Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 19


Almira mengerjapkan matanya saat merasakan sesuatu yang basah dan kenyal menyentuh bibirnya. Apalagi tangan Aaron yang melingkar di pinggangnya ramping mengangkat tubuhnya.


Bastian sendiri sangat shock melihat Almira di cium oleh pria dewasa yang memeluk Almira. Tangannya terkepal erat melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika Almira diam saja. Tidak berontak dan tidak menghindar, apalagi menolak nya.


Sementara Aaron sendiri yang merasakan Almira tak berontak, ******* bibir bawah dan atas bergantian. Ia tau jika Almira baru berciuman dengan lawan jenisnya. Apalagi saat melihat mata bundar Almira yang terpejam. Aaron semakin berani memperdalam ciuman bibirnya.


Ya Almira yang baru saja merasakan sensasi aneh dan unik diam saja. Apalagi saat bibir nya di gigit pelan oleh Aaron. Ia memejamkan matanya menikmati sentuhan bibir tebal Aaron pada bibir nya.


"Almira..."


Almira berjengit kaget, sementara Aaron sendiri melepaskan bibirnya pada bibir Almira. Ia mengeraskan rahangnya mendengar suara nyaring Bastian yang memanggil Almira.


Almira berbalik dan wajahnya pucat pasi setelah sadar apa yang baru saja ia lakukan. Ia menunduk, tak berani mengangkat wajahnya. Menatap wajah teman-teman nya dan Bastian yang menatapnya. Ia sendiri juga bingung dengan dirinya tadi. Saat benda kenyal menempel di bibirnya dan menyesapnya bergantian.


Terlena, itulah yang di rasakan Almira saat ini. Rayuan pria dewasa yang membuatnya mabuk dan melayang. Apalagi ia tak pernah merasakan apa yang baru saja ia rasakan. Pikiran nya senang dan terbang sekaligus unik.


"Kak,..."


Wajah Bastian mengeras melihat pria dewasa yang menjulang di depannya ini menatapnya datar.


" Tidak apa apa sayang."


Aaron mengusap pipi Almira lembut. Ia tau sebentar lagi David dan Zoya pasti akan mengetahui nya. Memang dia sengaja, ia sudah tak sabar memiliki Almira. Dan David harus tau jika ia sungguh sungguh ingin mendapatkan Almira bukan istrinya.


"Apa yang Om lakukan,?"


Aaron acuh, ia masih menatap Almira yang menunduk. Tak mendengar perkataan Bastian, apalagi menoleh anak ingusan itu.


"Almira.."


Aaron berkata lembut dan penuh kasih sayang. Dan Almira mengangkat wajahnya menatap Aaron dan kemudian melirik Bastian dan teman temannya yang masih melihat ke arah dirinya.


"Al, kamu jadi Sugar Baby Om ini.?"


Salah satu teman nya mencetuskan apa yang ada di pikirannya. Sedangkan Almira tak tau apa itu Sugar Baby, ia hanya menggelengkan kepalanya.


"Ya, Almira milikku."


Aaron menatap Bastian dan langsung menarik lembut tangan Almira menuju mobil miliknya. Sementara Almira sendiri yang malu dengan teman temannya hanya patuh di tarik oleh Aaron. Belum sadar jika ia di ajak masuk ke mobil oleh Aaron.


Aaron mendudukkan Almira di jok samping miliknya dan menatap wajah Almira yang sedari tadi menunduk. Kemudian ia menutup pintu mobil lalu berbalik pada Almira.


Ia shock, saat melihat Almira yang menangis segukan di mobilnya. Ia ingin mendekat dan memeluk Almira menenangkan nya dengan mengusap punggung nya yang kecil. Tapi sebelum itu Almira beringsut mundur.


"Ada apa sayang..?"


"Om ngapain Al barusan..?" Tanyanya pada Aaron. Mata besarnya tak berhenti mengeluarkan air matanya. Ia juga sangat bersalah, atas apa yang mereka lakukan. Ia tak bisa menjaga diri dengan baik. Seperti kata daddy, jika harus menjaga dirinya dengan baik. Jangan jadi wanita murahan. Dan tadi Aaron sudah menyentuhnya.


Bastian sendiri yang melihat Almira di bawa oleh pria dewasa itu bertambah bergemuruh dadanya. Matanya memerah menahan sesuatu yang ingin meledak.


"Ada apa, dimana Al.?"


