
Aaron melangkah menuruni anak tangga, mata tajam nya mencari di mana ruang makan milik David.
"Sayang, Al.."
Almira mengerutkan keningnya saat mendengar suara seseorang memanggil namanya. Ia berdiri dan tak lama mendapati suaminya melangkah ke arah nya.
"Om kenapa teriak teriak,?"
Aaron meringis mendapat pelototan dari istrinya, mata itu benar benar sangat lucu. Sedangkan Arhas dan Asraf memutar bola matanya jengah. Aneh saja melihat pria dewasa seperti nya, terlihat bodoh dan seperti anak kecil.
Tak lama kemudian David dan Zoya datang begitu pun dengan Sinta. Aaron melirik ke arah David, yang menggandeng tangan Zoya ke meja makan. Dia juga menarik kursi untuk Zoya duduk.
Ia mendengus, dia pikir hanya dia yang bisa bersikap romantis dengan istrinya.
Tak lama Aaron mendudukkan dirinya di samping Almira, matanya tak berhenti melirik bibir istrinya yang sempat ia sesap tadi.
"Mas mas mau makan dengan apa.?"
"Ayam saja." David menjawab tenang, ia sama sekali tak menoleh ke arah Aaron. Dalam hati nya ia ingin mengusir Aaron dari sini, tak ingin satu meja dengan pria brengsek seperti nya. Entah kenapa ia tak bisa menerima kenyataan jika Aaron bagian dari keluarga nya.
"Sayang, satu piring saja sama om ya."
Uhukk... Uhukkk....
Zoya kaget mendengar David yang tersedak, ia memberikan minum pada suaminya dan langsung di sambut oleh David.
"****..."
David mengumpat dalam hati saat mendengar perhatian Aaron terhadap Almira. Sedangkan mata tajamnya menatap Aaron yang duduk tenang sambil menyuapkan makan pada mulutnya dan sesekali ia menyuapi Almira.
Aaron tak perduli dengan David yang menatapnya tajam. Ia sibuk dengan piring di depannya dan menyuapkan sendok pada Almira. Untung saja Almira tak menolak, rupanya gadis yang menjadi istrinya ini memang masih sangat polos dan lugu. Dia tak tau saja arti suapannya itu.
CK....
"Kau harus makan banyak mulai hari ini sayang, biar cepat tumbuh." Entah dari mana datangnya pikiran Aaron, ia bicara enteng tak tau saja jika mereka semua menatapnya tajam.
"Apa maksudmu.?" Emosi David kembali memuncak, mendengar penuturan Aaron.
"Mas,.."
David mendengus, mungkin saja lama lama ia akan terkena stroke gara gara pria brengsek yang menjadi menantunya ini. Sialan....
"Kakak tidak akan tumbuh lagi, Om saja yang terlalu besar."
Arhas menimpali ucapan Aaron, sedang sang adik mengangguk mengiyakan ucapan saudaranya itu.
Sinta menghela nafas, mereka sama sekali tak bisa akur sedikit pun, baru beberapa jam Aaron tinggal di rumah ini dan semuanya berubah tegang, semoga kedepannya lebih baik lagi.
*
Queen mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi. Ia datang ke perusahaan terbesar milik David. Ia harus bertemu dengan pria yang dulu menjadi Bosnya saat ia magang di kota B. Ia tersenyum kecut mengingat bagaimana ia bisa bertemu lagi dengan David di kota A. Ia pikir dunia memang sempit, pria yang dulunya juga sempat ia sukai itu memiliki putri ternyata, dan dia yang sudah merebut Aaron darinya.
"Aku tak akan membiarkan Aaron di rebut oleh wanita lain, dia milikku."
Queen berjalan menuju resepsionis, ia menanyakan di mana ruang CEO. Tapi sayang nya resepsionis bilang David tak masuk kantor hari ini.
Tak lam kemudian asisten nya menelponnya, ia mendesah kasar. Dira selalu merayunya jika ia harus mengikuti fashion show kali ini. Tapi ia tak bisa fokus, sebenarnya ia tak ingin mengecewakan Daddy dan mommy nya. Tapi ia sendiri masih shock dan tak percaya jika Aaron membuangnya seperti sampah.
