Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 72


David shock mendengar nya, giginya gemerutuk menahan emosi mendengar jika Aaron berani menghamili putrinya. Ia berbalik keluar dari kamar dan berteriak keras memanggil Aaron.


"Aaron, brengsek keluar kau.."


Suara David menggema di mension mewah Aaron. Ia masih belum terima jika Aaron benar benar menghamili putrinya.


"Tidak mungkin aku akan punya cucu dari pria tua itu, apalagi dia mantan rivalku. Pria brengsek, ku bunuh kau, sialan."


David mengumpat Aaron dan berjalan mencari keberadaan Aaron. Ia yakin jika Aaron masih berada di dapur.


"Tuan anda membutuhkan sesuatu..?"


Penjaga mendekati David, ia kaget saat mendengar suara teriakan tamu tuannya yang menggelegar di seluruh mension.


"Bukan urusanmu brengsek, di mana tuan mu."


Sarkasnya pada penjaga Aaron. Mata tajam David menyorot pada Aaron yang berjalan keluar dari arah dapur. Ia berjalan mendekati pria yang kurang ajar padanya.


Sementara Aaron sendiri keluar dari dapur bersama istrinya yang berada dalam gendongan. Ia berjalan mendekati David yang berteriak memanggil nya.


"Apa..?"


David menatap tajam pada pria brengsek di depannya ini. Giginya gemerutuk saat melihat Almira berada di dalam gendongan nya.


Cih....


"Beraninya, apa kau tak malu, selalu menggendong nya tapi menghamilinya."


Aaron mengerutkan keningnya mendengar penuturan David. Ia tak mengerti apa maksud pria yang berteriak keras di mension mewahnya.


"Kau menghamili putri ku brengsek, jangan pura pura bodoh.?"


Hah...


Aaron menatap wajah istrinya, ia menautkan kedua alisnya dan bertanya pada Almira.


"Sayang kau hamil..?"


Almira menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan suaminya. Dan Aaron menoleh pada David, pria tua yang menjadi mertuanya itu sangat tidak sopan menurut nya.


"Kau ini kenapa, jika istri ku hamil kenapa kau marah. Wajar saja jika dia hamil, aku selalu mengajarinya setiap malam." Sengit nya menatap David. Ingin sekali ia melemparkan David di kolam buayanya miliknya.


Dan David sendiri wajah nya merah padam mendengar pengakuan Aaron padanya. Pria brengsek di depannya ini sungguh tak punya rasa malu.


"Brengsek.."


"Mas kenapa kau berteriak,? Kita baru sampai kenapa kalian ribut terus. Tak bisakah kalian akur sebentar saja. Apa kau tak lelah dan tak ingin beristirahat mas.?"


"Kau bilang Almira hamil kan, dia sudah berani menghamili putri ku.?"


Almira beringsut turun dari gendongan Aaron. Ia menyentuh perut nya yang datar.


Dan Zoya menghembuskan nafasnya perlahan, ia menoleh pada Almira dan Aaron bergantian.


"Sebaiknya kau beli tespek atau ke dokter, aku hanya menebak saja jika Almira hamil saat melihat mu makan mangga muda."


Deg...


Dada Aaron berdetak lebih kencang, ia menatap wajah istrinya yang tersenyum lebar.


"Bunda, benarkah Al hamil."


Aaron langsung menggendong Almira keluar dari mension mewahnya. Ia tak perduli dengan David dan Zoya yang menatap nya. Ia harus memastikan jika apa yang di katakan Zoya adalah benar.


"Kau harus istirahat mas, jangan marah terus, ingat kesehatan mu."


Zoya buka pintu kamar tamu, ia tak ingin suami nya lelah, mereka berdua baru perjalanan jauh dan butuh istirahat. Apalagi Zoya tau bagaimana tubuh David. David mendengus, ia melepas sepatunya dan berbaring di samping Zoya. Tubuhnya memang gampang sekali lelah akibat kecelakaan yang menimpanya dulu.


*


"Om kita mau kemana.?"


Almira bertanya saat Aaron sudah mendudukkan dirinya di dalam mobil. Aaron sendiri tak menjawab, ia masih memikirkan apa yang di katakan Zoya adalah benar. Benarkah Almira hamil anaknya. Tak lama kemudian mobil melaju menuju ke rumah sakit.


Sampai di rumah sakit Aaron turun dan menggandeng tangan istrinya. Ia berjalan menuju ruangan Peter, dokter pribadinya.


"Om,.."


Almira berjalan terseok-seok mengikuti langkah lebar Aaron. Bibirnya mencebik saat Aaron baru sadar dan menggendongnya lagi.


"Maaf sayang..."


"Kita mau apa kesini,?"


"Kita akan periksa sayang, apa yang di bilang bunda benar atau tidak.?"


Almira beringsut turun dari gendongan Aaron. Ia menatap tajam pada suaminya. Dadanya bergemuruh saat menyadari jika Aaron pasti akan membuang bayinya jika ia benar hamil, bukankah kemarin suaminya tak ingin ia hamil.


"Sayang kenapa menangis,?"


Aaron kelabakan melihat mata cantik istri nya merebak. Ia memeluk tubuh kecil Almira tapi Almira berontak tak ingin di peluk.


"Om tidak ingin Al hamil, Al mau Baby nya."


Almira berteriak keras pada suaminya sambil menangis segukan. Ia tak perduli jika ada beberapa orang yang melihat nya. Almira marah pada suaminya yang membawanya ke dokter. Ia yakin jika suami tak ingin mempunyai Baby darinya.


Aaron shock mendengar teriakkan nyaring istrinya. Ia menggelengkan kepalanya, jika apa yang di katakan nya itu tak benar.


"Tidak sayang, kita pergi ke mari karna ingin melihat Baby nya, hmm"


Aaron mengusap pipi Almira, hatinya tersentuh saat Almira benar benar menginginkan anak dari nya. Padahal Almira bisa saja menolaknya dan mengejar mimpinya nya. Tapi istrinya justru menginginkan anak dalam waktu dekat.


Ia menggendong Almira lagi menuju ruang pribadi Peter.


Ia tak bisa membuat istrinya sedih seperti ini. Meski hatinya takut mengingat bagaimana tubuh kecil dengan perut buncit nya. Apalagi membayangkan nanti saat melahirkan, Almira pasti akan kesakitan. Tapi ia tak bisa melihat istrinya sedih. Ia tak bisa menolak keinginan istrinya.


Brakk..


Peter berjengit mendengar suara pintu yang terbuka lebar. Ia menatap pria yang masuk bersama seorang wanita di dalam gendongan nya.


"Periksa istri ku, apa dia hamil.?"


Peter tak percaya mendengar nya. Jadi benar wanita cantik yang masih belia ini adalah istri dari Aaron Kenan Galaxy.


"Apa kau mendengar ku brengsek."


Peter berjengit, kemudian mengangguk dan menelpon temannya.


"Tuan silahkan anda bawa nyonya ke ruang obgyn, saya sudah menelpon dokter spesialis kandungan untuk memeriksa istri anda, mari saya antar."


Aaron menggandeng tangan Almira lagi mengikuti langkah Peter. Dadanya semakin berdetak kencang, takut jika benar Almira hamil. Apa yang harus ia lakukan dan bagaimana ia tak tau.


"Salahku sendiri, kenapa tak membuangnya." Gumamnya dalam hati.


.