om tidak akan memaksa Al."


Almira mendongak menatap mata tajam Aaron yang menatapnya. Mata bundar nya melirik ke arah bawah melihat benda yang ia kira ular tadi.


"Maaf.."


Cup....


"Om akan menunggumu Al, hanya Al yang berhak saat ini."


Almira menatap wajah Aaron lagi, entah apa yang ia pikirkan jika Aaron akan menunggu nya sampai kapanpun. Tak lama ia mengangguk pada suaminya. Dan Aaron sendiri tersenyum tipis, ia mengangkat tubuh Almira berjalan ke arah walk in closet. Dan Almira sendiri menyembunyikan wajahnya malu dengan kejadian barusan. Mengira jika suami nya terlilit ular.


"Buka sayang,"


Almira mengangguk dan membuka lemari pakaian Aaron. Tangan kecil nya mengambil baju untuk suaminya. Masih dalam gendongan Aaron, Almira memilih baju dan mengeluarkan nya. Aaron sendiri mencium pipi Almira. Ia seperti mengasuh putri nya dan mengajarinya.


Tak lama kemudian Aaron menurunkan Almira kembali dan memakai baju yang Almira pilihan kan.


Almira sendiri menunduk, ia tak berani menoleh ke arah suaminya yang berganti pakaian.


"Apa Al mau mandi sayang, baju Al ada di sini.?" Almira mengangguk


"Om turun ke bawah dulu ya sayang."


" iya..."


Almira berlari kecil ke dalam kamar mandi, sementara Aaron sendiri keluar dari kamar miliknya. Berjalan lebar di tengah ruang keluarga semua pelayan dan penjaga berkumpul.


"Layani istri ku seperti kalian melayani ku dengan baik. Aku tak mau tau jika dia mengeluhkan salah satu di antara kalian. Aku tak segan segan menembak kepala kalian semua, mengerti."


"Mengerti tuan..."


Aaron berbalik ke arah ruang kerjanya, di ikuti oleh Nathan. Sedangkan para pelayan dan penjaga membubarkan diri masing masing.


.


.