Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode. 47


Zoya membereskan baju miliknya yang akan ia bawa ke kota A. Ia sudah memutuskan akan mengikuti langkah sang suami. Ia ingin mengubah trauma berat yang ia alami dulu bersama almarhum suaminya.


"Sayang kau sudah siap?"


David bertanya pada Zoya, sambil mengusap rambutnya yang basah. Hari ini ia akan pergi ke kantor bersama Zoya. Mereka akan menyerahkan pada orang kepercayaan nya untuk mengelola hotel milik Zoya dan anak perusahaan miliknya.


"Aku harus ikut ya mas...?"


Zoya menunduk melihat tubuh polos suaminya. Ia masih malu dan belum terbiasa melihat tubuh polos David.


"Tentu saja, bukankah kau pemiliknya."


Zoya menatap wajah David, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Jadi benar Green hotel atas namanya.


David tersenyum, ia memeluk tubuh Zoya. Mencium kepala nya yang tertutup jilbab. Ia lalu berbisik...


" Itu adalah mas kawin pernikahan kita!"


Zoya masih tak bergeming, ia kaget sekaligus shock. David memberikan mas kawin padanya berupa hotel mewah di kota B.


" Apapun yang kumiliki, itu adalah milikmu.


Ayo bantu aku memakai baju!"


Zoya mengangguk dan mengambil baju David. Entah kenapa ia merasa David terlalu berlebihan padanya. Ia juga sedikit kikuk melihat tubuh telanjang David, yang hanya memakai handuk di bawah pusarnya.


"Mas, aku tak pantas mendapatkan nya."


"Lalu siapa yang pantas, istri ku hanya kamu. Jika kau tak pantas apa aku harus memberikan nya pada orang lain. Sementara aku menikahi AZZOYA."


Wajah Zoya bersemu merah, mendengar gombalan David padanya. Ia berpaling, lalu fokus menatap kancing kemeja David. Sementara David tersenyum tipis, ia tau Zoya malu. Terlihat dari wajah nya yang bersemu merah.


"Pagi mom'.."


"Pagi Bunda..."


David dan Zoya berbarengan menyapa wanita paruh baya, yang duduk di kursi makan bersama dengan putrinya.


"Al ko makannya di suap Oma sayang,"


"Biarkan saja Zoy, Bunda ingin dekat dengan cucu Bunda. Benar begitu sayang...?"


Almira mengangguk dan tersenyum lebar, mulutnya yang penuh dengan makanan yang di kunyah nya.


"Unda, Al mau di rumah sama Oma."


David mengangguk dan mengelus sayang kepala putrinya. Begitupun dengan Zoya, yang melabuhkan ciuman sayang seperti biasanya.


"Unda tadi Al mandi dengan Oma. Gak dengan mbak Lala,"


"Sayang..."


"Kau ini kenapa Zoy, Bunda hanya memandikannya. Lagi pula Lala tadi masih sibuk, jadi bunda yang memandikan cucu bunda."


"Bunda maaf, saya tidak akan mengulanginya lagi. Ma_"


"Ayo makan..?"


Sinta menyuruh Zoya duduk dan makan. Ia tau Zoya merasa tak enak padanya. Itu sebabnya ia ingin Zoya lebih terbuka lagi menjadi wanita. Zoya butuh teman, ia tau wanita seperti Zoya tak banyak bicara. Ia kasihan melihat wanita lemah lembut sepertinya, yang korban dari putranya sendiri.


Sementara Lala menunduk, ia takut jika tuannya akan memecatnya. Nyonya besar, tadi yang memaksa memandikan Almira.


"Tidak apa-apa, Zoya tidak akan memecat mu.?"


Zoya tersenyum pada Lala, pengasuh putrinya sebulan yang lalu. Mana mungkin ia memecat Lala. Gadis ini sudah membantunya banyak merawat putrinya. Lagi pula putrinya sudah nyaman dengan Lala. Zoya tak akan memecat Lala, ia juga ingat bagaimana dulu yang susahnya mencari pekerjaan. Banting tulang hanya demi sesuap nasi.


*


David melangkah menggandeng tangan Zoya. Ia tak perduli dengan tatapan pasang mata.


Zoya berhenti dan meminta David agar mengijinkan dirinya. Sementara David mengangguk dan mencium kening Zoya.


