Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2.94


Helena menatap wajah Aaron tak berkedip. Ia tak tau apa yang Aaron katakan, benarkah jika Aaron akan melakukan nya dengan nya.


Sedangkan Aaron sendiri melepaskan cengkraman tangannya pada dagu Helena. Ia berdiri dan berdecih melihat wajah Helena. Dan tak lama kemudian, Nathan datang bersama dengan dua pengawalnya dan langsung menarik tangan Helena berdiri.


"Aaron ada apa ini, lepaskan aku brengsek."


Helena berteriak keras saat tangan nya di seret paksa oleh dua orang yang berpakaian hitam. Ia menoleh pada Aaron, menunjukkan wajah memelas nya agar Aaron membantunya.


"Aaron, tolong aku."


Aaron tak menggubris nya, ia berjalan keluar lewat pintu belakang gedung Club. Mendekati mobil milik nya yang terparkir di belakang Club.


Nathan yang berjalan di belakang tuannya hanya menggelengkan kepalanya. Melihat tuannya yang sepertinya sedikit sempoyongan masuk ke dalam mobilnya. Ia mendengar tuannya mengumpat Nicholas dan Helena yang mencampur obat sialan itu kedalam minumannya.


"Kita pulang,"


Nathan mengangguk mengiyakan dan menginjak pedal gasnya melajukan mobilnya menuju mension Aaron.


"Bagaimana dengan tuan,?"


Tanya nya khawatir melihat wajah tuannya yang memerah. Ia yakin jika tuan nya sudah termakan dengan obat laknat itu.


"Aku bisa mengatasi nya,"


Aaron memejamkan matanya, tubuhnya terasa sangat panas apalagi milik nya juga sudah mulai bereaksi dan ingin segera di bebaskan.


"Sebelum kau menghancurkan ku, aku akan menghancurkan mu lebih dulu Nicholas."


Gumam Aaron, tangan nya melepaskan dasi dan melemparkannya. Ia juga melepaskan jas dan membuka kancing kemejanya.


Nathan yang melihatnya dari balik kaca hanya diam.


"Tuan,"


"Ku bilang cepat kembali ke mension bodoh,"


Teriaknya pada Nathan, nafas nya sudah memburu menahan hasrat birahinya. Nathan justru banyak bertanya padanya dan membuat nya semakin pusing. Nathan mengangguk ia menginjak pedal gasnya full menyalip mobil lainnya, tak perduli dengan umpatan pengendara lainnya. Ia harus segera membawa tuannya kembali ke mension mewah Galaxy.


Sampai di mension Aaron keluar dari mobil dan pergi ke dapur. Mata tajam nya mencari keberadaan tali yang biasa tersimpan di dapur. Sedangkan Nathan mengikuti nya dari belakang, tak mengerti apa yang akan di lakukan tuannya di dapur.


"Carikan aku tali.."


Nathan mengangguk dan mencari tali seperti yang tuannya ingin kan. Setelah menemukan apa yang di carinya, ia mengambil tali dan memberikan nya pada tuannya. Aaron sendiri menenggak air dalam teko dan mengguyur nya di atas kepalanya.


"Tuan apa yang ingin anda lakukan.?"


Nathan tak mengerti dengan tuannya, untuk apa tuannya membawa tali dan membawanya ke ruang kerjanya.


"Ikat aku,"


Nafasnya memburu menahan hasrat yang semakin memuncak. Sementara Nathan diam ia tau apa yang di maksud tuan nya, tapi ia masih berdiri mematung.


"Apa kau tuli Nathan, ikat aku,"


Nathan mengambil tali di tangan tuannya dan mengikatnya tuan nya. Nathan tau apa yang di inginkan tuan nya, ia mengikat tangan Aaron di belakang kursi dan mengikat kakinya.


"Tapi anda bisa mandi tuan,"


"Mereka mencampurkan tak sedikit, panggil Almira."


Nathan mengangguk dan pergi ke kamar tuannya. Memanggil nyonya Almira agar membantu tuan Aaron.


"Loh mana Om Aaron,?"


Tanya Almira saat mendapati asisten suaminya yang mengetuk pintu kamar nya.


"Tuan ada di ruang kerja nyonya, tuan butuh bantuan anda."


