
"Tuan tak ada racun yang terkandung dalam gelas nya tuan."
"Benarkah, aku sendiri sudah sehat Nat. Itu artinya tak ada penghianat di dalam mension."
Ucapnya pada Nathan di seberang telepon, ia sendiri saat ini sedang di ruang kerjanya. Ia juga sudah bolak balik memeriksa layar cctv yang terpasang di setiap sudut mension mewah nya melalui layar besar di ruang kerjanya.
"Tapi kenapa tuan sudah tiga hari ini selalu muntah di pagi hari, apa tuan alergi pagi." Jawab Nathan.
"Kau pikir aku apa hah.."
Tut..Tut...
Nathan berjengit kaget mendengar suara bentakan Aaron padanya. Bukankah benar apa yang di katakan nya.
"Kenapa akhir akhir ini tuan sensitif sekali padaku.?"
Keluh Nathan pada Mic yang duduk bersamanya. Sedangkan Mic sendiri tersenyum tipis, mendengar sahabat nya ini mengeluh padanya.
"Bukankah kau sudah tau dari dulu.?"
"Tapi akhir akhir ini dia lebih aneh" Jawabnya lagi.
"Ku pikir tuan Aaron semakin gila semenjak menikah dengan nyonya Almira. Bukan nyonya Almira yang selalu menyusahkan kita, tapi tuanlah yang selalu menyusahkan. Padahal harusnya nyonya Almira yang membuat kita susah dan repot mengingat dia masih kecil dan belia, bukannya tuan Aaron. Aku tak mengerti dengan nya, jika bukan tuan Aaron sudah tinggal kan dia."
Mic tertawa terbahak mendengar gerutuan Nathan. Baru kali ini ia melihat seorang Nathan mengeluhkan tuannya. Apalagi berbicara panjang lebar seperti ini padanya.
Sudah tiga hari Aaron tak masuk kerja, alasannya sakit dan takut jika terkena sinar matahari. Menurut Nathan itu adalah alasan yang sangat konyol dan aneh. Mana ada takut dengan matahari, bukan nya dari dulu dia hidup di bumi bukan di bulan.
Sementara Aaron sendiri mendengus mendengar perkataan Nathan. Dia pikir ia cacingan, ia juga tak berbohong saat mengatakan jika ia malas dan takut terkena sinar matahari. Dan Nathan tak percaya pada nya.
"Awas kau.." Umpatnya pada Nathan, tak lama kemudian Aaron keluar dari ruang kerjanya. Mencari keberadaan istri tercinta.
"Sayang, Al.."
Almira menurunkan sendok di tangan nya. Ia berdiri dan mendekati suaminya yang berteriak padanya.
"Om ada apa, kenapa teriak teriak.?"
Jawab Almira mendekati suaminya, ia lalu menggeret suaminya di meja makan. Ia tau jika Aaron belum makan sejak pagi, dan hari sudah semakin siang. Ia saja sudah tiga kali dan suaminya belum terlihat sama sekali makan.
"Kemana sayang.?"
"Om harus makan nanti Al suapi, ayo sini Om."
Aaron patuh ia mendudukkan dirinya di kursi makan bersama Almira di pangkuannya. Tak lama kemudian matanya terpejam, ia merasa perutnya seperti di aduk paksa saat melihat butiran putih di atas piring, dan itu terlihat menjijikkan di matanya.
"Sayang, jauhkan nasinya."
Almira lupa jika belakang ini suaminya alergi terhadap nasi. Ia menatap bersalah pada suaminya. Ia yakin jika suami nya menahan sesuatu.
"Bibi, jauhkan nasinya, dan ambilkan bubur jagung nya."
"Baik nyonya."
*
Aaron menatap bubur jagung di dalam mangkuk yang cukup besar. Ia lalu mendesah kasar, apa ini yang akan di makannya mulai sekarang.
Almira meniup bubur jagung di tangan nya. Tapi anehnya sendok itu tak masuk di mulut Aaron yang menunggu nya. Tapi masuk ke dalam mulut kecil yang meniup nya sendiri.
Pelayan sendiri yang melihat tingkah nyonya nya tersenyum geli. Bukankah bubur itu untuk tuan Aaron katanya, lalu kenapa yang makan nyonya nya dan tuan hanya beberapa sendok saja.
"Om masih mau.?"
Aaron menggelengkan kepalanya, ia melirik ke arah perut istrinya.
Kenapa istrinya banyak sekali makan....
Tak lama Almira benar benar menyuapi Aaron dengan bubur jagung di tangan nya. Hingga bubur dalam mangkuk habis tak tersisa.
Kemudian Aaron menggendong tubuh kecil Almira. Ia terkekeh saat merasakan berat badan Almira yang seperti nya naik.
"Sayang, seperti nya kau semakin berat."
"Benarkah, apa jika Al berat Om tak mau lagi menggendong Al."
Aaron tertawa terbahak bahak mendengar jawaban istrinya. Ia mendudukkan dirinya di atas sofa ruang keluarga. Sedangkan Almira sendiri turun dari pangkuan Aaron. Ia berjalan mengambil camilan milik nya.
Aaron sendiri menatap tak berkedip pada layar televisi berukuran besar. Tak lama kemudian ia merogoh ponsel nya di saku celananya. Menghubungi Nathan yang akan mengabulkan permintaan nya, ia yakin jika pria itu tak akan menolaknya.
"Carikan aku mangga muda dan masih segar sekarang."
Tut..Tut...
Almira mengerutkan keningnya mendengar suaminya berbicara lewat telepon, matanya melirik ke arah televisi yang menyala kemudian menggeleng kan kepalanya. Ia yakin jika suami nya ingin seperti yang ada di layar televisi.
Di sebrang telpon Nathan mengumpat Aaron berkali kali. Ia keluar dari ruang CEO milik Aaron dengan wajah masam nya.
"Nat kau mau kemana.?"
Mic mendengus saat Nathan mengabaikan nya dan meninggalkan nya. Ia sendiri juga bingung apa yang harus ia lakukan dan kerjakan di sini. Ia sama sekali tak tau dengan lembar kertas di tangan nya. Ia sama sekali tak paham dengan bisnis.
"Tuan memang benar benar gila."
*
Sementara Nathan menatap tuannya sengit, dua jam ia di kerjai oleh Aaron yang menginginkan mangga muda yang di ambil langsung dari pohonnya.
"Ini tuan.."
Aaron tersenyum lebar, ia menyambar plastik di tangan Nathan dan mengeluarkan isinya.
Krukkk..Krukk...
Hah...
Nathan shock melihat tuannya langsung menggigit buah mangga muda di tangan nya. Apalagi tak terlihat wajah asam sama sekali saat menggigit mangga di tangan nya.
"Tuan mangga nya belum di kupas."
"Kau ini kenapa, bukankah aku yang memakannya, kenapa kau yang protes.Terserah aku mau dengan kulit nya atau tidak."
Nathan langsung menutup mulutnya, ia menunduk dan pamit kembali lagi ke perusahaan milik Aaron. Entah kenapa belakangan ini Aaron sangat membuatnya emosi dengan tingkah nya yang menyebalkan. Tanpa pamit pada Aaron, Nathan pergi meninggalkan nya begitu saja.
"Huh, menyebalkan aku yang makan kenapa dia yang sewot, dan dia pergi sesuka hatinya tanpa ku suruh, awas saja."
Aaron menggerutu bibirnya, mengumpat Nathan yang tak menghormati dirinya sebagai atasan.
"Om memang harus di kupas dulu, apalagi itu masih muda, getahnya kan gatal Om."
"Sayang..."
"Bunda.."
.