Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode.77


Erick melarikan Rania ke rumah sakit, sementara istrinya masih di rumah yang pingsan. Dokter dengan sigap membawa Rania ke ruang operasi. Ia mengerutkan keningnya melihat Rania di dorong ke sana. Apa Rania separah itu, apa dokter akan membedah kakinya lagi.


Sementara di dalam ruang operasi, David duduk dengan tenang.


"Tuan..."


"Aku tidak akan keluar sebelum melihat dengan mata kepala ku sendiri.!"


Dokter mengangguk mengerti, tak lama kemudian lampu ruang operasi menyala. Sedangkan David mengeraskan rahangnya saat mengingat ia bercinta dengan ****** itu.


"Kau pikir, aku akan membiarkan benihku tumbuh di rahim mu, jangan bermimpi Rania."


Ya Rania menjalani pengangkatan rahim, akibat kesalahannya, ia akan menyesali seumur hidupnya telah bermain api. Mana mungkin David akan membiarkan benihnya tumbuh di rahim Rania. Hanya Zoya, David ingin Zoya yang mengandung anak anaknya. Bukan wanita lainnya apalagi ****** di depannya ini.


Satu jam berlalu David pergi meninggalkan ruang operasi. Setelah dokter mengatakan jika operasi nya berhasil.


*


Zoya menatap kosong jauh ke depan, ia menghembuskan nafasnya perlahan. Air matanya juga tak berhenti mengalir.


" Sayang maafkan aku,"


Zoya menegang di tempatnya berdiri. Ia justru segukan merasakan hangatnya pelukan David dari belakang.


"Mas..."


"Ku mohon, jangan tinggalkan aku Zoya. Aku tak sengaja melakukannya. Aku siap kau hukum, tapi jangan tinggalkan aku. Aku tak bisa hidup tanpamu, AZZOYA."


Zoya berbalik menatap wajah suaminya yang sembab.


"Kenapa kau lakukan ini?"


"Percayalah padaku sayang, aku di jebak. Aku tak ingat apa yang ku lakukan Zoya."


David memeluk tubuh ringkih Zoya, ia mengeratkan pelukannya. Ia tak ingin Zoya pergi dari nya.


"Kenapa kau jahat padaku. Kau meniduri wanita lain di depanku." Zoya menangis di pelukan suaminya, entah kenapa ia merasa David sangat menyesal telah menyakiti nya. Lalu kenapa ia melakukannya, apalagi di depannya.


"Maaf..."


"Menikahlah dengan nya mas,"


Deg....


David mengeraskan rahangnya mendengar penuturan Zoya. Ia melepaskan pelukannya, dan melihat mata sembab Zoya.


"Aku tidak akan menikahinya,"


"Kau harus menikahinya mas, bagaimana jika dia hamil, dia anakmu mas."


"Anakku hanya dari mu."


David meninggalkan Zoya keluar. Sementara Zoya sendiri menghembuskan nafasnya perlahan.


"Kenapa mas David tak mau menikahinya. Siapa wanita yang bersama mas David sebenarnya. Kenapa mas David hanya ingin meniduri nya saja."


Ia mengusap pipinya yang basah, lalu berjalan mencari kemana suaminya pergi.


"Zoya..." Zoya menoleh, mendapati bundanya yang membawa tas branded nya.


"Bunda, mau kemana, ini sudah malam?"


"Maaf sayang, bunda mau ke butik. Ada klien bunda sayang."


"Tapi ini sudah malam bunda,"


"Bunda akan menginap di butik sayang. Oh ya maaf jika bunda baru memberi tahukan mu. Bunda mengundang Rania ke pesta kalian. Apa kau sempat bertemu dengannya?"


Nafas Zoya memburu mendengar penuturan bundanya. Mungkinkah wanita itu Rania, jadi benar mas David tak sengaja melakukannya. Dan mungkin saja Rania menjebak suaminya.


"Zoya..."


"Iya bunda..."


Sinta menggelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Zoya. Sedangkan Zoya sendiri, masih berdiri mematung. Tak lama kemudian ia mencari keberadaan suaminya. Jika benar wanita yang bersama suaminya Rania. Ia tak akan membiarkan wanita itu merebutnya kembali. Sudah cukup Rangga yang dia rebut. Pantas saja seseorang memukulnya, itu artinya dia sudah merencanakannya.