Queen membayangkan bagaimana saat bertemu dengan Aaron. Mereka pasti akan berakhir dengan bercinta panas sampai beberapa kali. Bodoh nya Queen, harus nya ia tak membiarkan Aaron memakai pengaman saat bercinta dengan nya.
Nafas Queen memburu, ia menggelengkan kepalanya mengusir pikiran kotornya, mengingat bagaimana saat bercinta dengan Aaron.
Queen duduk gelisah di jok mobilnya, ia tak mungkin bertindak gila di mobil kan.
Hasrat yang sudah lama tak tersalurkan dengan lawan jenisnya, seketika melambung tinggi hanya dengan membayangkan milik Aaron.
"Ssstt.."
Queen mendesis di dalam mobil, ia memejamkan matanya, membayangkan saat mereka menyatu dengan Aaron.
Ahh...
Tok.. Tok...Tok..
Queen berjengit kaget, mengatur nafas nya yang masih memburu, ia menoleh ke arah samping. Terlihat pria yang mengetuk pintu mobilnya sedang mengintip ke dalam. Queen mengumpat dirinya sendiri, Kenapa ia bisa bertindak gila di dalam mobil. Hanya dengan membayangkan milik Aaron yang memasukinya, seketika hasratnya melambung dan ingin segera di puaskan.
Queen membuka kaca mobil nya, ia melihat senyum dari pria di depannya ini.
"Maaf nona, saya tak sengaja melihat anda masuk ke dalam mobil dan sudah cukup lama. Saya pikir anda dalam bahaya, sekali lagi saya minta maaf."
" Ya..."
Pria itu menyipitkan matanya saat matanya tak sengaja melihat kali segitiga berenda yang tergeletak di jok samping Queen. Ia yakin jika itu milik Queen. Tak lama ia tersenyum tipis, melirik ke arah Queen, terlihat keringat dan nafas yang masih memburu.
"Anda butuh bantuan nona,"
Queen berjengit mendengar nya, ia menatap tajam pada pria yang tersenyum padanya dan melirik kan matanya. Queen menoleh, seketika wajahnya memerah saat matanya menatap kain segitiga miliknya yang tergeletak di jok samping. Ia yakin pria ini mengejeknya, tak lama kemudian Queen menaikkan kaca mobil.
Dan menyalakan mobilnya, meninggalkan pria yang memergokinya berbuat mesum di dalam mobil.
"Queen, kau memang gila,"
Queen mengusap pipinya yang basah, ia kembali lagi ke rumah milik Omanya.
Sampai di kamar nya ia membaringkan tubuhnya dan mengambil sesuatu di balik bantal nya.
Hanya dengan cara ini gairah nya tersalurkan, benda yang sudah lama ia pergunakan memuaskan dirinya. Sebagai wanita dewasa tentu saja hasrat nya muncul dan ingin tersalurkan. Jauh sebelum ia bertemu dengan Aaron benda di tangan nya inilah yang terlebih dahulu mengoyak keperawanan nya.
Selama ini, ia sudah jarang sekali memakai benda di tangan nya. Jika ia menginginkannya, ia akan mendatangi Aaron di perusahaan dan Mension mewah Aaron.
Mereka tak pernah membuang waktu saat bertemu, tentu saja bercinta hingga beberapa kali.
Aaron yang notabene adalah pria hiperseks, dan Queen wanita yang sudah cukup dewasa yang menginginkan belaian pria, tentu saja tak menampik jika kebutuhan mereka adalah sama.
Hingga dua puluh menit berlalu Queen mengakhiri nya dengan lenguhan panjang.
Nafas Queen memburu, ia menggelengkan kepalanya tak mungkin ia harus memakai benda di tangan nya terus menerus. Ia sudah dewasa, tak hanya puas dengan ini tapi ia juga menginginkan bayi di rahim nya tumbuh.