Almira mengangguk mengiyakan dan mengikuti langkah asisten suaminya. Ia tak tau apa yang di butuhkan oleh suaminya saat ini. Sampai di ruang kerja, ia justru bingung melihat Nathan yang berdiri di depan pintu.


"Ada apa..?"


Almira diam, ia shock mendengar penuturan Nathan padanya, suaminya meminum obat seperti itu. Memang nya mereka dari mana.? Meski ia tak tau apa obat yang di maksud Nathan. Tapi Nathan sudah mengatakan jika Aaron butuh bantuan nya dan jangan melepaskan ikatan nya. Apa obat itu sangat berbahaya.? Dan kenapa Nathan sampai mengikat suaminya, memang nya suaminya kenapa.?


"Nyonya,."


"Ya aku akan masuk."


Nathan mengangguk dan membuka pintu. Lalu menutup nya kembali pintu nya.


Sedangkan Almira sendiri yang melihat suaminya terikat di kursi langsung mendekati nya.


"By, kau kenapa..?"


"Jangan di lepas talinya sayang,"


Almira menatap tak mengerti, ia melihat Keringat bercucuran di tubuh suaminya, hingga membuat kemeja milik nya basah. Sedang kan Nathan dan suaminya mengatakan jangan di lepas talinya terus apa.?


"Sayang, tolong Om,"


Aaron menatap memelas pada Almira, matanya memerah menahan sesuatu yang ingin segera tersalurkan.


"Bagaimana,?" Tanya nya bingung.


"Lepaskan ikat pinggang Om dan keluarkan dia sayang. Dia ingin di manja Al."


"Hah..."


Almira shock, ia menatap wajah Aaron yang semakin memerah.


" Ko bisa by, kan Al belum bersih by." Ucap nya tak tau. Sedangkan Aaron semakin memejamkan matanya, nafasnya semakin memburu, ia tau jika Almira tak tau.


" Pakai mulut dan tangan sayang." Hibanya pada Almira.


"Hah.." Lagi lagi Almira berjengit dan tambah shock mendengar penuturan Aaron padanya. Ia bahkan menggelengkan kepalanya, menolak permintaan suaminya.


"Sayang,"


Aaron frustasi melihat gelengan kepala istrinya. Ia menatap memelas lagi pada Almira, agar membantunya.


"Sayang..Stt.."


Almira tambah tegang saat mendengar suara desisan Aaron. Tak lama ia mendekat dan melepaskan ikat pinggang milik Aaron. Gugup dan takut melihat mata Aaron yang memerah menatap nya.


Aaron sendiri yang mendapatkan sentuhan tangan istrinya pada milik nya memejamkan matanya. Nafasnya semakin memburu menahan hasrat birahinya yang semakin meningkat.


"Sayang..."


Desah Aaron saat miliknya di hisap oleh lidah Almira. Tubuhnya semakin mengejang mendapatkan sentuhan tangan dan bibir Almira.


Almira sendiri yang lelah hanya membantu dengan tangan nya. Ia menatap wajah Aaron yang berteriak dan mendesah karna sentuhan tangan nya. Hingga dua puluh menit kemudian Aaron benar benar sampai puncak nya dengan tangan Almira.


"By.."


Almira kaget saat melihat cairan kental milik suaminya keluar sangat banyak. Hampir saja ia memukul benda panjang itu yang membuat kaget dan hampir terjengkang.


Sedangkan Aaron sendiri, masih mengatur nafasnya yang memburu. Ia menunduk menatap wajah cantik Almira dengan mata yang sedikit buram.


"Sayang lagi.."


"Lagi.."


Teriak Almira pada Aaron, ini saja tangan nya masih pegal dan kesemutan, suaminya memintanya nya lagi.


"Sayang.."


Rengek Aaron pada Almira, dan Almira sendiri hanya bisa pasrah. Ia kembali menuruti keinginan suaminya. Hingga beberapa kali Aaron benar benar memuntahkan lahar miliknya. Aaron tak tau wajah Almira yang menahan emosi. Ia langsung memejamkan matanya saat tiga kali pelepasan ulah tangan dan bibir Almira.


"Awas kamu by.."