
David menatap punggung ibunya nanar, saat ini ia dan Zoya sedang mengantarkan ibunya sampai bandara. Sinta tak mau di antar sampai ke tempat tujuan.
Zoya menoleh ke arah suaminya, ia yakin suaminya sangat sedih bunda memilih pergi ke sana di banding dengan mereka.
Zoya menyentuh tangan David, mengelusnya mengatakan jika bunda tidak marah dengan nya.
"Zoy..."
Zoya berbalik begitu pun dengan David. Mereka berdua sama sama terkejut melihat Bimo ada bersama Rania.
Begitupun dengan Rania dan keluarga nya. Mereka terkejut kenapa Bimo mengenal Zoya. Rania menatap wajah Bimo yang seperti terlihat kecewa.
"Kau mengenalnya...?" Rania menatap heran pada Bimo.
"Ya Zoya adalah tetangga saya, nona." Jawab Bimo singkat lalu ia mendekat ke arah Zoya.
"Turunkan pandangan mu dari istri ku.!" David mengepalkan tangannya melihat mata Bimo tak berkedip menatap Zoya.
"Maaf tuan saya hanya ingin menyapanya saja." Lalu beralih menatap wajah Zoya.
"Apa kabar Zoy...?"
"Baik kak, kakak sendiri sedang apa di disini.?"
Bimo tersenyum mendengarnya, ia lalu menoleh ke belakang. Melihat Rania dan keluarga, ia lalu tersenyum. Mereka pasti tak percaya jika ia mengenal Zoya. Bisa saja mereka menuduhnya jika ia adalah mata mata David, hingga membuat mereka jatuh miskin.
"Mereka adalah majikan ku, kami akan pindah karna seseorang telah menghancurkan nya."
Gigi David gemerutuk mendengarnya. ia menatap tajam Bimo yang tersenyum miring ke arahnya. Sementara Zoya sendiri, ia menghembuskan nafasnya perlahan. Dan berjalan ke arah Rania. Wanita yang di buat cacat oleh suaminya karna ambisinya.
"Sayang..." David mengikuti langkah istrinya, ia tak ingin Erick menyakiti Zoya. Apalagi Zoya sedang hamil, jangan sampai tiba tiba Rania mendorong istrinya.
"Apa kabar tuan, nyonya.?"
Erick menatap tajam pada Zoya, wanita berkerudung inilah yang membuat keluarga nya hancur.
" Tak perlu berbasa basi bersama kami nona. Keluarga ku hancur karna ulah suami mu yang brengsek itu." Erick merasa geram dengan wanita di depannya ini. Sedangkan David mengepalkan tangannya, ia tak ingin membuat ribut di sini.
"Jangan menyalahkan suamiku tuan, putri mu sendiri yang memulainya. Saya tau suamiku bersalah, tapi putrimulah yang membuatnya marah pada mu." Jawab Zoya dengan tenang.
"Ku pikir kau wanita yang pendiam nona," David mengeraskan rahangnya mendengar ucapan Erick lagi. Jika istrinya tak memegang tangan nya, ia pasti sudah melayangkan kepalan tangannya.
"Aku bisa diam jika putri mu tak lebih dulu ingin menghancurkan rumah tangga ku." Zoya beralih menatap wajah Rania. Ia lalu tersenyum kecut, membayangkan saat ia melihat Rania yang dengan liar nya bergerak naik turun di tubuh almarhum Rangga.
"Semoga dengan ini kau bisa lebih baik lagi nona. Jangan selalu ingin merebut milik orang lain. Itu semua yang akan membuatmu hancur sendiri. Assalamualaikum...."
Zoya berbalik dan menggandeng tangan David. Tak lupa ia menatap Bimo yang sedari tadi menatapnya.
"Kak Bimo, Zoya minta maaf."
Bimo menatap tak percaya pada wanita yang sangat di cintai nya itu. Sejak kapan Zoya menjadi banyak bicara. Sebelumnya, wanita itu sangat kalem dalam hal berbicara, apalagi terhadap orang tua. Bimo merasa Zoya banyak berubah sekarang. Wanita cantik yang ingin dia miliki sangat jauh berbeda dengan yang ia kenal dulu.
