Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode. 24


"Kau yakin Sa, jangan sampai kau salah mendengar Sa. Bisa jadi gosip nanti. Ada ada aja, mana ada wanita secantik Zoya itu di selingkuhi dengan suaminya. Kalaupun suaminya selingkuh dia yang kurang ajar. Bukan Zoya nya..."


"Nah itu dia Bu si pria itu, datang Bu Lastri. Dia membawa boneka untuk Almira. Apa Zoya duluan ya yang selingkuh. Sehingga suaminya menyelingkuhi nya, wajar kan Bu Lastri. Zoya itu cantik Lo, ga dandan aja dia cantik kan apa lagi dandan. Kerudung itu hanya kedok,"


"Iya benar kata Sasa Bu Lastri."


"Jangan sembarang ah.."


Ibu ibu kompleks mulai bergunjing dari satu ke yang lain nya. Sedangkan Zoya yang menjadi topik. Sedang menata hati nya.


" Bu Rita, Mas Bisma, wa'alaikum salam. Ayo masuk,"


Bibi Lili tersenyum menyambut kedatangan tamu nya. Dalam hati bertanya tanya untuk apa keluarga Bisma datang ke rumahnya. Apa lagi ibu Rita juga ikut.


Ia merasa ada yang ingin mereka niatkan datang ke sini. Bibi Lili gelisah, sebagai orang yang sudah tua. Sedikit nya ia tau, jika kedatangan mereka mempunyai niat.


" Zoya nya ada jeng"


"Ah ... Iya, ada akan saya panggil kan, Jeng. Tunggu sebentar.."


Rita hanya mengangguk mengiyakan, ia juga tersenyum tipis. Mungkin wanita itu kaget. Ini semua salah Bisma. Ingin melamar tapi mendadak begini. Tentu saja penghuni rumah kaget. Untung saja Zoya nya ada di rumah.


Lain dengan Bisma, pria dua puluh sembilan tahun itu gelisah di tempatnya duduk. Ia takut Zoya akan marah padanya. Secara ia tak memberitahukan bahwa ia akan datang melamarnya hari ini. Bisma takut jika Zoya menolaknya lebih dulu. Itu sebabnya ia ingin langsung datang ke rumah. Pasti Zoya tak akan menolaknya. Ia yakin, Zoya tak akan tega dengan ibunya.


Sedangkan bibi Lili meremas daster yang ia kenakan. Zoya pasti belum siap, ia tau siapa Zoya. Wanita itu hanya menganggap Bisma sebagai kakak, tidak lebih. Ia yakin itu. Dan bagaimana cara nya Zoya bisa menolak mereka. Semoga saja Zoya memiliki rasa yang sama dengan Bisma.


" Zoy.."


Zoya menolehkan wajahnya. Iya menggeser tubuhnya agar putrinya tak terusik lalu bangun.


"Ada apa bibi..?"


"Ada nak Bisma"


Zoya mengangguk, ia lalu merah jilbab simpel nya dan berjalan keluar kamar nya.


"Zoy..."


Zoya menautkan alisnya melihat wajah bibi Lili yang sepertinya bingung.


"Ada apa bi?"


"Nak Bisma datang bersama orang tuanya dan adiknya,"


Lanjutnya lirih, menatap mata bening Zoya. Mencari reaksi wanita cantik yang selama ini selalu mengurung diri dengan permasalahan rumah tangganya. Yang di timbulkan almarhum suaminya, Rangga.


Zoya mengangkat sebelah alisnya tersenyum. Bibinya itu aneh, ada tamu ko dia gugup dan bingung begitu. Tak lama ia menjawab oh saja. Lalu meninggalkan bibi Lili yang diam mematung. Tak lama ia juga menyusul Zoya.


Zoya datang membawa nampan berisi teh dan camilan. Ia mengeryitkan keningnya, melihat ada empat orang yang duduk di ruang tamu.


"Assalamualaikum Bunda dan Pi, assalamualaikum Arsy, dan mas Bisma."


"Waalaikumsalam salam"


Mereka menjawab serempak. Tak lama Zoya menurunkan nampannya dan duduk berhadapan dengan ibu Rita. Begitupun dengan bibi Lili, dan suaminya yang baru saja datang dari masjid.


