Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 63


"Brengsek buka pintu nya,"


Queen berteriak keras pada penjaga gerbang yang tak membukakan pintu gerbang untuk nya.


"Maaf nona..."


Queen mengepalkan tangannya melihat penjaga yang berdiri dan sama sekali tak mau membuka pintu gerbang untuk nya.


Tak lama kemudian ponselnya berdering menampilkan nomor daddy nya.


"Ya Dad.."


Queen meremas ponsel di tangan nya. Mendengar perkataan Dirga di sebrang telpon.


"Maaf Dad,... Queen akan tetap menunggu Aaron."


Tut...Tut...


Queen menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dari daddy nya. Ia menoleh ke arah penjaga dan mengumpat nya.


"Brengsek..."


Ia berbalik dan masuk ke dalam mobilnya sendiri, kemudian menyalakan mobilnya pergi dari mension Aaron. Dadanya bergemuruh hebat menahan emosi yang memuncak pada gadis sialan itu. Aaron benar benar tak memberikannya celah sedikitpun. Pria itu benar benar tak ingin ia datang lagi ke mensionnya.


"Aku akan membalasmu gadis brengsek, Aaron milikku."


Aaron sangat tega padanya, dia sudah tak membutuhkan nya lagi. Apa dia sama sekali tak ingin bercinta dengan nya lagi. Tak lama Queen tertawa renyah, membayangkan bagaimana Aaron yang bercinta dengan gadis belia itu. Tubuhnya sama sekali tak menarik menurut nya.


"Aku yakin kau tak puas dengan tubuhnya Aaron."


Queen mengusap pipinya yang basah, sampai di depan apartemen nya, Queen memarkirkan mobilnya. Ia keluar dari mobil dan berjalan lesu sambil melamun masuk ke dalam gedung. Berjalan menuju lift dan menekan tombol di mana lantai apartemennya berada.


Dan saat pintu lift terbuka Queen di kejutkan dengan kedua orang tuanya.


"Queen..."


Queen menatap kedua orang tua nya yang tak jauh darinya. Ia keluar dari lift dan menatap tak percaya pada orang tuanya. Itu artinya mereka mau menjemputnya dan mengajaknya pulang. Queen berjalan mendekati mereka berdua yang menatapnya tak berkedip.


"Gak Dad Queen gak akan pulang ke Singapura atau pun Indonesia. Queen akan menunggu Aaron, dia pasti mencari Queen jika sudah bosan dengan nya dad."


Ucapnya sambil menangis di depan Dirga dan Cristi. Sedangkan Cristi sendiri mendekat dan memeluk tubuh putrinya.


Dirga dan Cristi tak tega melihat putrinya hancur seperti ini. Tapi mereka tak ingin mengusik Aaron dan David. Mereka berdua tak mau terjadi kesalahan fatal di kemudian hari seperti yang Erick dan keluarga nya terima. Mereka berdua tau siapa David tapi mereka tak tau siapa Aaron yang sebenarnya. Dan mereka takut jika David mengetahui rumah tangga putrinya di ganggu oleh Queen, pria itu pasti tak akan tinggal diam.


"Queen pulang lah ke Singapura bersama daddy dan mommy."


Queen menggelengkan kepalanya, tanda tak mau. Ia tak akan pernah pergi sebelum mendapatkan Aaron dan meminta pertanggungjawaban nya tentunya. Tak lama kemudian Queen membuka pintu apartemen nya. Ia tak mau menjadi pusat perhatian penghuni apartemen.


Dirga dan Cristi mengikuti langkah Queen masuk ke dalam apartemen Queen.


"Maaf mom, dad, Queen akan di sini. Butik Queen juga berada di sini, mengertilah."


Queen berjalan menuju kamar miliknya dan menutup pintu kamar nya rapat. Ia menangis di dalam kamar nya sendiri. Sedangkan Dirga dan Cristi hanya menatap nanar pada pintu kamar Queen.


"Mas bagaimana ini, aku tak tega melihat Queen hancur seperti ini."


Dirga diam, ia juga tak tega melihat putrinya yang seperti ini. Tapi apa yang bisa ia lakukan, ia tak mau hancur dan menderita nantinya. Bisnis nya tak seberapa di bandingkan dengan David dan Aaron. Ia pasti akan menjadi abu jika mengusik mereka berdua.