Qinan datang dari arah belakang mengagetkan mereka semua. Ia sendiri bingung, ada apa dengan mereka semua, kenapa terlihat tegang. Apalagi melihat wajah Bastian yang mengeras dan terlihat emosi, seketika membuatnya bertanya tanya. Ada apa sebenarnya, dan kemana Almira saat ini.


Tak lama kemudian ia menoleh ke arah pandangan mata mereka. Seketika matanya melotot, apa Almira di culik oleh mereka dan ada di dalam mobil silver itu.


"Bas, dimana Al..?"


Qinan menoleh pada teman wanitanya. Ia masih belum mengerti apa maksud nya.


"Kalau Sugar Daddy nya kayak gitu gue juga mau, tampan banget."


" Kalian ini kenapa sih,?"


"Tuh Al di bawa sama Sugar Daddy nya Qi, mereka berdua baru saja berciuman. Apalagi Sugar Daddy nya tampan banget Qi, aku juga mau lah Qi."


Qinan bingung, ia tak percaya dengan apa yang di dengar nya. Tapi saat melihat wajah Bastian yang memerah, ia yakin mereka tak bohong. Terus siapa yang di maksud mereka Sugar Daddy?.


Tak lama kemudian mereka semua melihat mobil berwarna silver itu melaju meninggalkan halaman sekolah.


Di dalam mobil Almira masih segukan. Aaron sendiri bingung ia menggeser tubuhnya pada Almira. Tapi Almira menjerit tak mau ia dekat dengan nya. Tentu saja saat sadar Almira tak ingin dekat dengan pria asing, apalagi dia adalah pria dewasa yang menciumnya tadi.


"Sayang jangan nangis, Ok. Al mau gak beli permen.?"


Nathan yang duduk di depan melototkan matanya mendengar kata tuannya. Apa tuannya itu benar benar bodoh. Merayu Almira dengan permen, yang benar saja. Jika tau dia anak kecil, kenapa harus mencemari otak polos nya dengan pikirannya yang mesum.


Mendengar pria di depannya ini menawari permen Almira menggeleng, ia hanya ingin pulang. Ia takut di culik dan di jual oleh pria dewasa ini. Bukankah kemarin wajahnya masih seperti monster. Dan saat ini wajah itu tak seperti monster lagi. Ia yakin dia mengganti wajahnya untuk menculiknya. Dan lagi sekarang ini ia sudah berada di dalam mobil yang melaju.


Aaron duduk gelisah di kursi jok mobil nya, ia tak ingin Almira takut padanya. Tangan nya terulur menyentuh tangan Almira yang sedingin es. Tapi Almira menyembunyikan tangan nya lagi.


"Sayang, dengarkan Om, bukankah kau tau jika Om teman daddy mu, hmm.."


"Om bukan penculik, Om tidak menculik Al.?"


Aaron menggeleng, ia lalu mendekat dan menyentuh tangan Almira lagi. Berharap gadis di sampingnya ini tak takut lagi padanya.


Ia bernafas lega saat Almira diam saat ia mendekat lagi dan menyentuh tangan mungilnya. Tangan nya benar benar tiga kali lipat kecilnya dari tangan nya yang besar.


Oh ya ampun Aaron, bagaimana mungkin kau menyukainya. Anak di bawah umur, dan lagi dia sangat kecil. Pantas saja Almira mengatakan jika dia monster.


"Apa Al mau makan,?" Almira menatap wajah Aaron. Ia meneliti wajah di depannya ini. Tak ada brewok yang tebal dan kumis yang hitam di wajahnya.


Aaron sendiri di tatap seperti itu oleh Almira tersenyum masam. Sudah Tampan begini apa Almira mau mengatakan jika dia seperti monster lagi.


"Om lapar..?"


Aaron langsung mengangguk mengiyakan saat Almira membuka mulutnya. Sedangkan Nathan yang duduk di depan kursi kemudi berdecak.


"Al juga mau makan Om.."


Senyum lebar di bibir tebal Aaron, mendengar penuturan Almira. Gadis imut nya ini memang harus di rayu dengan lembut ternyata. Ia mengangguk dan menggeser lagi tubuh besarnya, mendekat pada Almira yang duduk di pojok dekat pintu.


Sementara Bastian berjalan meninggalkan teman temannya dan Qinan. Ia menuju ke parkiran di mana motor besarnya berada. Merasa kecewa dengan Almira yang tak menolak pria dewasa itu. Membiarkan pria itu menyentuhnya, apalagi mencium bibir nya. Seketika membuat dadanya terbakar cemburu. Kenapa Almira bisa melakukan hal itu.


.


Plis dukung OTOR 😭😭 tega banget sih..🤦


.


.