Zoya menghembuskan nafasnya perlahan saat mendapati suaminya sendiri di ruang kerjanya. Apalagi pria itu, memegang botol minuman keras. Ia mengedarkan pandangannya, di sini David menyetubuhinya hingga mereka kehilangan buah cintanya.


" Ada apa sayang...?"


"Apa mas David hanya ingin anak dariku?" David menatap Zoya lekat.


"Apa wanita yang bersama mas David adalah Rania.?" David menatap bersalah pada Zoya, matanya memanas mendengar Zoya mengatakan semua itu. Ia tau pasti Zoya sangat sakit. Dulu Rangga, dan sekarang dirinya. Pasti Zoya tidak akan memaafkannya.


Zoya tersenyum tipis, ia membuka resleting bajunya. Menurunkan gamis syar'i yang di kenakan nya. Sedangkan David masih menatap wajah Zoya.


"Jangan menggodaku, jika kau ingin meninggalkan ku Zoya. Sampai kapanpun aku tak akan membiarkan kau pergi dari ku."


"Aku ingin menghapus jejak wanita yang menyentuh suamiku."


Cup....


David masih berdiri kokoh tak bergeming sedikitpun. Apa yang Zoya lakukan saat ini, mengingatkannya saat ia menjamah tubuh Zoya hingga mereka kehilangan buah hatinya.


"Maafkan Zoya, tapi aku benar benar ingin menghapus jejak wanita lain di tubuh suamiku."


David menangkup wajah yang menunduk, lalu mengecup seluruh wajah istrinya.


"Aku mencintaimu Zoya.."


*


Sinta menatap benci wajah pria di depannya. Ya ia datang menemui Dewa dan wanita cantik di sampingnya ini. Sinta tak tau namanya, tapi sudah tak aneh jika Dewa menggandeng wanita cantik. Dia pasti mainannya.


" Beri tau David, aku membutuhkan nya sekarang."


"Lalu.."


"Aku akan menikahi Luna, dia mengandung anakku."


"Apa hubungannya dengan ku. Sayang sekali, kenapa hanya satu yang ingin kau nikahi. Bukankah lebih banyak lagi yang seperti mu nona."


"Sinta..."


"Dewa, Dewa, memang nya apa hubunganmu dengan ku, sehingga aku harus membantumu. Dan lagi kau mau mengatakan jika dia adik David, begitu. Nona, kau pikir dengan kau hamil akan bebas masuk ke dalam rumahku begitu."


Luna mengepalkan tangannya mendengar penuturan wanita paruh baya di depannya. Matanya menatap tajam pada Sinta. Dan


Sinta hanya menggelengkan kepalanya, ia lalu berdiri tapi Dewa mencegahnya.


"Kumohon Sinta, bantu aku. Aku tak akan mengganggu kalian lagi. Aku akan pergi dari sini."


"Kau pikir aku akan memberikan uang ku pada wanita mu itu. Maaf nona, uang seribu rupiah pun lebih berharga dari tubuhmu. Jadi kenapa aku harus memberikannya padamu."


"Sinta..."


Plak...


Dewa menatap bersalah pada mantan istrinya. Kenapa Sinta harus memancingnya. Sedangkan Luna menipiskan bibir nya, melihat Dewa menampar wajah mantan istrinya.


Plakk...


Luna shock melihat wanita itu menampar Dewa. Sementara Dewa, ia juga tak menyangka Sinta balas menampar nya.


"Kau pikir aku akan diam saja kau perlakukan seperti ini. Ingat Dewa, kita tidak ada hubungan apapun. Jangan macam-macam padaku, kalau kau tak mau berakhir di penjara."


"Sinta, aku tak pernah menceraikan mu."


Sinta mengeraskan rahangnya mendengar ucapan Dewa.


"Lalu, kau ingin mengajukan banding. Kau pikir anakku bodoh."


Sinta meninggalkan dua orang menjijikkan menurutnya. Ia menulikan pendengaran nya, tak perduli Dewa berteriak keras memanggil nama nya. Enak sekali dia mengancamnya dan David. Dia pikir dia siapa..?


Sementara Luna menatap wajah tua Dewa. Ia mengumpat, dalam hati. Ia pikir mantan istri Dewa akan mengakuinya. Ternyata wanita itu justru mengejeknya. Sialan,....


"Luna...Kau adik Rangga bukan?"


Luna menolehkan wajahnya dan matanya melotot mendapati pria yang menyapanya.


.


.