"Jangan terlalu lama sayang.."


Zoya mengangguk, sementara David melangkah lagi. Ia harus bertemu dengan orang kepercayaan nya. Orang yang membantunya mengelola perusahaan anak cabang miliknya di sini.


Zoya melangkah menuju ruang pemasaran. Ia ingin bertemu dengan Nancy. Zoya ingin berbicara pada Nancy, jika ia punya salah maka ia akan meminta maaf. Tak lama ia bertemu salah satu karyawan di divisi itu dan memintanya untuk menunjukan dimana meja Nancy berada.


"Nancy, nona Zoya mencari mu!"


Nancy mendongak, ia melirik kedatangan wanita berhijab itu. Tangan nya terkepal erat, melihat perubahan Zoya akhir akhir ini. Tentu saja ia merasa iri, Zoya sudah menggesernya dari sekertaris CEO menjadi karyawan biasa.


"Kau, mau apa datang mencari ku?"


Nancy bangkit dan langsung mengucapkan kata kata sarkas nya.


"Aku tau, kau memang seharusnya sadar diri jauh jauh hari nona. Kau memang tidak pantas berada di samping tuan David....


Kenapa, tuan David sudah tau jika kau memanfaatkan nya. Nona Zoya, kau terlalu berani datang kemari. Pergi dari sini sebelum aku melaporkan mu pada tuan David."


Banyak karyawan yang melihat ke arahnya. Mereka bingung, kenapa Nancy memaki istri dari CEO perusahaan mereka. Ada apa? Kenapa Nancy begitu marah dengan nona Zoya.? Apa karna dia yang sudah tak menjadi sekertaris.?


"Kenapa kau diam di situ saja, seret dia dari sini!"


Nancy berang melihat teman nya hanya menatap mereka berdua. Sedangkan Zoya menggelengkan kepalanya. Kenapa wanita ini begitu membencinya. Apa hanya karna dia yang tak menjadi sekertaris lagi. Itu bukan salahnya, jika CEO menggantikannya.


Nancy menghampiri Zoya, ia benci melihat wajah sok polos Zoya. Gara gara dia ia tak menjadi sekertaris lagi.


Nancy melayangkan tangan nya pada Zoya. Tapi sebelum tangan itu menyentuh pipinya. Zoya lebih dulu men cekal tangan Nancy.


"Kau..."


Nancy melotot tajam pada Zoya, dari mana wanita ini punya keberanian melawannya.


"Maaf nona Nancy, anda salah paham. Jika nona mengira aku yang telah membuatmu berakhir di sini, anda salah. Tuan David sendiri yang memindahkan nona kemari."


Zoya melepaskan cekalan tangannya. Sementara Nancy, wajah nya merah padam mendengar Zoya yang berkelit membela diri.


"Jangan membual, semua ini gara gara kau, wanita sialan.."


Nancy berteriak keras pada Zoya. Ia meluapkan emosinya pada perempuan janda yang di bencinya itu.


"Nona tuan David memanggil anda!"


Queen datang mengagetkan mereka bertiga. Queen sendiri juga shock, ternyata tak hanya dirinya yang tidak menyukai istri tuan David. Tapi wanita cantik ini juga.


Bukankah dia dulunya sekertaris CEO. Dan sebulan yang lalu dia di pindahkan kemari.


Tak lama kemudian Queen mengerti, kenapa wanita itu sampai berteriak pada istri CEO mereka. Rupanya ia tak terima dirinya di pindahkan kemari.


"Iya, terimakasih."


Zoya hendak berbalik, tapi lengannya di cekal oleh Nancy. Dan Nancy mendorong nya, hingga ia tersungkur.


Brukk...


Zoya meringis, ia lalu mengusap keningnya yang mengeluarkan darah. Sementara Queen dan karyawan yang melihatnya shock. Mereka berdua membantu Zoya berdiri. Mereka tak menyangka Nancy akan berbuat nekat seperti ini. Apalagi Zoya adalah istri CEO mereka.


"Kenapa kalian membantunya, dengar.. Zoya adalah wanita murahan yang sudah menjebak tuan David agar menikahinya. Dia itu wanita murahan yang mencoba menjebak tuan Da_"


Plakk...


.


.