"Ah ya maafkan saya pak Ridwan. Kedatangan kami kemari itu karna Bisma putra kami. Dia ingin menjadikan Zoya sebagai istri. Nak Zoya apa nak Zoya bersedia kami pinang dan menjadi istri anak kami Bisma."


Deg....


Zoya mematung di tempatnya duduk, keringat dingin meluncur bebas. Bayang bayang pernikahan nya dengan Rangga mengelilingi isi kepalanya. Ia menoleh pada bibi Lili yang berada di sampingnya.


Bibi Lili merasa iba pada Zoya. Ia mengusap lengan Zoya. Mencoba menenangkan nya.


"Bagaimana pak Ridwan?"


"Maaf sebelumnya tuan Ali, saya terserah nak Zoya. Anda sendiri tau jika Zoya wanita yang sederhana. Dia janda punya anak. Dan asal tuan Ali tau, Zoya bukanlah anak kandung kami. Tapi kami sudah menganggap Zoya seperti putri saya sendiri. Jadi nak Bisma saya tidak bisa memutuskan sendiri. Hanya Zoya yang bisa menjawabnya. Bagaimana mana Zoy?"


Semua diam menunggu jawaban Zoya. Sementara Zoya menunduk ia tak berani mengangkat wajahnya. Takut, Zoya sangat takut dengan sebuah ikatan pernikahan. Ia masih ingat bagaimana sang suami telah merendahkannya. Zoya masih takut terikat dengan orang lain. Ia masih nyaman dengan status nya menjadi single mom'.


"Zoy.."


Bibi Lili menyadarkan Zoya. Ia mengangkat wajahnya menatap orang yang selama ini telah menyayanginya dan juga putri nya Almira.


"Maaf jika saya menyela tuan?"


Bibir Zoya terkatup kembali mendengar nada bas dari depan pintu. Ia mengenal siapa pemilik suara itu. Ia lalu menoleh, David berdiri di depan pintu rumahnya bersama dengan Alex asistennya.


"Zoya tunangan saya, sebulan lagi kami akan menggelar acara pernikahan.?"


Semua mata memandang wajah berkarisma David. Apalagi Zoya yang shock dengan penuturan David. Calon istri, menggelar pernikahan. Apa maksudnya?


Begitupun dengan Bisma, pria itu mengepalkan tangannya mendengar jika pria ini adalah calon suami Zoya. Lalu kenapa Zoya tak pernah mengatakannya jika ia sudah miliki calon suami. Selama ini Zoya tak pernah menunjukan bahwa dia punya calon suami. Apalagi ia sendiri tau jika Zoya adalah wanita yang tak pernah dekat dengan pria manapun, selain dirinya tentunya.


Apakah pria itu hanya mengada ngada? Dan kenapa juga Zoya diam saja.?


"Nak Zoya sudah punya calon suami?"


Ibu Rita bertanya, ia sangat kecewa kenapa bukan putranya yang menjadi calon suami Zoya. Ia melirik ke arah putranya Bisma. Jelas saja dia sangat kecewa, sudah hampir dua tahun terakhir ini ia pikir hubungan antara kedua nya sangat dekat. Sehingga ketika Bisma bilang ingin meminang Zoya ia langsung setuju.


" Ibu bukan begitu maksudnya, tu_"


"Daddy"


Almira bangun mendengar suara berisik di ruang tamu. Ia memanggil orang yang di akuinya Daddy nya. Dan langsung berlari ke pangkuan David. David tersenyum lebar meraih tubuh mungil Almira. Mendudukan nya di pangkuannya.


Deg....


Dada Zoya bergemuruh hebat, kata katanya tercekat di tenggorokan nya. Apalagi Bisma, ia tau siapa David Aderson. Pria nomer satu di kota A.


David tersenyum dan memberondong wajah cantik dan mungil milik Almira. Entah apa yang ia rasakan saat memangku gadis kecil ini. David merasa sangat bersalah dengan gadis kecil ini. Mungkinkah dia pernah tak meminum susu nya. Ya David ingat saat Zoya meminta uang kerjanya di depan waktu itu. Mungkin Almira membutuhkan susu. Berapa berdosanya David terhadap Zoya dan putrinya.


.


.


Dukungannya jangan lupa beri hadiah dan VOTE 🥺🤧