*


Aaron melangkah lebar masuk ke dalam mension mewah milik nya. Ia langsung berbelok ke ruang keluarga di mana istrinya sedang menonton film kesukaan nya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan saat melihat Almira baik baik saja dan tak menangis lagi.


"Sayang..."


Almira menoleh pada suaminya dan berdiri mengulurkan tangannya. Aaron sendiri menatap wajah Almira yang masih terlihat sembab.


"Al..."


"Om mau makan, ayo Al temenin, Al juga belum makan nunggu Om."


Potong Almira cepat, ia menarik tangan besar Aaron ke meja makan. Aaron sendiri menatap Almira tak berkedip. Ia tau istrinya masih marah padanya. Sampai di meja makan, Almira mengambil piring dan mengisinya.


"Sini sayang Om suapi."


Almira mengangguk dan duduk di pangkuan Aaron. Aaron tersenyum lebar, ia sadar jika ia menikahi gadis belia yang masih labil. Beruntung nya dia jika Almira tak marah berlarut-larut padanya.


Pelayan yang melihat pemandangan itu pun hanya menggelengkan kepalanya Tuannya memang seperti sedang merawat anak sendiri.


"Al sudah kenyang Om."


Aaron mengangguk dan menyudahi makannya. Tak lama ia menggendong Almira ke kamar mereka, meninggalkan meja makan dan pelayan.


Almira sendiri mengalungkan tangannya pada leher suaminya dan berbisik.


"Maaf,"


Aaron memeluk tubuh kecil Almira, ia mengusap kepala nya dan mengecup pipinya.


"Harusnya Om yang minta maaf sayang, Om yang salah kali ini."


Almira mengeratkan pelukannya pada suaminya. Entah datang nya dari mana pikiran nya jika ia hamil wanita itu tak akan mengganggu suaminya. Almira sudah nyaman bersama Aaron dan ia tak ingin wanita itu datang merebut Aaron darinya.


"Apa wanita itu tak datang ambil Hubby dari Al.?"


Aaron menghentikan langkahnya mendengar kata asing yang keluar dari bibir mungil istrinya. Ia menatap wajah Almira di gendongan nya.


"Al bilang apa sayang,?"


Almira menatap wajah suaminya, ia menunduk di tatap intens oleh Aaron dengan mata tajamnya.


"Al tidak mau wanita itu datang kemari terus."


"Bukan itu sayang.."


Almira mendongak, matanya berkedip memikirkan yang mana yang di maksud suaminya.


Dan itu membuat Aaron gemas dengan mata besarnya yang mengedip terlihat lucu di matanya.


"Al lupa.."


Cup...


Aaron tak tahan melihat Almira yang lucu dan menggemaskan di matanya. Mana mungkin ia akan membiarkan Queen merusak rumah tangga nya dengan wanita yang paling di cintai nya itu. Sampai matipun ia tak akan pernah membiarkan Queen, mengusik ke bahagian nya.


Almira gelagapan mendapatkan ciuman panas Aaron tiba tiba, tangan kecil nya memukul lengan Aaron.


Sedangkan Aaron memejamkan matanya saat tangan Almira mengenai lukanya. Ia lalu melepaskan bibirnya dari bibir Almira.


Ia tertawa saat melihat bibir Almira mencebik.


"Kau menggemaskan sayang,"


"Om, tangan Om berdarah."


Almira menjerit saat melihat darah di lengan suaminya. Dan Aaron memejamkan matanya, mendengar lengkingan nyaring istrinya.


"Kenapa harus berdarah brengsek." Aaron bergumam dalam hati. Ia tak ingin melihat Almira mengawatirkan dirinya.


"Tidak apa-apa sayang,"


Almira beringsut turun dari gendongan Aaron dan berlari ke dapur lagi.


"Sayang, jangan berlari Om tidak apa-apa,?"


Teriak Aaron mengikuti langkah Almira yang berlari ke arah dapur dengan langkah lebarnya. Ia tak ingin Almira jatuh dan terluka. Apalagi melihat baju yang di kenakan nya, dan itu bisa saja terjadi.


"Bibi, Al mau kotak obat."


"Ya nyonya..."


Pelayan mencarikan apa yang di inginkan nyonya nya.


"Sayang Om tidak apa-apa Al,"


Almira tak mendengar, ia mengambil kotak obat di tangan pelayan dan beralih pada suaminya.


.


.