"Apa kau mata mata David, Bimo?,"
Bimo terkesiap mendengar nya, ia menatap wajah Erick dan keluarga kecilnya.
"Maaf tuan, jika saya adalah mata mata David. Seharusnya perusahaan anda tidak pernah bangkit saat jatuh dulu. Mari tuan, nanti kita akan terlambat."
"Ayo Rania..."
Rania berjengit mendengar teriakkan ibunya memanggilnya. Ia lalu melangkah menyusul mereka, ia tau sedari tadi ia menjadi pusat perhatian. Tentu saja, berjalan tak normal layaknya orang lain, dan menjadi pusat perhatian.
Bimo menatap iba pada Rania, ia lalu berjalan mendekati wanita yang berjalan tertatih. Ia menghampiri nya, dan menatap tajam pada orang yang memperhatikan Rania.
"Apa istri ku buronan, sehingga kalian semua menatapnya heran."
Tak hanya orang tua Rania yang kaget, Rania sendiri juga kaget mendengar nya.
"Maaf saya hanya tak ingin mereka mencibir anda nona." Rania mengangguk mengiyakan ucapan Bimo. Entah kenapa ia tak marah, Bimo melakukan itu. Justru ia malah senang.
Zoya mencari keberadaan suaminya, sepulang dari bandara ia tak melihat suaminya lagi. Entah kemana perginya dia.
"Sayang mau kemana,?"
Zoya berjengit mendengar teriakkan David, ia menoleh pada suaminya yang membawa banyak buah mangga di tangannya.
"Mas untuk apa mangga di ini,?"
Zoya menatap heran pada suaminya, dari mana juga suaminya mendapatkan mangga muda ini.
" Aku mengambilnya di belakang, bukankah biasanya wanita hamil akan makan mangga muda sayang, jadi aku mengambilnya tadi."
Zoya menghembuskan nafasnya perlahan, harus nya suaminya bertanya dulu jika ia tak suka mangga. Hamilpun ia tak menyukai buah yang satu ini.
"Maaf mas, tapi aku tak suka mangga." Zoya menunduk ia tak ingin melihat wajah kecewa suaminya. Sementara David sendiri terkekeh, ia lalu menggandeng tangan Zoya masuk ke dalam.
"Siapa yang ingin kau memakannya sayang. Aku hanya bilang biasanya wanita hamil suka dengan mangga."
Zoya tersenyum tipis, ia pikir suaminya akan marah jika ia menolak nya. Tapi kemudian ia menautkan kedua alisnya melihat David yang membawanya ke dapur. Tak lama kemudian suaminya mengambil satu buah mangga dan mencucinya.
"Mas untuk apa mengupasnya,?"
"Mas ingin sayang, sepertinya ini sangat segar." Zoya mengangguk mengerti, itu artinya suaminya yang menyidam.
Zoya meringis melihat David dengan lahap memakan mangga muda di depannya. Ia hanya bergidik saat membayangkan bagaimana asamnya mangga yang masuk ke dalam mulut.
"Kau tidak mau sayang,?" Zoya menggelengkan kepalanya. Rasanya aneh jika ia memakannya.
" Mas,.."
David mengerutkan keningnya mendengar suara mendayu milik istri nya. Ia menoleh wanita yang sedari tadi duduk di sampingnya. Dan saat itu juga bibir nya di sambar oleh Zoya. Tentu saja David terkesiap merasakan bibir Zoya **********. Tak hanya itu, tangan istrinya juga meraba raba di bawah sana. David melepaskan mangga di tangannya. Ia meraih tengkuk istrinya dan memperdalam ciumannya. Bunyi decapan lidah yang saling membelit terdengar di telinga anak yang baru saja mencari keberadaan bundanya.
Almira menatap ayah dan ibunya, bocah kecil itu tak mengalihkan pandangannya pada bibir yang menempel dan berbunyi.
Sementara David dan Zoya, mereka berdua sudah tak ingat di mana mereka berada. David sendiri mulai terbakar, tangan nya menurunkan resleting gaun Zoya di depan.
srekkkk...
Tangan nya masuk ke dalam dan meremas dua gundukan daging kenyal yang semakin membesar.
"Addy mau *****?"
David dan Zoya berjengit mendengar nya. Mereka sama-sama langsung menjauhkan tubuh mereka saat mendengar suara putrinya.